Kegagalan Makar Quraisy: Ketika Hujjah Tidak Lagi Mampu Dibantah

by -127 Views

Peristiwa ikhtibār an-nubuwwah mencapai puncaknya ketika seluruh pertanyaan yang diajukan kaum musyrik Quraisy berhasil dijawab oleh Rasulullah ﷺ melalui wahyu Allah. Kisah Ashabul Kahfi, Dzulqarnain, dan hakikat ruh menjadi bukti bahwa beliau benar-benar seorang nabi yang menerima petunjuk dari langit. 

Namun, kemenangan hujjah ternyata tidak serta-merta melahirkan keimanan. Sebaliknya, kegagalan menjatuhkan Rasulullah ﷺ melalui argumentasi justru mendorong para pemuka Quraisy beralih kepada intimidasi, pemboikotan, dan kekerasan.

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menggambarkan keadaan masyarakat Makkah sebagai masyarakat yang dipenuhi kesombongan, fanatisme, dan penolakan terhadap kebenaran. Ketika hujjah telah menyingkap kebatilan mereka, yang tersisa hanyalah mempertahankan gengsi dan kedudukan.

Fenomena ini telah dijelaskan Al-Qur’an:

﴿فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ﴾

“Sesungguhnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para pemuka Quraisy sebenarnya mengenal kejujuran Rasulullah ﷺ. Penolakan mereka bukan karena meragukan pribadi beliau, melainkan karena kesombongan yang membuat mereka enggan tunduk kepada kebenaran.

Dari sinilah tampak bahwa kekalahan intelektual sering kali menjadi awal munculnya penindasan fisik. Ketika hujjah tidak mampu dipatahkan, sebagian manusia memilih menggunakan kekuatan untuk mempertahankan kebatilannya.

Hidayah Tidak Selalu Mengikuti Bukti

Peristiwa ini mengajarkan bahwa tugas seorang dai adalah menyampaikan kebenaran dengan hujjah yang jelas, bukan memastikan semua orang menerimanya. Sebab, hidayah bukan semata persoalan kecerdasan akal, tetapi juga kesiapan hati.

Allah berfirman:

﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini menegaskan bahwa manusia hanya mampu menjelaskan jalan kebenaran, sedangkan kemampuan membuka hati sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.

Syaikh Muhammad al-Ghazali menjelaskan bahwa pengalaman, pengetahuan, dan kecerdasan tidak akan memberi manfaat apabila seseorang telah dikuasai hawa nafsu. Karena itu, seorang dai tidak boleh putus asa ketika menghadapi penolakan. Yang wajib dijaga adalah kejelasan hujjah, kemuliaan akhlak, dan kesabaran dalam berdakwah.

Sirah Nabi ﷺ menunjukkan bahwa setelah seluruh argumentasi disampaikan, beliau tidak membalas kebencian dengan kebencian. Sebaliknya, beliau tetap membuka pintu dialog selama masih ada harapan hadirnya hidayah.

Bahaya Istikbar dalam Menerima Kebenaran

Pelajaran terbesar dari kisah ini sesungguhnya ditujukan kepada diri kita sendiri. Tidak semua penolakan terhadap kebenaran lahir karena kurangnya ilmu. Sering kali penyebab utamanya adalah istikbār, yaitu keengganan tunduk karena merasa lebih tinggi daripada kebenaran yang datang.

Allah menggambarkan sikap Iblis:

﴿أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ﴾

“Ia menolak, menyombongkan diri, dan termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa akar kesombongan adalah menolak kebenaran setelah mengetahuinya. Inilah penyakit yang juga menjangkiti banyak pemuka Quraisy. Mereka mengetahui kejujuran Rasulullah ﷺ, tetapi merasa martabat dan kepemimpinan mereka akan runtuh apabila mengikuti beliau.

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh Sirah Nabawiyyah mengingatkan bahwa seseorang harus meletakkan hawa nafsunya di belakang akidah, bukan menjadikan akidah mengikuti keinginan dirinya. Ketika hawa nafsu menjadi hakim, akal kehilangan kejernihannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini memberikan definisi paling mendasar tentang kesombongan. Seseorang bisa saja memiliki ilmu yang luas, tetapi apabila enggan menerima nasihat dan merendahkan orang lain, maka bibit kesombongan telah tumbuh di dalam hatinya.

Seorang mukmin hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar diberi hati yang lembut menerima kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih lemah, atau berbeda kedudukan. 

Kemuliaan seorang hamba tidak terletak pada kemampuannya memenangkan perdebatan, tetapi pada kerendahan hatinya untuk tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.