Dalam struktur besar syariat Islam, Al-Qur’an hadir sebagai sumber utama hukum, sementara Sunnah Nabi ﷺ menjadi penjelas dan penerapan praktisnya. Tanpa Sunnah, banyak ajaran Al-Qur’an akan tetap berada pada tataran prinsip umum yang belum terperinci dalam praktik kehidupan.
Yusuf al-Qardhawi dalam Madkhal li Dirasat al-Syari’ah al-Islamiyyah mendefinisikan Sunnah sebagai segala sesuatu yang berasal dari Nabi ﷺ berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapan beliau. Sunnah, dengan demikian, adalah jembatan antara wahyu dan realitas kehidupan manusia.
Dalam perspektif tasawuf, Sunnah bukan hanya aturan lahiriah, tetapi juga jalan untuk menghadirkan ihsan—yakni beribadah seakan-akan melihat Allah, atau merasa selalu diawasi-Nya.
Pengertian Sunnah dalam Perspektif Ushul Fiqih
Dalam ilmu hadis, Sunnah mencakup seluruh jejak kehidupan Nabi ﷺ. Namun dalam ushul fiqih, Sunnah sering digunakan dalam arti hukum mandub (anjuran).
Ibnu Qudamah dalam Rawdhatun Nazhir menjelaskan:
“هو ما يثاب فاعله ولا يعاقب تاركه”
(Sesuatu yang pelakunya diberi pahala, tetapi tidak disiksa bagi yang meninggalkannya)
Dari definisi ini, Sunnah berada pada wilayah “keutamaan amal”, yaitu ruang bagi seorang hamba untuk meningkatkan kualitas ketaatan setelah menunaikan kewajiban.
Dengan kata lain, Sunnah adalah tangga spiritual menuju kesempurnaan ibadah.
Peran Sunnah dalam Menyempurnakan Ibadah
Sunnah memiliki fungsi utama sebagai bayan (penjelas) bagi Al-Qur’an. Tanpa Sunnah, banyak perintah dalam Al-Qur’an tidak dapat diamalkan secara detail.
Allah berfirman:
﴿وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ﴾ (QS. An-Nahl: 44)
Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ diberi tugas untuk menjelaskan kandungan Al-Qur’an melalui ucapan dan praktik beliau.
Yusuf al-Qardhawi menegaskan bahwa perintah salat dalam Al-Qur’an tidak disertai rincian jumlah rakaat dan tata cara, dan Sunnah-lah yang menjelaskannya secara lengkap. Hal yang sama berlaku pada zakat, puasa, dan haji.
Dengan demikian, Sunnah bukan tambahan opsional, tetapi bagian integral dari pemahaman syariat.
Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari: Wujud Ihsan
Sunnah tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup adab dan etika kehidupan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ» (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya adab dalam setiap aktivitas, karena Islam tidak memisahkan antara ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Yusuf al-Qardhawi mencontohkan Sunnah seperti makan dengan tangan kanan, memulai dari sisi kanan, hingga adab berpakaian. Semua ini membentuk identitas Muslim yang beradab dan sadar kehadiran Allah dalam aktivitas harian.
Dalam perspektif tasawuf, ini adalah bentuk hudur al-qalb—kehadiran hati dalam setiap perbuatan.
Kesalahan dalam Memahami Sunnah
Terdapat beberapa kesalahpahaman yang perlu diluruskan:
1. Menganggap Sunnah tidak penting karena bukan wajib
Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa meskipun tidak berdosa jika ditinggalkan, meninggalkan Sunnah secara terus-menerus menunjukkan lemahnya kecintaan kepada Nabi ﷺ.
2. Menganggap Sunnah hanya budaya Arab
Yusuf al-Qardhawi menolak keras pandangan ini, karena Sunnah mengandung nilai universal yang bersifat moral dan spiritual, bukan sekadar budaya lokal.
3. Menolak Sunnah karena bertentangan dengan logika
Dalam ushul fiqih, akal berfungsi memahami wahyu, bukan menolaknya. Ibnu Qudamah menegaskan bahwa wahyu lebih mengetahui maslahat manusia dibandingkan akal yang terbatas.
4. Mengabaikan prinsip bertahap (tadarruj)
Syariat diturunkan secara bertahap, dan penerapan Sunnah juga perlu hikmah agar tidak menimbulkan penolakan.
Sunnah sebagai Jalan Cinta kepada Allah
Sunnah adalah jalan penyempurna ibadah yang menghubungkan manusia dengan keteladanan Rasulullah ﷺ. Ia bukan sekadar tambahan hukum, tetapi manifestasi rahmat dan cinta Ilahi yang membimbing manusia menuju kesempurnaan akhlak dan ibadah.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsir QS. Al-Anbiya: 107, seluruh misi Nabi ﷺ adalah rahmat bagi alam semesta, dan Sunnah adalah pengejawantahan nyata dari rahmat tersebut.
Dengan menghidupkan Sunnah, seorang Muslim tidak hanya menjalankan agama, tetapi juga menapaki jalan cinta, adab, dan kedekatan spiritual kepada Allah. (im)





