Perubahan zaman telah membawa kemudahan yang luar biasa dalam memperoleh informasi. Dalam hitungan detik, ribuan nasihat, potongan ceramah, kutipan ulama, bahkan jawaban berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat diakses melalui telepon genggam.
Kemudahan itu sekaligus menghadirkan tantangan baru. Banyak di antara kita merasa telah memahami agama hanya karena banyak membaca pesan di media sosial. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa jalan ilmu bukan sekadar mengetahui, melainkan bertafaqquh, mendalami agama dengan kesungguhan.
Allah SWT berfirman:
﴿فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
“…mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.” (QS. At-Taubah [9]: 122)
Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir, dan Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafasir, ayat ini menunjukkan bahwa umat membutuhkan orang-orang yang secara khusus mencurahkan waktunya untuk mendalami agama agar mampu membimbing masyarakat dengan ilmu yang benar, bukan sekadar menyampaikan informasi.
Memahami Hakikat Tafaqquh
Langkah pertama menjadi Aktivis Kitab ialah mengubah cara pandang terhadap ilmu. Membaca status, kutipan singkat, atau ringkasan memang dapat menambah wawasan, tetapi belum melahirkan tafaqquh.
Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri menjelaskan bahwa tafaqquh berarti memahami hukum-hukum Allah, halal dan haram, serta hikmah-hikmah syariat secara mendalam. Karena itu, seorang aktivis tidak boleh merasa cukup hanya dengan membaca potongan informasi. Ia harus membiasakan diri membaca kitab secara utuh, memahami konteks, serta mempelajari penjelasan para ulama yang memiliki kompetensi dalam bidangnya.
Peradaban Islam tidak pernah dibangun oleh budaya informasi yang terpotong-potong, tetapi oleh tradisi belajar yang sabar dan mendalam.
Membersihkan Niat Sebelum Menambah Ilmu
Dalam perjalanan ilmu, tantangan terbesar sering kali bukan kebodohan, melainkan penyakit hati. Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi al-Tafsir mengingatkan tentang penyakit مُبَارَاةٌ فِي الذَّكَاءِ (mubārāh fi adz-dzakā’), yaitu kecenderungan mempertontonkan kecerdasan dan pengetahuan demi memperoleh pujian manusia.
Para ulama tasawuf sejak Imam Al-Ghazali hingga Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ilmu yang tidak dibangun di atas keikhlasan dapat berubah menjadi sebab kebinasaan pemiliknya.
Karena itu, setiap kali membuka kitab, seorang penuntut ilmu hendaknya memperbarui niatnya. Ia belajar bukan untuk menjadi terkenal, bukan agar banyak pengikut, tetapi agar semakin dekat kepada Allah dan semakin mampu melayani umat.
Kembali kepada Talaqqi dan Majelis Ilmu
Kemajuan teknologi tidak boleh membuat kita meninggalkan majelis ilmu. Video, podcast, dan AI sangat membantu sebagai sarana pendukung, tetapi tidak dapat menggantikan proses talaqqi, yaitu belajar langsung kepada guru.
Syaikh Sa’id Hawwa menjelaskan bahwa ilmu bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan cahaya yang ditransmisikan melalui interaksi antara guru dan murid hingga melahirkan darajat al-yaqin.
Di majelis ilmu, seorang murid tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga belajar adab, akhlak, kesabaran, dan cara para ulama berinteraksi dengan wahyu.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Imam An-Nawawi ketika mensyarah hadis ini menjelaskan bahwa tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah dibukakannya pintu pemahaman agama yang benar sehingga ilmu itu membimbing amalnya.
Menjadikan Membaca dan Menulis sebagai Gaya Hidup
Aktivis Kitab bukan hanya rajin membaca, tetapi juga terbiasa menulis. Menulis memaksa seseorang berpikir runtut, memeriksa dalil, membandingkan pendapat ulama, dan menyampaikan ilmu dengan penuh tanggung jawab.
Allah SWT berfirman:
﴿ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ﴾
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam [68]: 1)
Menurut penjelasan Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Wahbah az-Zuhaili, sumpah Allah atas pena menunjukkan kemuliaan ilmu dan pentingnya tradisi menulis dalam menjaga agama.
Waktu yang selama ini dihabiskan untuk membaca pesan-pesan singkat hendaknya perlahan dialihkan untuk membaca kitab, membuat catatan, menyusun ringkasan, lalu menuliskannya kembali sebagai bentuk pengabdian kepada umat.
Membangun Budaya Literasi di Tengah Dakwah
Perubahan tidak cukup dilakukan secara pribadi. Komunitas dakwah juga perlu membangun ekosistem ilmu melalui halaqah kitab, daurah, perpustakaan, klub membaca, forum diskusi, dan komunitas menulis.
Sebagaimana ditegaskan Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir, umat memerlukan pembagian tugas yang terorganisasi; sebagian menjaga kekuatan umat di lapangan, sementara sebagian lainnya menjaga kekuatan ilmu dan pemikiran. Kedua peran tersebut saling melengkapi.
Aktivis Kitab bukanlah orang yang menjauh dari dakwah, melainkan orang yang memperkuat dakwah dengan kedalaman ilmu.
Pada akhirnya, perjalanan dari Aktivis WA menuju Aktivis Kitab adalah perjalanan dari informasi menuju hikmah, dari viralitas menuju keberkahan, dan dari pengetahuan yang dangkal menuju tafaqquh yang melahirkan hamba-hamba Rabbani yang siap membimbing umat dengan ilmu, amal, dan akhlak. (im)







