Hubbul Jāh dalam Bentuk Baru: Ketika Popularitas Digital Menjadi Ujian Keikhlasan

by -1532 Views

Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi tidak mengubah hakikat penyakit hati. Apa yang dahulu tampak dalam bentuk kecintaan kepada jabatan, kedudukan, dan penghormatan manusia, kini sering hadir dalam bentuk yang lebih halus: jumlah followers, subscriber, likes, views, dan berbagai ukuran popularitas digital.

Said Hawwa, ketika merangkum pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Al-Mustakhlis fi Tazkiyatun Nafs, memasukkan حب الجاه والرياسة (hubbul jāh wa ar-riyāsah) sebagai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Beliau menjelaskan bahwa cinta kedudukan bukan sekadar keinginan menjadi pemimpin, tetapi keinginan agar hati manusia dipenuhi penghormatan, kekaguman, dan pujian kepada diri kita.

Lebih jauh beliau menegaskan bahwa penyakit ini merusak kesempurnaan tauhid dan penghambaan kepada Allah karena hati perlahan menggantungkan nilainya kepada pandangan manusia, bukan kepada keridhaan Allah.

Al-Qur’an mengingatkan agar orientasi seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah semata.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan landasan utama keikhlasan, yaitu memurnikan seluruh amal dari tujuan selain mencari wajah Allah. Demikian pula Imam Ath-Thabari menafsirkan bahwa ikhlas berarti tidak menjadikan makhluk sebagai tujuan ibadah ataupun amal.

Popularitas Digital dan Metamorfosis Hubbul Jāh

Media sosial bukanlah musuh. Ia hanyalah alat. Namun alat yang sama dapat menjadi ladang amal atau menjadi cermin bagi nafsu yang belum tersucikan.

Said Hawwa dalam Fi Āfāqi at-Ta’līm menjelaskan bahwa banyak amal kehilangan nilai ikhlas karena disusupi motivasi-motivasi tersembunyi, di antaranya:

الغُنْم، والمَظْهَر، والجَاه

yakni mencari keuntungan pribadi, mengejar citra diri, dan menginginkan kedudukan.

Dalam ruang digital, al-mazhar dapat berupa pencitraan yang berlebihan, sedangkan al-jāh tampil dalam bentuk obsesi terhadap angka-angka popularitas. Ketika seseorang mulai mengukur keberhasilan dakwah semata dari jumlah penonton, atau rela berbicara tanpa ilmu demi memperoleh perhatian publik, maka ia perlu melakukan muhasabah terhadap niatnya.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadits ini merupakan salah satu fondasi terbesar dalam Islam. Nilai sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, tetapi terutama oleh tujuan yang bersemayam di dalam hati.

Muhasabah Hati: Menjaga Dakwah dari Riya’

Al-Harits Al-Muhasibi, melalui karya monumentalnya Ar-Ri’āyah li Huqūqillāh, mengajarkan pentingnya mengawasi gerak hati yang paling halus. Menurut beliau, jiwa sering kali mampu menyembunyikan kepentingannya sendiri di balik amal yang tampak mulia.

Said Hawwa mengutip pendekatan ini ketika menjelaskan tingkatan riya’. Bentuk yang paling berat adalah ketika seseorang tidak lagi menginginkan keridaan Allah, melainkan seluruh amalnya semata-mata agar dipuji manusia.

Keadaan seperti ini perlu diwaspadai, terutama di era media sosial. Tidak sedikit orang yang pada awalnya berniat menyebarkan ilmu, namun tanpa disadari mulai menunggu pujian, membandingkan jumlah pengikut, bahkan merasa kecewa ketika perhatian manusia berkurang.

Padahal Allah mengingatkan:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Menurut tafsir Imam Al-Qurthubi, ayat ini mengajarkan larangan membanggakan diri dan mengingatkan bahwa penilaian hakiki berada di sisi Allah, bukan di mata manusia.

Dalam perspektif tasawuf, penyakit ini berkaitan erat dengan kibr (kesombongan) dan ‘ujub (bangga diri). Said Hawwa menjelaskan bahwa kesombongan merupakan buah dari cinta kedudukan, sedangkan ‘ujub lahir ketika seseorang memandang keberhasilan berasal dari dirinya sendiri, bukan sebagai karunia Allah.

Kembali kepada Ikhlas

Pada akhirnya, tantangan seorang Muslim bukanlah menghindari teknologi, melainkan menjaga hati ketika menggunakannya. Jumlah pengikut tidak selalu menunjukkan kedekatan dengan Allah, sebagaimana sedikitnya penonton tidak selalu berarti kecilnya nilai sebuah amal.

Dalam Tarbiyah Ruhiyah, Said Hawwa mengingatkan pentingnya melatih الصمت (as-shamt), yakni menahan lisan hingga benar-benar yakin bahwa ucapan tersebut membawa manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Riyadhus Shalihin bahwa hadits ini merupakan kaidah besar dalam menjaga lisan. Diam bukanlah kelemahan, tetapi bentuk pengendalian diri ketika ucapan tidak membawa maslahat.

Seorang mukmin yang mengenal Rabb-nya akan terus berusaha memurnikan niat. Ia boleh memiliki banyak pengikut atau sedikit, dikenal ataupun tidak dikenal. Sebab ukuran keberhasilan yang paling hakiki bukanlah sejauh mana manusia mengenalnya, melainkan sejauh mana Allah meridhainya. Satu pandangan rahmat dari Allah jauh lebih bernilai daripada jutaan likes yang suatu saat akan hilang bersama perubahan algoritma. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.