Era Digital: Informasi Melimpah, Dangkal Pemahaman

by -1651 Views

Kita hidup pada zaman yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Informasi hadir dalam hitungan detik melalui reels, shorts, TikTok, media sosial, bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). 

Seseorang dapat memperoleh ribuan kutipan, ceramah, atau jawaban keagamaan hanya dengan beberapa sentuhan jari. 

Dibalik kemudahan tersebut, Al-Qur’an mengingatkan bahwa yang dibutuhkan umat bukan sekadar banyaknya informasi, melainkan kedalaman pemahaman (tafaqquh).

Allah SWT berfirman:

﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir, Imam al-Qurthubi, dan Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa frasa ﴿لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ﴾ menunjukkan kewajiban lahirnya sekelompok umat yang mendalami agama secara serius agar mampu membimbing masyarakat dengan ilmu yang benar. 

Ayat ini tidak berbicara tentang banyaknya informasi yang dimiliki seseorang, tetapi tentang kualitas pemahaman yang melahirkan hikmah dan tanggung jawab.

Ketika Informasi Mengalahkan Tadabbur

Era digital membawa banyak manfaat. Namun, apabila tidak disertai adab menuntut ilmu, ia dapat melahirkan budaya yang dangkal. Banyak orang lebih akrab dengan potongan video dibandingkan kitab para ulama, lebih sering membagikan kutipan tanpa sumber dibandingkan memeriksa validitasnya, bahkan terkadang merasa cukup memahami agama hanya karena membaca ringkasan yang dihasilkan teknologi.

Syaikh Abu Bakr al-Jazairi dalam Aysar at-Tafasir menjelaskan bahwa makna tafaqquh ialah memahami hukum-hukum Allah, halal dan haram, serta hikmah-hikmah syariat secara mendalam. 

Pemahaman seperti ini tentu tidak lahir dari budaya copy-paste, melainkan dari kesungguhan belajar, membaca, berdialog dengan guru, dan mengulang kajian secara terus-menerus.

Dalam tradisi para ulama dikenal sebuah ungkapan:

الْعِلْمُ لَا يُعْطِيكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ

“Ilmu tidak akan memberikan sebagian darinya kepadamu sampai engkau memberikan seluruh kesungguhanmu kepadanya.”

Ungkapan ini mengajarkan bahwa ilmu adalah perjalanan panjang, bukan hasil instan.

Knowledge Tidak Selalu Melahirkan Wisdom

Di zaman sekarang, seseorang dapat memiliki banyak knowledge (pengetahuan), tetapi belum tentu memiliki wisdom (hikmah). 

Pengetahuan adalah informasi yang tersimpan di dalam akal, sedangkan hikmah adalah ilmu yang telah menyatu dengan hati, membentuk akhlak, dan melahirkan amal.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi at-Tafsir menjelaskan bahwa tujuan tafaqquh bukan sekadar memperkaya wawasan, tetapi membentuk العبد الرباني (al-‘abd ar-rabbani), yakni hamba yang seluruh kehidupannya dibimbing oleh wahyu. 

Beliau juga mengingatkan bahaya penyakit مُبَارَاةٌ فِي الذَّكَاءِ, yaitu kecenderungan mempertontonkan kecerdasan dan pengetahuan demi memperoleh pujian manusia. Penyakit semacam ini semakin mudah muncul ketika media sosial menjadikan popularitas sebagai ukuran keberhasilan.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi ketika mensyarah hadis ini menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah dan memperbaiki amalnya, bukan ilmu yang sekadar menjadi kebanggaan di hadapan manusia.

Menjadi Generasi Digital yang Rabbani

Teknologi bukanlah musuh. AI, media sosial, dan berbagai platform digital adalah nikmat Allah yang dapat menjadi sarana dakwah apabila digunakan secara bijaksana. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kecepatan informasi mengalahkan kedalaman perenungan.

Aktivis dakwah hendaknya tetap menjadikan Al-Qur’an, Sunnah, kitab-kitab para ulama, majelis ilmu, dan talaqqi sebagai fondasi utama. Media digital dapat menjadi pintu masuk, tetapi bukan tujuan akhir. 

Sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Taubah ayat 122, tujuan ilmu adalah melahirkan manusia yang يَحْذَرُونَ, yakni memiliki kewaspadaan spiritual sehingga mampu menjaga diri dan masyarakat dari penyimpangan.

Peradaban Islam tidak dibangun oleh generasi yang paling cepat menyebarkan informasi, tetapi oleh generasi yang paling dalam memahami wahyu, paling ikhlas mengamalkannya, dan paling lembut menyampaikannya kepada umat. Di tengah derasnya arus digital, marilah kita tetap meniti jalan tafaqquh, agar ilmu yang kita miliki bukan sekadar memenuhi pikiran, tetapi juga menerangi hati dan menjadi cahaya bagi sesama. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.