Menghadirkan Sakinah di Tengah Kebisingan Digital

by -1445 Views

Di era media sosial, setiap orang memiliki ruang untuk berbicara. Namun, tidak setiap ucapan membawa ketenangan. Ada kata-kata yang menyatukan hati, tetapi ada pula yang menyalakan api permusuhan. 

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya dituntut menjaga lisan digitalnya dari keburukan, tetapi juga menghadirkan sakinah melalui setiap kalimat yang ia tuliskan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk berbicara dengan lembut, santun, dan penuh kebaikan kepada seluruh manusia. Senada dengan itu, Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa ucapan yang baik adalah perkataan yang mengandung manfaat, menjauhkan permusuhan, serta mengajak kepada akhlak yang mulia.

Yusuf Al-Qaradhawi dalam Madrasah Hasan al-Banna mengingatkan bahwa pengaruh dakwah tidak pertama-tama lahir dari keindahan retorika, melainkan dari kebersihan hati. Beliau menulis:

إِنَّ صَاحِبَ الْقَلْبِ الْحَيِّ هُوَ الَّذِي يُؤَثِّرُ فِي السَّامِعِينَ، أَمَّا صَاحِبُ الْقَلْبِ الْمَيِّتِ فَكَلَامُهُ كَلَامٌ مَيِّتٌ لَا نُورَ فِيهِ وَلَا تَأْثِيرَ

“Pemilik hati yang hiduplah yang mampu memberikan pengaruh kepada orang-orang yang mendengarnya. Adapun pemilik hati yang mati, maka perkataannya adalah perkataan yang mati; tidak memiliki cahaya dan tidak memberikan pengaruh.”

Dalam perspektif tasawuf, lisan hanyalah cermin hati. Jika hati dipenuhi keikhlasan dan kasih sayang, maka tulisan pun akan memancarkan kelembutan.

Membangun Iklim Komunikasi yang Menyatukan

Media sosial bukan sekadar tempat menyampaikan pendapat, tetapi juga ruang membentuk budaya komunikasi. Setiap komentar yang kita tulis turut menentukan apakah ruang digital menjadi tempat bertumbuhnya ukhuwah atau justru arena pertikaian.

Said Hawwa dalam Jundullah Tsaqāfatan wa Akhlāqan menjelaskan bahwa pembinaan seorang Muslim tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus melahirkan pribadi yang membangun masyarakat. Kehadiran seorang mukmin seharusnya menjadi perekat persaudaraan, bukan penyebab retaknya hubungan antarsesama.

Prinsip ini selaras dengan firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Menurut tafsir Imam Ath-Thabari, ayat ini menunjukkan bahwa menjaga persaudaraan dan mendamaikan pihak yang berselisih merupakan kewajiban kolektif umat Islam. Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa ukhuwah bukan sekadar ikatan emosional, tetapi amanah yang harus diwujudkan dalam perilaku nyata.

Karena itu, ketika perdebatan mulai berubah menjadi saling mencela, seorang Muslim hendaknya hadir sebagai penyejuk, bukan sebagai penambah panasnya suasana.

Adab Bermedia Sosial sebagai Wujud Mujahadah

Menjadi penjaga ketenangan memerlukan latihan jiwa. Salah satu bentuknya ialah mengendalikan cara berkomunikasi. Hasan al-Banna, sebagaimana dikutip Yusuf Al-Qaradhawi dalam Madrasah Hasan al-Banna, memberikan sejumlah nasihat yang tetap relevan hingga hari ini. Beliau menganjurkan agar seorang Muslim tidak meninggikan suara melebihi kebutuhan, tidak berlebihan dalam bergurau, dan lebih mengutamakan amal daripada perdebatan yang tidak membawa manfaat.

Nasihat tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadits ini merupakan kaidah agung dalam menjaga lisan. Diam ketika ucapan tidak membawa maslahat adalah bagian dari kesempurnaan akhlak seorang mukmin.

Dalam kehidupan digital, adab ini dapat diwujudkan dengan tidak menggunakan kata-kata yang provokatif, tidak mempermalukan orang lain di ruang publik, serta menghindari komentar yang hanya memperpanjang perselisihan.

Menjadi Perekat Ukhuwah di Tengah Polarisasi

Salah satu tantangan terbesar media sosial adalah kecenderungannya membelah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok yang saling berhadapan. Algoritma sering memperkuat emosi, sedangkan Islam mengajarkan keseimbangan dan kasih sayang.

Said Hawwa menegaskan bahwa ikatan yang paling kuat di antara kaum mukminin adalah الحب في الله (al-hubbu fillāh), yaitu saling mencintai karena Allah. Ikatan ini hanya dapat tumbuh apabila hati dibersihkan melalui tazkiyatun nafs, sehingga lisan menjadi lembut dan perilaku dipenuhi rahmah.

Menjadi penjaga ketenangan bukan berarti menghindari kebenaran atau bersikap pasif terhadap kemungkaran. Sebaliknya, ia berarti menyampaikan kebenaran dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang sebagaimana diperintahkan Allah. Ditengah derasnya arus informasi dan polarisasi, seorang Muslim dipanggil untuk menjadi sumber kedamaian. 

Ketika banyak orang berlomba memenangkan perdebatan, ia memilih memenangkan hati. Ketika banyak orang menyebarkan kemarahan, ia menghadirkan harapan. Dengan demikian, setiap tulisan, komentar, dan unggahannya menjadi bagian dari ibadah yang memperkuat ukhuwah serta menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah pada hari pembalasan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.