Muhasabah Sebelum Mengunggah

by -1474 Views

Salah satu tantangan terbesar seorang Muslim di era media sosial bukanlah kurangnya informasi, melainkan terlalu cepatnya bereaksi. Dalam hitungan detik seseorang dapat mengomentari sebuah peristiwa, membagikan berita, atau menyampaikan penilaian tanpa sempat mempertimbangkan akibatnya. 

Padahal, dalam tradisi tazkiyatun nafs, setiap ucapan merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa seluruh ucapan manusia, baik yang kecil maupun besar, dicatat oleh malaikat tanpa ada yang terlewat. Karena itu, setiap kalimat yang ditulis di media sosial pun termasuk dalam cakupan ayat ini, sebab tulisan merupakan representasi dari ucapan.

Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation mengamati bahwa teknologi mendorong manusia untuk kehilangan kemampuan berhenti sejenak. Ia menulis:

“Slow down. Some of the most important conversations you will ever have are the ones you have with yourself. To have them, you need to learn to listen to your own voice.”

“Perlambatlah. Beberapa percakapan paling penting dalam hidup adalah percakapan dengan diri sendiri. Untuk melakukannya, kita harus belajar mendengarkan suara hati kita sendiri.”

Nasihat ini selaras dengan pendidikan ruhani dalam Islam. Jeda sebelum mengunggah bukanlah kelemahan, tetapi bentuk kedewasaan iman.

Muraqabah dan Muhasabah: Teknologi Batin Seorang Mukmin

Tradisi tasawuf telah lama mengenalkan dua konsep besar, yaitu muraqabah (merasa diawasi Allah) dan muhasabah (mengevaluasi diri). Kedua konsep ini menjadi benteng agar lisan tidak dikendalikan oleh hawa nafsu.

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlis fi Tazkiyatun Nafs menjelaskan bahwa proses penyucian jiwa dibangun melalui latihan yang berkesinambungan. Beliau menulis:

ومن وسائل التزكية: المراقبة، والمحاسبة، والمجاهدة، والمعاتبة.

“Diantara sarana penyucian jiwa ialah muraqabah, muhasabah, mujahadah, dan mu’atabah (menegur diri sendiri).”

Muraqabah membuat seorang Muslim sadar bahwa Allah mengetahui isi hati sebelum sebuah tulisan dipublikasikan. Muhasabah mendorongnya menguji kembali niat dan dampak dari setiap kalimat.

Dalam Tarbiyah Ruhiyah, Said Hawwa kembali menegaskan pentingnya menjaga lisan:

إن تهذيب اللسان في الإسلام من أهم الأمور… ومن أركان المجاهدة الصمت.

“Sesungguhnya memperhalus lisan dalam Islam termasuk perkara yang paling penting, dan di antara rukun mujahadah adalah diam.”

Diam di era digital bukan berarti pasif, melainkan kemampuan menahan jempol hingga hati benar-benar jernih.

Empat Pertanyaan Sebelum Menekan Tombol “Send”

Muhasabah akan menjadi lebih mudah apabila dibimbing oleh pertanyaan-pertanyaan praktis.

Pertama, apakah informasi ini benar? Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Menurut Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir, ayat ini menjadi dasar kewajiban tabayyun, agar seseorang tidak mencelakakan orang lain karena berita yang belum dipastikan kebenarannya.

Kedua, apakah tulisan ini bermanfaat?

Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Rajab Al-Hanbali).

Dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wal Hikam, Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hadits ini merupakan pokok seluruh adab. Beliau menerangkan bahwa siapa yang menyibukkan diri dengan perkara yang tidak bermanfaat berarti telah menyia-nyiakan waktu, hati, dan amalnya.

Ketiga, apakah niat saya ikhlas?

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlis fi Tazkiyatun Nafs mengingatkan bahwa penyakit riya’, hubbul jah, dan tholabur riyasah sering menyusup secara halus dalam amal-amal yang tampak baik. Beliau menulis:

حب الرياسة والجاه ينافي كمال التوحيد والعبودية.

“Cinta kepemimpinan dan kedudukan bertentangan dengan kesempurnaan tauhid dan penghambaan kepada Allah.”

Maka sebelum mengunggah sesuatu, seorang Muslim hendaknya bertanya: apakah saya mengharap ridha Allah atau sekadar mencari pujian manusia?

Keempat, apakah saya sedang mengikuti ego?

Sherry Turkle mengingatkan bahwa media sosial sering membuat manusia membagikan sesuatu demi memperoleh pengakuan sosial. Islam menyebut dorongan seperti ini sebagai bagian dari perjuangan melawan hawa nafsu. Kemenangan terbesar bukanlah menjadi viral, tetapi mampu mengalahkan dorongan batin yang haus akan perhatian.

Muhasabah sebagai Jalan Menuju Jiwa yang Tenang

Pada akhirnya, muhasabah sebelum mengunggah adalah bentuk riyadhah yang melatih hati agar tetap hidup di tengah derasnya arus informasi. Seorang Muslim yang membiasakan jeda sebelum berbicara sedang melatih dirinya menuju An-Nafs al-Muthma’innah, jiwa yang tenang karena seluruh gerak lisannya berada di bawah pengawasan iman.

Setiap unggahan akan menjadi saksi pada hari kiamat. Oleh sebab itu, sebelum jempol menekan tombol kirim, hendaknya hati terlebih dahulu bertanya kepada Allah: Apakah Engkau ridha terhadap kalimat ini? Jika jawabannya belum jelas, maka diam sering kali lebih dekat kepada keselamatan. 

Sebagaimana dijelaskan para ulama tazkiyatun nafs, keselamatan seorang hamba bukan hanya ditentukan oleh banyaknya ucapan yang ia sampaikan, tetapi oleh kemampuannya menundukkan lisan dan seluruh anggota tubuh di bawah ketaatan kepada Allah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.