Dari Influencer Menjadi Muwajjih

by -1463 Views

Perjalanan mengendalikan lisan digital mencapai puncaknya ketika orientasi seorang Muslim berubah. Ia tidak lagi berusaha menjadi sosok yang paling banyak dilihat, tetapi menjadi pribadi yang paling banyak menghadirkan manfaat. 

Dunia media sosial mengenalkan istilah influencer, yaitu seseorang yang memiliki kemampuan memengaruhi banyak orang melalui popularitasnya. Namun, Islam menawarkan cita-cita yang lebih tinggi, yakni menjadi muwajjih (موجّه), seorang pembimbing yang mengarahkan manusia menuju Allah dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.'” (QS. Fushshilat: 33)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan kemuliaan orang yang memadukan dakwah, amal saleh, dan keteladanan. Dakwah tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi harus disertai kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai yang disampaikan. Imam Al-Qurthubi juga menegaskan bahwa ayat ini menjadi dasar bahwa kemuliaan seorang da’i lahir dari kesesuaian antara perkataan dan amalnya.

David Brooks dalam The Road to Character membedakan dua jenis kebajikan. Ia menulis:

“Résumé virtues are the skills you bring to the marketplace. Eulogy virtues are deeper. They are the virtues that are talked about at your funeral—whether you were kind, brave, honest or faithful.”

“Kebajikan résumé adalah kemampuan yang membawa seseorang menuju keberhasilan duniawi. Adapun kebajikan eulogi adalah kebajikan yang dikenang setelah seseorang wafat—apakah ia dikenal sebagai pribadi yang baik hati, jujur, setia, dan berani.”

Pandangan ini sejalan dengan pendidikan akhlak dalam Islam. Yang menentukan nilai seorang Muslim bukanlah citra yang dibangun di hadapan manusia, melainkan karakter yang dibangun di hadapan Allah.

Menjadi Rabbani: Hakikat Seorang Muwajjih

Said Hawwa dalam Mudzakkarāt fī Manāzil ash-Shiddīqīn wa ar-Rabbāniyyīn menjelaskan bahwa seorang Rabbani adalah pewaris dakwah para nabi. Beliau menulis:

وأما الربانية فهي الصديقية مع العلم والتعليم والنصح والشهادة على الخلق بما أنزل الله والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.

“Adapun Rabbaniyyah adalah derajat shiddiqiyyah yang disertai ilmu, pengajaran, nasihat, menjadi saksi atas manusia dengan apa yang Allah turunkan, serta melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar.”

Seorang muwajjih tidak berbicara demi membangun popularitas, tetapi demi membimbing manusia menuju kebaikan. Karena itu, proses pertama yang harus ditempuh bukanlah membangun audiens, melainkan membangun diri.

Hasan Al-Banna dalam Risalah at-Ta’lim menegaskan bahwa seorang pengemban dakwah harus memulai dari dirinya sendiri:

أُرِيدُ بِالإِصْلَاحِ أَنْ أُصْلِحَ نَفْسِي…

Kemudian beliau merinci karakter yang harus dibangun: kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, benar ibadahnya, mampu melawan hawa nafsunya, menjaga waktunya, tertata urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Inilah fondasi seorang muwajjih.

Pengaruh Berasal dari Hati yang Hidup

Keberhasilan dakwah tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tetapi oleh kehidupan hati.

Yusuf Al-Qaradhawi dalam Madrasah Hasan al-Banna menulis:

إن صاحب القلب الحي هو الذي يؤثر في السامعين، أما صاحب القلب الميت فكلامه كلام ميت لا نور فيه ولا تأثير.

“Pemilik hati yang hiduplah yang mampu memberikan pengaruh kepada orang-orang yang mendengarnya. Adapun pemilik hati yang mati, maka perkataannya adalah perkataan yang mati; tidak memiliki cahaya dan tidak memberikan pengaruh.”

Dalam perspektif tasawuf, hati yang hidup adalah hati yang dipenuhi ikhlas, muraqabah, dan cinta kepada Allah. Dari hati seperti itulah lahir ucapan yang lembut, penuh hikmah, dan mampu menenangkan manusia. Sebaliknya, retorika yang indah tetapi kosong dari keikhlasan hanya akan menjadi gema tanpa daya ubah.

Mengutamakan Kedalaman daripada Popularitas

Budaya media sosial sering mendorong seseorang untuk terus berbicara agar tetap terlihat. Namun, seorang muwajjih memilih kualitas daripada kuantitas.

Said Hawwa dalam Jundullah Tsaqāfatan wa Akhlāqan menjelaskan bahwa tujuan dakwah adalah صياغة الشخصية الإسلامية (shiyāghah asy-syakhshiyyah al-Islāmiyyah), yaitu membentuk karakter Muslim yang utuh. Karakter tersebut tidak lahir dari perdebatan tanpa akhir, melainkan dari ilmu yang benar dan amal yang istiqamah.

Prinsip ini selaras dengan nasihat Hasan Al-Banna dalam Risalah at-Ta’lim:

كل مسألة لا ينبني عليها عمل فالخوض فيها من التكلف الذي نهينا عنه شرعًا.

“Setiap persoalan yang tidak melahirkan amal termasuk bentuk takalluf (membebani diri) yang dilarang oleh syariat.”

Demikian pula Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini merupakan kaidah besar dalam menjaga lisan. Seorang mukmin hendaknya hanya berbicara ketika terdapat maslahat yang nyata; jika tidak, diam lebih dekat kepada keselamatan.

Menjadi Cahaya, Bukan Sekadar Sorotan

Transformasi dari influencer menjadi muwajjih adalah perjalanan dari mengejar pengakuan manusia menuju keridaan Allah. Seorang influencer diukur oleh seberapa luas jangkauan pesannya, sedangkan seorang muwajjih diukur oleh seberapa dalam pengaruhnya terhadap perbaikan jiwa manusia.

Sebagaimana diingatkan David Brooks, kebahagiaan terdalam bukan berasal dari kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas kelemahan diri sendiri. Hal ini sejalan dengan pesan para ulama tazkiyatun nafs bahwa kemuliaan seorang hamba terletak pada keberhasilannya mengendalikan hawa nafsu, menyucikan hati, dan menjaga lisannya. 

Ketika setiap kata yang ditulis lahir dari hati yang hidup, dipandu ilmu yang benar, dan diniatkan semata-mata karena Allah, maka media sosial tidak lagi menjadi panggung pencitraan, tetapi berubah menjadi jalan dakwah, sarana memperkuat ukhuwah, serta ladang amal yang terus mengalir hingga hari perjumpaan dengan-Nya.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.