Cahaya Allah dan Pertarungan Sepanjang Zaman

by -1411 Views

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.”
(QS. At-Taubah: 32)

Ayat yang agung ini bukan sekadar menggambarkan sebuah peristiwa sejarah pada masa Rasulullah ﷺ. Ia merupakan salah satu sunnatullah yang terus berulang sepanjang perjalanan umat manusia. 

Sejak Allah mengutus Nabi Adam ‘alaihissalam sebagai manusia pertama sekaligus nabi pertama, hingga zaman teknologi kecerdasan buatan, media sosial, dan arus informasi tanpa batas, selalu ada dua arus besar yang saling berhadapan: arus yang mengajak manusia menuju cahaya wahyu dan arus yang berusaha menjauhkan manusia darinya.

Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan kehidupan sebagai perjalanan yang bebas dari pertarungan nilai. Sebaliknya, kehidupan dunia adalah medan ujian. Allah menciptakan manusia dengan kebebasan memilih, lalu mengutus para rasul membawa petunjuk agar manusia mengenal jalan yang lurus. Namun, setiap kali cahaya wahyu datang, selalu muncul penolakan, keraguan, bahkan permusuhan terhadapnya.

Fenomena ini dapat kita saksikan dalam kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad ﷺ. Para nabi membawa risalah yang sama: mengajak manusia menyembah Allah semata dan membebaskan mereka dari penghambaan kepada sesama makhluk. 

Akan tetapi, hampir seluruh nabi menghadapi penentangan dari mereka yang merasa terusik oleh hadirnya kebenaran. Ada yang menolak karena kesombongan, ada yang mempertahankan tradisi nenek moyang, ada yang takut kehilangan kekuasaan, dan ada pula yang diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.

Dengan demikian, pertarungan antara iman dan kekufuran bukanlah sekadar konflik politik atau perebutan kekuasaan. Hakikatnya adalah pertarungan antara cahaya dan kegelapan, antara petunjuk dan kesesatan, antara wahyu dan hawa nafsu. Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali menggunakan simbol cahaya (an-nūr) dan kegelapan (azh-zhulumāt) untuk menggambarkan dua jalan kehidupan yang sangat berbeda.

Allah Ta‘ālā berfirman:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir, pelindung mereka adalah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju berbagai kegelapan.”
(QS. Al-Baqarah: 257)

Perhatikan bahwa Allah menggunakan bentuk jamak azh-zhulumāt (berbagai macam kegelapan), sedangkan kata an-nūr (cahaya) disebut dalam bentuk tunggal. 

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kebenaran hanya satu, sedangkan jalan kebatilan sangat banyak. Syirik memiliki banyak bentuk. Penyimpangan pemikiran terus berganti wajah. Ideologi berubah mengikuti zaman. Namun, cahaya petunjuk Allah tetap satu, karena bersumber dari Dzat Yang Maha Esa.

Disinilah letak kemuliaan Al-Qur’an. Ia bukan sekadar kitab bacaan, melainkan cahaya yang menerangi hati, akal, dan perjalanan hidup manusia. Imam Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat-ayat tentang an-nūr menjelaskan bahwa cahaya Allah mencakup wahyu, petunjuk, iman, dan agama yang dibawa Rasulullah ﷺ. Cahaya itu membimbing manusia mengenal hakikat dirinya, memahami tujuan hidupnya, dan menapaki jalan menuju ridha Allah.

Said Hawwa dalam mukadimah Al-Asās fi at-Tafsīr mengingatkan bahwa tantangan terbesar umat pada zaman modern bukanlah kemiskinan materi, melainkan kerusakan cara pandang terhadap kehidupan. Ketika materialisme dijadikan ukuran utama, ketika akal dilepaskan dari bimbingan wahyu, dan ketika hawa nafsu dijadikan sumber nilai, manusia perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil. Pada saat itulah cahaya wahyu menjadi semakin dibutuhkan.

Bacaan QS. At-Taubah ayat 32 tidak cukup sebagai pembacaan sejarah. Ayat ini harus dibaca sebagai cermin zaman. Ungkapan “mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka” menunjukkan bahwa peperangan terhadap Islam tidak selalu hadir dalam bentuk kekuatan fisik. Seringkali ia hadir melalui kata-kata, narasi, propaganda, budaya, informasi, hiburan, bahkan melalui cara berpikir yang secara perlahan mengikis keyakinan manusia terhadap agamanya.

Inilah yang dalam pembahasan kontemporer sering disebut sebagai ghazwul fikr atau perang pemikiran. Istilah ini tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa curiga kepada setiap perkembangan zaman, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap Muslim harus memiliki kesadaran kritis terhadap berbagai pemikiran yang dapat menjauhkan dirinya dari petunjuk Allah. Al-Qur’an mengajarkan agar seorang mukmin bersikap terbuka terhadap ilmu, namun tetap menjadikan wahyu sebagai standar tertinggi dalam menilai setiap gagasan dan peradaban.

Dari perspektif dakwah, ayat ini mengajarkan optimisme. Allah tidak memerintahkan kita untuk mencemaskan masa depan Islam, karena Dia sendiri telah berjanji akan menyempurnakan cahaya-Nya. Tugas seorang dai bukan memastikan kemenangan agama Allah, melainkan menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga cahaya itu tetap menyala dalam dirinya dan menyebarkannya dengan hikmah kepada orang lain.

Dari perspektif tarbiyah, ayat ini mengingatkan bahwa pembinaan umat tidak cukup hanya dengan memperbanyak aktivitas. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang memiliki bashirah—kejernihan hati dan ketajaman pandangan—sehingga tidak mudah hanyut oleh syubhat dan syahwat yang silih berganti. Perang pemikiran hanya dapat dihadapi oleh pribadi-pribadi yang dibentuk melalui pendidikan iman yang berkesinambungan.

Sementara itu, dari perspektif tazkiyatun nafs, ayat ini mengajak setiap Muslim untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apakah cahaya Allah masih menyala terang di dalam hati, ataukah mulai tertutup oleh debu dosa, kelalaian, dan kecintaan yang berlebihan kepada dunia? Sebab, peperangan terbesar seringkali bukan terjadi di luar diri kita, melainkan di dalam hati. Ketika hati dipenuhi dzikir, tilawah, dan muraqabah kepada Allah, cahaya iman akan tetap hidup meskipun dunia di sekeliling dipenuhi berbagai fitnah.

Dengan kesadaran inilah kita akan memasuki pembahasan bab ini. Kita akan menelusuri makna Nurullah, memahami mengapa cahaya wahyu selalu menghadapi penentangan, melihat bagaimana konflik antara iman dan kufur bertransformasi menjadi perang pemikiran pada era modern, serta mengambil pelajaran praktis agar cahaya Allah tetap terjaga dalam hati, keluarga, dan kehidupan umat. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.