“Mereka Ingin Memadamkan Cahaya Allah”

by -1420 Views

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.” (QS. At-Taubah: 32)

Setelah pada bab sebelumnya kita memahami hakikat Nurullah sebagai cahaya wahyu yang menerangi hati, maka pada bab ini kita diajak merenungkan sisi lain dari ayat tersebut, yaitu adanya upaya yang terus-menerus untuk memadamkan cahaya itu.

Mengapa Al-Qur’an menggunakan ungkapan “mereka ingin”? Siapakah yang dimaksud dengan “mereka”? Apakah ayat ini hanya berbicara tentang orang-orang musyrik pada masa Rasulullah ﷺ, ataukah ia menjelaskan sebuah sunnatullah yang akan terus berlangsung hingga akhir zaman?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar seorang Muslim memiliki cara pandang yang benar. Sebab tanpa pemahaman yang utuh, seseorang dapat terjatuh pada dua sikap yang sama-sama keliru. Sebagian orang melihat setiap persoalan sebagai konspirasi besar sehingga kehilangan sikap adil dalam menilai realitas. Sebaliknya, sebagian yang lain menganggap tidak ada sama sekali pertarungan nilai dalam kehidupan sehingga bersikap naif terhadap berbagai tantangan yang dihadapi umat.

Al-Qur’an mengajarkan jalan pertengahan. Ia mengajarkan kewaspadaan tanpa paranoia, optimisme tanpa kelengahan, dan keteguhan tanpa kebencian. Seorang mukmin diperintahkan untuk memahami realitas dengan cahaya wahyu, bukan dengan prasangka ataupun emosi.

Karena itu, pembahasan ayat ini bukan bertujuan membangkitkan permusuhan terhadap manusia tertentu. Islam membedakan secara tegas antara mengkritisi ide, kebijakan, atau tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai ilahi dengan membenci manusia secara membabi buta. Dakwah Rasulullah ﷺ justru dibangun di atas kasih sayang kepada manusia, bahkan kepada mereka yang menentangnya. Yang diperangi oleh Islam adalah kezaliman, kesesatan, dan berbagai bentuk penindasan terhadap fitrah manusia.

Dengan perspektif inilah kita akan memahami makna firman Allah yurīdūna, sebuah kata yang tampak sederhana tetapi mengandung pelajaran besar tentang perjalanan dakwah sepanjang sejarah.

Makna Yurīdūna: Kehendak yang Terencana

Kata يُرِيدُونَ (yurīdūna) berasal dari akar kata أراد – يريد yang berarti menghendaki, menginginkan, atau meniatkan sesuatu dengan kesadaran. Dalam bahasa Al-Qur’an, penggunaan kata ini tidak menunjukkan keinginan yang bersifat spontan atau sesaat. Ia menggambarkan adanya maksud, tujuan, dan usaha yang dilakukan secara sadar untuk mencapai sasaran tertentu.

Dengan demikian, ketika Allah berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah”, Al-Qur’an sedang menggambarkan adanya kehendak yang terus diupayakan. Ini bukan sekadar reaksi emosional terhadap dakwah Islam, tetapi sebuah kecenderungan yang berulang dalam sejarah manusia.

Menariknya, Al-Qur’an tidak segera menjelaskan siapa yang dimaksud dengan “mereka”. Penyebutan dalam bentuk umum ini memberikan pelajaran bahwa siapa pun yang menempatkan dirinya sebagai penentang petunjuk Allah akan termasuk dalam makna ayat tersebut, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. 

Pada masa Nabi Muhammad ﷺ, bentuknya tampak pada kaum musyrikin Makkah, sebagian Ahli Kitab yang memusuhi dakwah, dan kelompok munafik yang berusaha melemahkan kaum Muslimin dari dalam. Namun prinsip ayat ini juga berlaku terhadap setiap bentuk penentangan terhadap wahyu di sepanjang sejarah.

Said Hawwa dalam Al-Asās fī at-Tafsīr mengingatkan bahwa salah satu karakter zaman modern adalah munculnya berbagai kekuatan yang berusaha membentuk manusia sesuai paradigma yang mereka kehendaki. Menurut beliau, manusia tidak hanya dipengaruhi melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui tekanan psikologis, budaya, pendidikan, ekonomi, dan media. Semua itu membentuk cara manusia berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan.

Peringatan ini tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa takut terhadap dunia modern, tetapi agar umat Islam menyadari bahwa pembentukan cara berpikir merupakan bagian yang sangat menentukan dalam kehidupan manusia. Siapa yang menguasai cara berpikir seseorang, sedikit banyak akan memengaruhi arah hidupnya.

Karena itulah dakwah Islam sejak awal selalu dimulai dari pembentukan akidah. Rasulullah ﷺ menghabiskan tiga belas tahun di Makkah bukan untuk membangun kekuatan politik, tetapi membangun manusia. Beliau menanamkan tauhid, membersihkan hati, memperbaiki cara pandang, dan melahirkan generasi yang memiliki keyakinan kokoh kepada Allah. Ketika hati telah diterangi cahaya wahyu, berbagai tekanan eksternal tidak lagi mudah menggoyahkan mereka.

Kehendak Manusia Berhadapan dengan Kehendak Allah

Keindahan ayat ini semakin tampak ketika kita memperhatikan susunan kalimatnya.

Allah menyebutkan terlebih dahulu kehendak manusia:

يُرِيدُونَ…
“Mereka menghendaki…”

Kemudian Allah langsung menyatakan kehendak-Nya:

وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ
“Tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.”

Di sini terdapat pelajaran akidah yang sangat mendalam. Manusia memiliki kehendak (irādah), tetapi kehendak itu berada di bawah kehendak Allah Yang Mahakuasa. Mereka boleh merencanakan, menyusun strategi, mengerahkan kekuatan, bahkan mengira bahwa mereka mampu mengubah arah sejarah. Namun seluruh rencana itu tidak akan pernah melampaui kehendak Allah.

Sayyid Qutb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menggambarkan ayat ini sebagai benturan antara kehendak manusia yang terbatas dengan kehendak Allah yang mutlak. Menurut beliau, gambaran orang-orang yang hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka laksana seseorang yang berusaha meniup matahari agar padam. Gambaran itu menunjukkan betapa lemahnya upaya manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan Allah.

Namun, janji kemenangan tersebut bukan alasan untuk berpangku tangan. Allah memang menjamin agama-Nya, tetapi Allah juga menghendaki agar hamba-hamba-Nya mengambil bagian dalam menjaga, mengamalkan, dan menyebarkan cahaya tersebut. Inilah kemuliaan dakwah: Allah tidak membutuhkan pertolongan manusia, tetapi Allah memuliakan manusia dengan menjadikannya bagian dari perjuangan menegakkan agama-Nya.

Pelajaran Dakwah dan Tarbiyah

Bagi seorang dai, ayat ini mengajarkan bahwa penolakan terhadap dakwah merupakan bagian dari sunnatullah. Yang harus menjadi perhatian bukanlah bagaimana menghilangkan seluruh penentangan, tetapi bagaimana tetap istiqamah menyampaikan kebenaran dengan hikmah, kesabaran, dan akhlak yang mulia.

Bagi seorang murabbi, ayat ini mengingatkan bahwa tugas terbesar tarbiyah adalah membangun manusia yang memiliki keteguhan hati. Dunia akan terus menghadirkan berbagai pengaruh yang ingin membentuk kepribadian manusia menurut nilai-nilai tertentu. Karena itu, pembinaan Islam harus melahirkan pribadi yang memiliki bashirah, sehingga mampu menyaring setiap pemikiran dengan cahaya Al-Qur’an.

Adapun dari perspektif tazkiyatun nafs, ayat ini mengajak setiap mukmin untuk bertanya kepada dirinya sendiri: adakah dalam hati kita keinginan-keinginan yang justru meredupkan cahaya Allah? Sebab musuh terbesar tidak selalu datang dari luar. Terkadang hawa nafsu, cinta dunia, dan kelalaian yang bersemayam di dalam hati menjadi penyebab utama redupnya cahaya iman.

Maka, sebelum kita berbicara tentang berbagai bentuk penentangan terhadap Islam di luar diri kita, marilah kita memastikan bahwa hati kita sendiri tetap menjadi tempat bersemayamnya cahaya Allah. Sebab dari hati yang hidup itulah lahir dakwah yang tulus, tarbiyah yang membangun, dan keteguhan menghadapi berbagai ujian zaman.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.