Hakikat Permusuhan terhadap Islam

by -1570 Views

Ketika membaca firman Allah, “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah…”, muncul sebuah pertanyaan yang mendasar: apakah yang sebenarnya menjadi sasaran permusuhan itu? Apakah Islam dimusuhi karena umatnya memiliki kekuatan politik? Apakah karena peradabannya pernah berjaya? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih mendasar?

Al-Qur’an mengajarkan bahwa hakikat permusuhan terhadap Islam tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang politik, ekonomi, atau sejarah. Semua itu memang memiliki pengaruh, tetapi akar persoalannya berada pada pertarungan antara tauhid dan segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.

Cahaya Tauhid Membebaskan Manusia

Risalah yang dibawa seluruh nabi memiliki inti yang sama, yaitu mengajak manusia hanya menyembah Allah dan membebaskan mereka dari penghambaan kepada makhluk.

Allah Ta’ālā berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'” (QS. An-Nahl: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah para rasul bukan sekadar mengajarkan ritual keagamaan. Mereka datang membawa pembebasan. Pembebasan dari penyembahan berhala, pembebasan dari penghambaan kepada hawa nafsu, pembebasan dari ketakutan kepada sesama manusia, dan pembebasan dari berbagai sistem nilai yang menempatkan makhluk pada posisi yang hanya layak bagi Allah.

Inilah sebabnya mengapa Islam selalu memiliki dimensi pembebasan. Tauhid memerdekakan hati. Ketika seseorang benar-benar mengesakan Allah, ia tidak lagi menjadikan kekuasaan, kekayaan, popularitas, atau manusia lain sebagai sesembahan dalam hidupnya. Ia hanya tunduk kepada Allah Yang Maha Esa.

Sayyid Qutb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menegaskan bahwa risalah Islam adalah deklarasi pembebasan manusia dari seluruh bentuk ‘ubūdiyyah kepada selain Allah. Menurut beliau, selama manusia masih tunduk kepada hawa nafsu, tekanan budaya, atau dominasi sesama manusia yang menggantikan hukum Allah, maka hakikat kemerdekaan belum terwujud.

Dengan demikian, yang sering dipersoalkan oleh berbagai penentang Islam bukan semata-mata keberadaan umat Islam, tetapi nilai tauhid yang membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Mengapa Tauhid Mengusik Banyak Kepentingan?

Sejarah para nabi memperlihatkan bahwa dakwah tauhid hampir selalu berhadapan dengan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan tertentu.

Fir’aun menolak Nabi Musa bukan karena kurang memahami mukjizat yang ditunjukkan kepadanya, tetapi karena dakwah Musa mengancam kekuasaan absolut yang telah ia bangun.

Para pembesar Quraisy menolak Rasulullah ﷺ bukan karena tidak mengenal kejujuran beliau. Mereka sendiri menjuluki beliau al-Amīn. Namun, mereka khawatir bahwa menerima Islam akan mengubah struktur sosial, ekonomi, dan keagamaan yang selama ini menguntungkan mereka.

Allah mengabadikan pengakuan mereka:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan Yang Esa? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Bagi mereka, persoalannya bukan semata-mata teologis. Tauhid akan mengubah seluruh tatanan kehidupan yang dibangun di atas penyembahan kepada berhala, fanatisme kesukuan, dan dominasi elite tertentu.

Pelajaran ini tetap relevan hingga hari ini. Setiap nilai yang mengajak manusia kembali kepada keadilan, amanah, kesucian keluarga, kejujuran, dan tanggung jawab moral akan selalu berhadapan dengan berbagai kepentingan yang bertumpu pada kebalikannya.

Permusuhan terhadap Islam Bukan Permusuhan terhadap Umat Tertentu

Di sinilah pentingnya memahami Al-Qur’an secara adil dan utuh. Ketika berbicara tentang adanya pihak yang memusuhi dakwah, Al-Qur’an tidak mengajarkan kebencian terhadap suatu bangsa, etnis, atau kelompok secara mutlak.

Islam membedakan antara kritik terhadap kezaliman dan kebencian kepada manusia.

Allah bahkan memerintahkan kaum Muslimin untuk berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka.

Firman Allah:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini menjadi penyeimbang yang sangat penting. Permusuhan yang dibicarakan Al-Qur’an adalah permusuhan terhadap kebenaran, bukan alasan untuk membenci semua orang yang berbeda agama atau pandangan. Dakwah Islam tetap dibangun di atas keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Karena itu, ketika kita membahas ghazwul fikr, fokusnya bukan mencari musuh dimana-mana, melainkan memahami berbagai pemikiran, ideologi, atau sistem nilai yang dapat menjauhkan manusia dari petunjuk Allah.

Kelemahan Internal Membuka Pintu Penyerangan

Selain adanya tekanan dari luar, para pemikir Muslim juga mengingatkan bahwa kemunduran umat tidak pernah hanya disebabkan oleh faktor eksternal.

Malik Bennabi dalam Syurūṭ an-Nahḍah memperkenalkan konsep qābiliyyah lil-isti‘mār, yaitu “kondisi yang membuat suatu masyarakat mudah didominasi”. Menurut beliau, kolonialisme atau dominasi tidak akan bertahan lama apabila masyarakat memiliki kekuatan moral, intelektual, dan spiritual yang kokoh.

Gagasan Bennabi tidak dimaksudkan untuk menyalahkan umat yang mengalami penjajahan. Sebaliknya, beliau mengajak umat melakukan muhasabah. Sebuah masyarakat akan lebih mudah dipengaruhi apabila kehilangan kepercayaan diri, menjauh dari ilmu, terjebak dalam perpecahan, atau membiarkan berbagai penyimpangan berkembang tanpa pembinaan.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa kebangkitan umat selalu dimulai dari perubahan internal. Sebelum berbicara tentang berbagai tantangan di luar, umat harus memperbaiki kualitas iman, ilmu, akhlak, dan persatuannya.

Pelajaran Dakwah, Tarbiyah, dan Tazkiyatun Nafs

Dari pembahasan ini, terdapat beberapa pelajaran penting.

Dalam perspektif dakwah, kita belajar bahwa tugas seorang dai adalah menghadirkan kembali kemurnian tauhid. Dakwah bukan sekadar membela identitas Islam, tetapi mengajak manusia mengenal Allah, memerdekakan hati mereka dari penghambaan kepada selain-Nya, dan membimbing mereka menuju kehidupan yang diridhai Allah.

Dalam perspektif tarbiyah, pembinaan umat harus dimulai dengan membangun manusia yang memiliki akidah yang benar, keluasan ilmu, dan akhlak yang mulia. Masyarakat yang kuat lahir dari pribadi-pribadi yang kuat. Sebaliknya, apabila fondasi iman melemah, maka berbagai pengaruh negatif akan lebih mudah masuk ke dalam kehidupan umat.

Sedangkan dalam perspektif tazkiyatun nafs, pembahasan ini mengingatkan bahwa “thaghut” tidak selalu hadir dalam bentuk kekuatan di luar diri kita. Kadang-kadang, thaghut terbesar adalah hawa nafsu yang menuntut untuk selalu diikuti. Ketika seseorang lebih menuruti keinginannya daripada petunjuk Allah, sesungguhnya ia sedang membuka pintu bagi redupnya cahaya iman.

Karena itu, kemenangan pertama dalam menghadapi berbagai bentuk permusuhan terhadap Islam bukanlah kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan atas diri sendiri. Hati yang tunduk kepada Allah akan menjadi benteng yang kokoh. Dari hati yang seperti itulah lahir keberanian berdakwah, keteguhan memegang prinsip, dan kelembutan dalam memperlakukan sesama manusia.

Dengan fondasi tersebut, seorang Muslim mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan keseimbangan: tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam akhlak; waspada terhadap penyimpangan, tetapi tetap adil kepada setiap manusia; teguh menjaga cahaya Allah, namun tidak kehilangan kasih sayang sebagai pembawa risalah rahmatan lil ‘alamin. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.