Propaganda dan Fitnah: Mengaburkan Hakikat Kebenaran

by -44 Views

Setelah memahami bahwa frasa “bi-afwāhihim” menunjukkan penggunaan kata-kata sebagai instrumen untuk memengaruhi manusia, kita perlu memahami bagaimana kata-kata itu bekerja. Al-Qur’an tidak hanya mengungkap adanya perang narasi, tetapi juga memperlihatkan berbagai metode yang digunakan untuk mengaburkan kebenaran.

Dalam bahasa modern, sebagian metode tersebut dikenal dengan istilah propaganda, disinformasi, atau manipulasi opini. Walaupun istilah-istilah itu tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, hakikatnya telah dijelaskan melalui kisah para nabi dan berbagai peristiwa yang diabadikan dalam wahyu.

Propaganda: Mengulang Kebohongan hingga Terlihat Benar

Secara sederhana, propaganda dapat dipahami sebagai upaya menyebarkan suatu narasi secara terus-menerus untuk membentuk cara berpikir masyarakat. Tujuannya bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi mengarahkan persepsi sehingga orang menerima suatu pandangan tanpa melakukan penilaian yang kritis.

Al-Qur’an menunjukkan bahwa cara ini telah digunakan sejak dahulu.

Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalām terus mengulang tuduhan bahwa beliau hanyalah manusia biasa yang tidak pantas diikuti. Mereka berkata:

مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

“Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu.” (QS. Al-Mu’minun: 24)

Ucapan tersebut secara faktual memang benar: Nabi Nuh adalah manusia. Namun, kebenaran parsial (half-truth) itu digunakan untuk menghasilkan kesimpulan yang salah, yaitu menolak kerasulan beliau.

Inilah salah satu ciri propaganda. Ia tidak selalu dibangun di atas kebohongan total. Sering kali ia mencampurkan fakta dengan penafsiran yang keliru sehingga tampak meyakinkan.

Demikian pula Fir’aun. Ketika dakwah Nabi Musa mulai diterima oleh masyarakat, Fir’aun tidak menjawab hujah Musa dengan argumentasi ilmiah. Sebaliknya, ia membangun opini publik bahwa Musa merupakan ancaman bagi stabilitas negeri.

Firman Allah mengabadikan ucapannya:

إِنَّ هَٰذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ • يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ

“Sesungguhnya dia benar-benar seorang penyihir yang sangat pandai. Dia hendak mengusir kamu dari negerimu.” (QS. Asy-Syu’ara’: 34–35)

Tujuan propaganda tersebut bukan mencari kebenaran, tetapi membangkitkan rasa takut masyarakat agar mereka menolak dakwah sebelum sempat mendengarkannya.

Perhatikan bahwa metode ini masih sangat dikenal hingga sekarang.

Suatu gagasan seringkali tidak dibantah berdasarkan substansinya, tetapi melalui penciptaan rasa takut, prasangka, atau stigma terhadap orang yang membawanya.

Syubhat: Senjata yang Menyerang Akal

Muhammad Qutb dalam Syubuhāt Ḥawla al-Islām menjelaskan bahwa salah satu strategi paling efektif untuk melemahkan umat adalah menyebarkan syubhat, yaitu berbagai keraguan yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak ilmiah, rasional, dan objektif.

Syubhat tidak selalu menawarkan jawaban. Seringkali ia hanya menanamkan pertanyaan yang terus berulang hingga keyakinan seseorang mulai melemah.

Mengapa syubhat begitu berbahaya? 

Karena ia menyerang fondasi berpikir manusia. Apabila akidah diibaratkan sebagai akar sebuah pohon, maka syubhat berusaha merusak akar tersebut sedikit demi sedikit. Pohon itu mungkin masih tampak berdiri, tetapi kekuatannya semakin melemah.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan kaum mukminin untuk beriman, tetapi juga untuk berilmu.

Iman yang dibangun diatas ilmu akan lebih kokoh menghadapi berbagai keraguan dibandingkan iman yang hanya bertumpu pada kebiasaan.

Fitnah: Ketika Kebenaran Dikaburkan

Dalam penggunaan Al-Qur’an, kata fitnah memiliki makna yang sangat luas. Ia dapat berarti ujian, cobaan, penindasan, maupun kekacauan yang menjauhkan manusia dari jalan Allah.

Salah satu bentuk fitnah yang paling nyata adalah penyebaran berita bohong untuk menghancurkan kehormatan seseorang atau melemahkan barisan kaum beriman.

Peristiwa Haditsul Ifk, yaitu fitnah terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, merupakan contoh yang sangat jelas.

Berita bohong itu tidak hanya bertujuan menyerang pribadi ‘Aisyah, tetapi juga mengguncang kepercayaan kaum Muslimin kepada keluarga Rasulullah ﷺ. Selama beberapa waktu, Madinah dipenuhi berbagai bisik-bisik, dugaan, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Lalu Allah menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan beliau sekaligus memberikan prinsip-prinsip etika informasi bagi umat Islam.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menjadi fondasi penting dalam menghadapi perang narasi. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi masyarakat yang mudah percaya. Tetapi juga tidak mengajarkan menjadi masyarakat yang mudah menuduh.

Islam mengajarkan tabayyun, yaitu memverifikasi informasi sebelum mempercayai, menyebarkan, atau mengambil keputusan berdasarkan informasi tersebut.

Mengapa Fitnah Mudah Menyebar?

Pertanyaan ini sangat relevan pada era digital saat ini. Mengapa berita bohong seringkali lebih cepat menyebar daripada berita yang benar?

Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa salah satu penyebabnya adalah kecenderungan manusia mengikuti sesuatu yang sesuai dengan prasangka, emosi, atau kepentingannya.

Berita yang membangkitkan kemarahan lebih mudah dibagikan. Informasi yang menguatkan prasangka lebih mudah dipercaya. Kabar yang sensasional sering kali lebih menarik daripada penjelasan yang tenang dan objektif.

Karena itu, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak mengikuti prasangka tanpa dasar.

Allah berfirman:

إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga hati dari prasangka merupakan bagian penting dalam menjaga kejernihan berpikir. Sebab perang narasi tidak hanya berlangsung di ruang publik. Ia juga berlangsung di dalam hati manusia.

Dakwah Dibangun diatas Kejujuran

Berbeda dengan propaganda yang bertujuan memenangkan opini, dakwah Islam dibangun di atas kejujuran.Rasulullah ﷺ tidak pernah menyembunyikan kebenaran demi memperoleh dukungan yang lebih besar. Beliau juga tidak pernah menggunakan kebohongan untuk memenangkan dakwah.

Kepercayaan masyarakat kepada beliau justru lahir karena integritas yang telah terbukti jauh sebelum kenabian. Gelar al-Amīn yang disematkan kepada beliau menjadi modal moral yang sangat besar dalam perjalanan dakwah.

Pelajaran ini sangat penting bagi para aktivis dakwah.

Jangan sampai semangat membela Islam justru mendorong seseorang menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.Tujuan yang baik tidak dapat dibenarkan dengan cara yang buruk.

Membela agama Allah harus dilakukan dengan kejujuran yang diajarkan oleh agama Allah itu sendiri.

Pelajaran Dakwah, Tarbiyah, dan Tazkiyatun Nafs

Dalam perspektif dakwah, pembahasan ini mengingatkan bahwa menghadapi propaganda tidak cukup dengan kemarahan atau sanggahan yang emosional. Dakwah harus menghadirkan narasi yang lebih jernih, argumentasi yang lebih kuat, dan akhlak yang lebih mulia. Cahaya tidak mengusir gelap dengan berteriak kepada kegelapan, tetapi dengan memancarkan terang.

Dalam perspektif tarbiyah, umat perlu dibina menjadi masyarakat yang memiliki budaya membaca, meneliti, berdiskusi secara ilmiah, dan menghargai kebenaran di atas fanatisme. Pendidikan Islam harus melahirkan pribadi yang tidak mudah diperdaya oleh slogan, tetapi mampu menimbang setiap informasi dengan neraca Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Adapun dari perspektif tazkiyatun nafs, peperangan narasi mengingatkan bahwa hati yang dipenuhi hasad, fanatisme, atau cinta popularitas akan lebih mudah menjadi saluran penyebaran fitnah. Sebaliknya, hati yang bersih akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih tenang dalam menerima berita, dan lebih takut kepada Allah daripada tergesa-gesa memenangkan perdebatan.

Karena itu, benteng pertama menghadapi propaganda bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan kejujuran hati. Hati yang hidup bersama Allah akan melahirkan lisan yang jujur, akal yang jernih, dan sikap yang adil dalam menyikapi setiap informasi. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.