Framing dan Disinformasi: Ketika Realitas Dibingkai untuk Menyesatkan

by -1420 Views

Salah satu bentuk perang narasi yang paling halus adalah framing, yaitu membingkai suatu peristiwa dengan sudut pandang tertentu sehingga masyarakat diarahkan kepada kesimpulan yang telah ditentukan. 

Dalam framing, fakta tidak selalu dihilangkan. Sebagian fakta justru ditampilkan, tetapi dipilih, disusun, dan diberi penekanan sedemikian rupa sehingga melahirkan persepsi tertentu.

Karena itu, dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang sangat berbeda. Perbedaannya bukan semata-mata pada fakta, melainkan pada cara fakta itu dibingkai.

Al-Qur’an menunjukkan bahwa teknik semacam ini telah digunakan oleh para penentang dakwah sejak masa para nabi.

Framing terhadap Dakwah Para Nabi

Ketika Rasulullah ﷺ mengajak manusia kepada tauhid, kaum musyrikin tidak mampu membantah kemuliaan akhlak beliau. Mereka mengenal beliau sebagai al-Amīn, sosok yang jujur dan terpercaya. Namun, alih-alih menerima kebenaran, mereka membangun berbagai label untuk memengaruhi persepsi masyarakat.

Allah berfirman:

وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا

“Orang-orang yang zalim berkata, ‘Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.'” (QS. Al-Isra’: 47)

Di tempat lain, mereka menuduh Rasulullah ﷺ sebagai penyair, tukang sihir, orang gila, bahkan pendusta. Tuduhan-tuduhan itu saling bertentangan, tetapi mempunyai tujuan yang sama: membentuk citra negatif agar masyarakat enggan mendengarkan risalah yang beliau bawa.

Inilah hakikat framing. Ketika kebenaran sulit dipatahkan, perhatian dialihkan kepada pembawa kebenaran. Fokus tidak lagi pada isi pesan, tetapi pada upaya merusak kredibilitas penyampainya.

Fenomena ini tetap relevan hingga hari ini. Dikenal hari ini sebagai strategi Kill the messenger. Tidak dalam pengertian harfiah, tetapi dirusak kredibilitas si pembawa pesannya. Tidak jarang suatu gagasan ditolak bukan karena lemah secara argumentatif, melainkan karena orang yang menyampaikannya telah lebih dahulu diberi stigma tertentu.

Al-Qur’an mengajarkan agar kaum mukminin tidak mudah terjebak pada permainan citra. Tetap fokus, apa yang harus dinilai adalah hujah dan bukti, bukan sekadar label atau opini yang berkembang.

Disinformasi: Menyesatkan Melalui Informasi yang Dipelintir

Jika framing mengarahkan cara pandang, maka disinformasi bertujuan menciptakan kesalahan pemahaman melalui informasi yang sengaja dipelintir atau dipotong dari konteksnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, disinformasi dapat muncul dalam berbagai bentuk: kutipan yang tidak utuh, data yang disajikan secara selektif, atau pernyataan yang dilepaskan dari konteksnya sehingga menghasilkan makna yang berbeda.

Said Hawwa dalam Al-Asās fī at-Tafsīr mengingatkan bahwa salah satu ujian besar umat pada masa modern adalah dominasi berbagai pemikiran yang membentuk persepsi manusia secara perlahan. Ketika cara pandang telah berubah, manusia akan memandang yang hak sebagai batil dan yang batil sebagai hak.

Beliau menegaskan pentingnya taṣḥīḥ at-taṣawwur—meluruskan cara pandang—melalui tadabbur Al-Qur’an. Sebab kerusakan perilaku seringkali berawal dari kerusakan persepsi.

Inilah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya memberikan hukum, tetapi juga membangun cara berpikir. Wahyu mendidik manusia agar melihat kehidupan dengan neraca tauhid, bukan dengan ukuran hawa nafsu atau tekanan budaya.

Fasād at-Taṣawwur: Kerusakan Cara Pandang

Salah satu dampak paling berbahaya dari perang narasi adalah lahirnya fasād at-taṣawwur, yaitu rusaknya cara seseorang memahami Allah, manusia, kehidupan, dan tujuan penciptaannya.

Ketika taṣawwur Islam melemah, perubahan perilaku akan terjadi dengan sendirinya.

Seseorang yang memandang kebebasan sebagai nilai tertinggi akan sulit menerima konsep ubudiyah kepada Allah. Orang yang menganggap kebahagiaan identik dengan materi akan memandang ibadah sebagai beban.Masyarakat yang mengukur keberhasilan hanya dengan popularitas dan kekayaan akan kehilangan penghargaan terhadap ilmu, amanah, dan ketakwaan.

Disinilah letak keberhasilan perang narasi. Musuh tidak perlu melarang manusia membaca Al-Qur’an jika mereka berhasil menjadikan Al-Qur’an terasa tidak relevan dalam kehidupan. Mereka tidak perlu menghancurkan masjid apabila manusia datang ke masjid hanya sebagai rutinitas tanpa menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup.

Perubahan seperti ini berlangsung perlahan, seringkali tanpa disadari. Karena itu, pembinaan akidah dan tadabbur Al-Qur’an harus terus dilakukan agar persepsi seorang Muslim selalu dikembalikan kepada pandangan hidup yang benar.

Hoaks dalam Perspektif Al-Qur’an

Di era digital, istilah hoaks telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berita palsu dapat menyebar dalam hitungan detik dan menjangkau jutaan orang sebelum sempat diverifikasi.

Meskipun istilahnya baru, fenomenanya bukanlah hal baru.

Al-Qur’an telah lama mengingatkan bahwa kebohongan yang disebarkan melalui lisan dapat menimbulkan kerusakan yang sangat besar.

Peristiwa Haditsul Ifk menjadi bukti nyata bagaimana satu kebohongan mampu mengguncang kehidupan masyarakat Madinah. Allah kemudian menurunkan ayat-ayat yang bukan hanya membersihkan nama Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, tetapi juga mendidik umat agar memiliki etika dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Allah berfirman:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ

“Ketika kamu menerima berita itu dari mulut ke mulut dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui…” (QS. An-Nur: 15)

Ayat ini sangat menarik karena menggambarkan mekanisme penyebaran hoaks. Orang-orang mengulang informasi tanpa ilmu, tanpa verifikasi, dan tanpa mempertimbangkan akibatnya.

Bukankah pola ini sangat mirip dengan fenomena media sosial saat ini?

Seseorang menerima sebuah pesan. Ia tidak memeriksa sumbernya. Tidak meneliti isinya. Tidak memastikan kebenarannya. Lalu ia meneruskannya kepada orang lain. Dalam beberapa menit, informasi itu telah menyebar ke ribuan bahkan jutaan orang.

Al-Qur’an tidak hanya melarang kebohongan, tetapi juga melarang sikap tergesa-gesa dalam menyebarkan berita. Islam menjadikan tabayyun sebagai bagian dari akhlak seorang mukmin.

Al-Qur’an sebagai Penjernih Informasi

Di tengah derasnya arus informasi, seorang Muslim memerlukan standar yang tetap. Standar itu bukan sekadar opini publik, bukan pula tren yang sedang populer, melainkan wahyu Allah.

Said Hawwa menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah al-mīzān, timbangan yang benar untuk menilai berbagai persoalan kehidupan. Ketika manusia kembali kepada Al-Qur’an dengan tadabbur yang mendalam, ia memiliki kemampuan untuk membedakan antara fakta dan manipulasi, antara ilmu dan prasangka, serta antara nasihat yang tulus dan propaganda yang menyesatkan.

Oleh karena itu, solusi menghadapi hoaks bukan hanya meningkatkan kemampuan teknologi atau literasi digital, meskipun keduanya penting. Tetapi, ada yang jauh lebih mendasar, yaitu membangun hati yang jujur, akal yang kritis, dan kepribadian yang menjadikan wahyu sebagai rujukan utama.

Pelajaran Dakwah, Tarbiyah, dan Tazkiyatun Nafs

Dalam perspektif dakwah, perang narasi mengajarkan bahwa umat Islam harus menjadi penyebar informasi yang benar, bukan sekadar menjadi pihak yang paling cepat menyampaikan berita. Dakwah membutuhkan kredibilitas. Sekali kepercayaan hilang karena kebohongan, akan sangat sulit mengembalikannya.

Dalam perspektif tarbiyah, pendidikan Islam harus membentuk generasi yang tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijak mengelola informasi. Literasi digital harus berjalan seiring dengan literasi wahyu, sehingga setiap informasi ditimbang dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Adapun dari perspektif tazkiyatun nafs, peperangan informasi mengingatkan bahwa sumber kebohongan sering kali bukan kurangnya data, tetapi penyakit hati. Hasad, fanatisme, cinta popularitas, dan keinginan memenangkan kelompok dapat mendorong seseorang menyebarkan informasi yang tidak benar. Sebaliknya, hati yang dipenuhi muraqabah akan selalu bertanya sebelum berbicara: Apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah Allah meridhainya?

Dengan demikian, kemenangan dalam perang narasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara, tetapi oleh kejernihan hati. Cahaya wahyu akan memancar melalui lisan yang jujur, akal yang lurus, dan jiwa yang senantiasa terhubung kepada Allah. Itulah benteng sejati yang tidak dapat ditembus oleh propaganda, framing, maupun hoaks, betapapun canggihnya sarana yang digunakan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.