Pendahuluan: Ketika Aib menjadi Tontonan, Hiburan dan Komoditas di Era Digital

by -1536 Views

Kita hidup pada zaman ketika hampir tidak ada lagi sesuatu yang benar-benar tersembunyi. Kamera berada ditangan setiap orang. Percakapan dapat direkam, disimpan, dan disebarkan. 

Kesalahan yang dahulu mungkin hanya diketahui oleh beberapa orang, hari ini dapat menjadi konsumsi ribuan bahkan jutaan manusia hanya dalam hitungan detik.

Ditengah keadaan seperti ini, Islam mengajarkan sebuah adab yang terasa semakin mahal: menutup aib saudara.

Dalam bahasa syariat, ia dikenal dengan istilah satrul ‘uyūb—menutup kekurangan dan aib seorang Muslim, tidak menjadikannya bahan pembicaraan, tidak menyebarkannya, dan tidak menjadikan kelemahan saudaranya sebagai sarana untuk meninggikan dirinya sendiri.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi buta terhadap kesalahan. Islam juga tidak memerintahkan kita menutupi kezaliman atau menghalangi tegaknya keadilan. Akan tetapi, Islam mengajarkan kepada kita bahwa mengetahui kesalahan seseorang tidak otomatis memberikan hak kepada kita untuk mempermalukannya.

Disinilah letak persoalannya.

Kita sering kali lebih cepat menjadi hakim daripada menjadi saudara sesama muslim. Kita tergoda untuk menunjukkan kesalahan sebelum berusaha memperbaikinya. Kita merasa puas ketika keburukan seseorang terbongkar, terutama jika orang tersebut pernah menyakiti kita, berbeda dengan kita, atau berada di pihak yang tidak kita sukai.

Padahal, seorang Muslim seharusnya bertanya lebih dahulu: Apakah dengan menyebarkan aib ini keadaan akan menjadi lebih baik? Ataukah saya hanya sedang memuaskan amarah, mencari perhatian, atau menjatuhkan kehormatan saudara saya?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting di era digital.

Hadis Induk: Sebuah Janji dari Allah

Buku ini berangkat dari sebuah hadis Nabi ﷺ yang menjadi poros utama pembahasan:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Hadis ini merupakan bagian dari rangkaian ajaran Rasulullah ﷺ tentang saling membantu, meringankan kesulitan, dan menjaga kehormatan sesama Muslim. Dalam Shahih Muslim, hadis tersebut ditempatkan bersama sejumlah keutamaan sosial yang menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak hidup hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia juga memiliki tanggung jawab terhadap saudaranya.

Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ menghubungkan perbuatan seorang hamba dengan perlakuan Allah kepadanya. Ketika kita menutup aib seorang Muslim, Allah menutup aib kita.

Inilah yang dikenal dalam kaidah para ulama sebagai:

الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ

“Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”

Seorang manusia memiliki kelemahan. Tidak ada seorangpun yang hidup tanpa cela. Ada dosa yang diketahui orang lain dan ada dosa yang hanya diketahui dirinya dan Allah. Ada kesalahan yang pernah dilakukan pada masa lalu dan ada kekhilafan yang mungkin masih diperjuangkan untuk ditinggalkan.

Karena itu, ketika kita melihat kekurangan saudara kita, sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan sebuah ujian: apakah kita akan menjadi orang yang membuka tirai atau orang yang menjaga tirai itu?

Hadis ini tidak hanya mengajarkan bagaimana memperlakukan orang lain. Ia sekaligus mengajarkan kepada kita bagaimana berharap kepada Allah.

Dari Menutup Aib Menuju Memberi Ruang bagi Taubat

Menutup aib bukan berarti membenarkan kemaksiatan. Ini adalah prinsip yang sangat penting untuk dipahami sejak awal.

Jika seorang Muslim melakukan kesalahan yang bersifat pribadi, kemudian ia menyesal dan berusaha memperbaikinya, maka membongkar kesalahannya kepada publik bukanlah bentuk amar makruf yang otomatis dibenarkan. Bisa jadi yang lebih dibutuhkan adalah nasihat yang tulus, percakapan empat mata, bimbingan, dan doa.

Seorang muslim tidak hanya bertugas menunjukkan bahwa seseorang salah. Ia juga bertugas membantu orang yang salah untuk kembali kepada jalan yang benar.

Di sinilah perbedaan antara semangat dakwah dan semangat menghakimi. Seorang muslim pendakwah (da’i) bertanya: “Bagaimana agar ia berubah?” Sedangkan ego bertanya: “Bagaimana agar semua orang tahu bahwa ia salah?” Keduanya mungkin menggunakan kata-kata yang sama—kebenaran, nasihat, amar makruf, kepedulian terhadap umat—tetapi berasal dari hati yang berbeda.

Karena itu, menutup aib merupakan bagian dari tazkiyatun nafs. Ia melatih seseorang untuk mengendalikan ego, menahan kenikmatan melihat kehinaan orang lain, dan membebaskan hati dari keinginan memperoleh kemuliaan dengan merendahkan saudaranya.

Ketika Aib Menjadi Komoditas Digital

Tantangan ini semakin besar di zaman media sosial. Kehidupan digital menciptakan ruang dimana perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan. 

Orang membangun citra dirinya, mencari pengakuan, mengejar likes, komentar, dan engagement. Dalam situasi seperti itu, kisah tentang skandal, konflik, kesalahan, dan aib seseorang mudah sekali menarik perhatian.

Sinan Aral, dalam The Hype Machine, membahas bagaimana ekosistem media sosial bekerja melalui berbagai sinyal sosial dan mekanisme penyebaran informasi. Penelitian yang ia ikut lakukan juga menemukan bahwa informasi palsu di Twitter pada periode yang diteliti menyebar lebih jauh, lebih cepat, dan lebih luas daripada informasi benar.

Masalahnya bukan sekadar kecepatan.Masalah yang lebih mendasar adalah hilangnya kesempatan bagi seseorang untuk memperbaiki kesalahan secara diam-diam.

Satu kesalahan dapat berubah menjadi identitas. Satu dosa masa lalu dapat menjadi label seumur hidup. Satu rekaman dapat dipisahkan dari konteksnya dan dijadikan alasan untuk menghakimi seseorang tanpa mengetahui keseluruhan cerita.

Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation juga mengingatkan tentang perubahan besar yang terjadi ketika kehidupan anak dan remaja semakin terhubung dengan dunia berbasis telepon pintar dan media sosial. Ia mengaitkannya dengan berbagai persoalan psikologis dan sosial yang berkembang pada generasi muda.

Karena itu, umat Islam membutuhkan bukan hanya literasi digital, tetapi juga adab digital. Kita perlu belajar bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga kapan harus berhenti menggunakan teknologi untuk menyebarkan sesuatu yang seharusnya kita tutupi.

Menutup Aib Bukan Berarti Menutup Kebenaran

Namun, ada batas yang harus ditegaskan. Tidak semua perkara boleh ditutup dengan alasan satrul ‘uyūb. Menutup aib tidak boleh dijadikan alasan untuk menyembunyikan kezaliman, menghalangi kesaksian, melindungi pelaku kejahatan, atau membiarkan seseorang terus-menerus menjadi korban.

Di sinilah ilmu fikih dan hikmah diperlukan.

Islam memiliki perintah untuk menjaga kehormatan manusia, tetapi Islam juga memiliki perintah untuk menegakkan keadilan. Islam memerintahkan menutup aib, tetapi juga melarang menyembunyikan kesaksian yang wajib disampaikan. Islam mengajarkan kasih sayang, tetapi kasih sayang tidak boleh berubah menjadi perlindungan terhadap kezaliman.

Karena itu, buku ini tidak akan membahas satrul ‘uyūb secara sederhana dengan formula: “Jangan pernah membuka aib siapa pun.” Pembahasannya justru akan membawa kita kepada pertanyaan yang lebih penting: Kapan aib harus ditutup? Kapan suatu keburukan harus disampaikan? Kepada siapa? Untuk tujuan apa? Dengan cara bagaimana? Dan apa yang terjadi pada hati kita ketika kita memilih untuk menutup atau membuka aib seseorang?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita telusuri melalui Al-Qur’an, Sunnah, penjelasan para ulama, serta realitas kehidupan manusia di era digital.

Kembali kepada Adab Kenabian

Pada akhirnya, menutup aib adalah latihan untuk keluar dari pusat diri kita sendiri. Kita belajar bahwa saudara kita bukan objek untuk mendapatkan likes. Ia bukan bahan untuk membangun popularitas. Ia bukan tangga untuk menaikkan posisi sosial kita (pansos).

Ia adalah seorang Muslim yang memiliki kehormatan. Dan mungkin, pada suatu hari, kita sendiri akan membutuhkan orang lain untuk menutup aib kita.

Hadis Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah harapan yang sangat dalam: ketika kita menjaga kehormatan saudara kita di dunia, kita sedang mengetuk pintu rahmat Allah agar Dia menjaga kehormatan kita di dunia dan akhirat.

Maka sebelum jari kita menekan tombol share atau like, sebelum lisan kita menyampaikan sebuah cerita, dan sebelum kita ikut menghakimi seseorang di hadapan manusia, marilah bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang akan saya lakukan ini mendekatkan seorang hamba kepada Allah, atau justru menjauhkan dan mempermalukannya?

Sebab seorang muslim tidak bergembira ketika saudaranya jatuh. Ia justru berharap saudaranya bangkit. Dan seorang Muslim yang memahami makna ukhuwah tidak sibuk menghitung aib saudaranya, karena ia terlalu sibuk memperbaiki aib dirinya sendiri.

Di situlah satrul ‘uyūb berubah dari sekadar adab sosial menjadi jalan tazkiyah, sarana dakwah, dan bentuk kasih sayang seorang mukmin kepada saudaranya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.