Allah Menyukai Satr

by -1418 Views

Menutup aib bukan sekadar etika sosial. Ia memiliki akar yang lebih dalam, yaitu hubungan seorang hamba dengan Allah سبحانه وتعالى.

Seorang Muslim yang belajar menutup aib saudaranya sesungguhnya sedang belajar memahami bagaimana Allah memperlakukan dirinya. Berapa banyak kesalahan yang kita lakukan dalam kesendirian, tetapi Allah tidak membukanya kepada manusia? Berapa banyak kekurangan yang ada pada diri kita, tetapi Allah tetap memberikan kita kehormatan di hadapan sesama?

Di sinilah satrul ‘uyūb memiliki dimensi spiritual: menutup aib merupakan bentuk syukur atas tirai Allah yang selama ini menaungi kehidupan kita.

Allah adalah As-Sittīr

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ، يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ

“Sesungguhnya Allah عز وجل Maha Pemalu lagi Maha Menutupi; Dia mencintai rasa malu dan penutupan (aib).” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i)

Hadis ini memperkenalkan kepada kita salah satu sifat Allah, As-Sittīr (السِّتِّير), Dzat Yang Maha Menutupi.

Nama As-Sittīr berasal dari makna satr, yaitu menutup dan melindungi dari pandangan. Allah mengetahui seluruh keadaan hamba-Nya. Tidak ada dosa yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya. Namun, dalam keluasan rahmat-Nya, Allah tidak serta-merta menjadikan seluruh dosa dan kekurangan seorang hamba sebagai tontonan manusia.

Inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menggambarkan betapa manusia membutuhkan tirai Allah dalam kehidupannya. Jika seluruh keburukan batin manusia disingkapkan kepada sesamanya, kehidupan sosial akan menjadi sangat berat. Banyak manusia yang secara lahiriah tampak baik karena Allah menutup apa yang tidak layak dilihat oleh manusia lain.

Maka ketika Allah menutup aib kita, itu bukan tanda bahwa Allah tidak mengetahui dosa kita. Justru karena Dia mengetahui seluruhnya, tetapi memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri.

Tirai Allah adalah Kesempatan untuk Taubat

Ibn al-Qayyim dalam Madārij al-Sālikīn banyak menjelaskan tentang rahmat Allah kepada hamba dan bagaimana Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk kembali kepada-Nya.

Bayangkan seorang hamba melakukan kesalahan pada malam hari. Tidak ada manusia yang melihat. Kemudian pagi datang dan ia tetap dapat berjalan di tengah masyarakat dengan kehormatan yang masih terjaga.

Siapa yang menutupnya?

Allah.

Penutupan itu bukan legitimasi bagi dosa. Ia adalah kesempatan untuk taubat.

Karena itu, ketika seseorang mengetahui aib saudaranya, hendaknya ia mengingat pengalaman dirinya sendiri. Bukankah kita juga hidup di bawah tirai Allah?

Jika Allah yang Maha Mengetahui memilih menutup sebagian kesalahan kita dari manusia, mengapa kita begitu bersemangat membuka kesalahan saudara kita?

Al-Jazā’ min Jins al-‘Amal

Hubungan antara satr dan rahmat Allah dijelaskan secara sangat kuat melalui prinsip:

الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ

“Balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.”

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhāj fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan kandungan hadis:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Janji ini menunjukkan adanya hubungan antara perbuatan seorang hamba dan balasan Allah. Ketika seseorang menjaga kehormatan saudaranya, Allah menjanjikan penjagaan terhadap kehormatannya.

Di dunia, penutupan itu dapat berupa Allah menjaga seseorang dari terbukanya aib yang tidak layak diketahui manusia. Di akhirat, ia mendapatkan perlindungan Allah sesuai dengan kehendak dan rahmat-Nya.

Betapa besar nilai sebuah tindakan yang kadang dianggap sederhana oleh manusia. Kita hanya menahan satu cerita. Kita hanya tidak membagikan satu foto. Kita hanya memilih diam ketika orang lain mulai membicarakan keburukan seseorang. Tetapi di sisi Allah, sikap tersebut dapat menjadi sebab datangnya perlindungan bagi diri kita.

Meneladani Akhlak yang Dicintai Allah

Dalam tradisi akhlak Islam terdapat gagasan takhalluq bi akhlāqillāh, yaitu membentuk akhlak seorang mukmin dengan sifat-sifat terpuji yang sesuai dengan batas kemanusiaannya, bukan menyamai sifat Allah.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fatḥ al-Bārī menjelaskan pentingnya menutup aib dan menjaga kehormatan sesama. Seorang mukmin seharusnya tidak tergesa-gesa membuka cacat saudaranya karena ia sendiri adalah manusia yang membutuhkan penutupan Allah.

Di sinilah lahir sebuah pertanyaan untuk hati: Jika Allah yang Maha Suci menutupi dosa hamba-Nya, mengapa hamba yang penuh kekurangan justru sibuk mencari-cari kekurangan orang lain?

Pertanyaan ini bukan hanya ditujukan kepada lisan kita, tetapi kepada penyakit hati kita. Jangan-jangan kegemaran membuka aib orang lain lahir dari ujub, merasa diri lebih baik. Atau dari takabbur, merasa lebih suci. Atau dari ghurur, lupa bahwa keselamatan kita pun sepenuhnya bergantung pada rahmat Allah.

Satr dan Keikhlasan

Menutup aib juga mendidik seorang Muslim untuk memiliki integritas dalam ketersembunyian.

Ada amal yang tidak perlu diketahui manusia. Demikian pula ada nasihat yang lebih baik disampaikan secara pribadi dan ada kesalahan yang lebih baik diperbaiki dalam diam.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam memberikan perhatian besar terhadap adab seorang Muslim dalam menasihati saudaranya. Menutup aib bukan berarti membiarkan kesalahan, tetapi menghendaki agar perbaikan dilakukan dengan cara yang menjaga kehormatan.

Seorang mukmin tidak bertanya: “Bagaimana agar semua orang tahu kesalahannya?” Tetapi: “Bagaimana agar saudaraku kembali kepada Allah?” Inilah perbedaan antara dakwah dan sekadar penghakiman. Dakwah menginginkan taubat. Tarbiyah menginginkan perubahan. Tazkiyah menginginkan hati yang bersih.

Sedangkan budaya membuka aib sering kali hanya menghasilkan rasa puas karena melihat orang lain jatuh.

Menjadi Tirai bagi Saudara

Pada akhirnya, satrul ‘uyūb adalah latihan spiritual yang menghubungkan hati seorang mukmin dengan rahmat Allah.

Kita menutup aib bukan karena dosa itu benar. Kita menutupnya agar pintu taubat tetap terbuka. Kita menutup aib bukan karena kita tidak peduli terhadap kemungkaran. Kita menutupnya karena kita ingin perbaikan berlangsung dengan hikmah. Dan kita menutup aib bukan karena kita merasa lebih suci. Justru karena kita sadar bahwa diri kita sendiri hidup di bawah tirai Allah.

Maka jadilah seorang Muslim yang ketika mengetahui kekurangan saudaranya, ia memilih menjadi tirai, bukan pembongkar.

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Mungkin manusia tidak akan pernah tahu bahwa kita pernah menutup aib seseorang. Tetapi kita berharap Allah mengetahuinya. Dan cukuplah bagi seorang mukmin bahwa ketika manusia sibuk membuka tirai saudaranya, ia memilih untuk menjaga tirai yang Allah titipkan kepadanya.

Jadi sesungguhnya, orang yang belajar menutup aib saudaranya sedang belajar menjadi hamba yang berharap aibnya sendiri ditutup oleh Allah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.