Barang Siapa Menutup Aib Saudaranya…

by -1408 Views

Hadis utama buku ini memiliki kalimat yang pendek, tetapi kandungan pendidikannya sangat dalam:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Untuk memahami pesan Nabi ﷺ secara mendalam, kita tidak cukup membaca hadis ini sebagai sebuah anjuran moral. Kita perlu melakukan tadabbur terhadap pilihan kata yang digunakan Rasulullah ﷺ, khususnya ungkapan:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا
Man satara musliman — “barang siapa menutupi seorang Muslim.”

Mengapa Nabi ﷺ menggunakan kata سَتَرَ (satara)?

Satara: Menutup, Bukan Sekadar Diam

Secara bahasa, satr berarti menutup atau menyembunyikan sesuatu dari pandangan. Karena itu, menutup aib bukan sekadar memilih untuk tidak berbicara. Ia adalah tindakan sadar untuk menghalangi sesuatu yang memalukan agar tidak menjadi konsumsi manusia.

Dalam penjelasan Imam an-Nawawi terhadap hadis ini dalam Al-Minhāj fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, satr yang dipuji adalah menutupi aib seorang Muslim, khususnya orang yang tidak dikenal sebagai pelaku kerusakan dan kejahatan. An-Nawawi menjelaskan bahwa orang yang memiliki kesalahan tetapi bukan orang yang dikenal dengan kejahatan dan kerusakan tidak semestinya langsung dipermalukan; ia lebih layak dinasihati dan ditutup aibnya.

Dengan demikian, satara mengandung sebuah tindakan protektif.

Kita melihat sesuatu yang tidak pantas diketahui publik, lalu kita memilih menjadi tirai, bukan menjadi pengeras suara.  Kita mengetahui sebuah kesalahan, tetapi kita tidak menjadikannya bahan percakapan. Kita memperoleh sebuah informasi pribadi, tetapi kita tidak menjadikannya konten.

Inilah adab yang semakin mahal di zaman ketika satu tombol share dapat membuat sebuah kesalahan diketahui ribuan manusia.

Satr sebagai Shiyānah

Makna satr juga berkaitan dengan penjagaan dan perlindungan. Dalam pengertian ini, menutup aib bukan hanya menyembunyikan informasi, tetapi menjaga kehormatan seseorang dari kerusakan yang tidak perlu.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, ketika menjelaskan hadis tentang kewajiban memperhatikan keadaan saudara Muslim, menempatkan satr sebagai bagian dari akhlak yang menjaga hubungan antarmanusia. Seorang mukmin tidak berhenti pada mengetahui kesalahan saudaranya; ia berusaha menolongnya keluar dari kesalahan tersebut tanpa merusak kehormatannya.

Karena itu, satr memiliki dua sisi: menutup aib dari manusia dan membuka jalan perbaikan bagi pelakunya. Jika kita hanya menutup mulut tetapi membiarkan saudara kita terus terjerumus, kita belum memahami keseluruhan ruh satr.

Menutup aib harus berjalan bersama nasihat dan ishlah.

Satr Bukan Membenarkan Kesalahan

Di sinilah kita harus berhati-hati. Menutup aib bukan berarti mengatakan bahwa dosa adalah benar. Menutup aib bukan berarti membela kemaksiatan. Menutup aib bukan berarti menghalangi keadilan.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fatḥ al-Bārī menjelaskan bahwa penutupan yang dipuji adalah penutupan terhadap orang yang tidak dikenal dengan kejahatan dan kerusakan. Adapun orang yang terang-terangan melakukan kerusakan dan apabila ditutup justru semakin berani melakukan kejahatan, maka penutupan semacam itu tidak lagi menghasilkan maslahat. Bahkan dapat memperbesar kerusakan.

Karena itu, satr harus dibaca bersama prinsip maslahat.

Jika seseorang melakukan kesalahan pribadi, menyesal, dan berusaha memperbaikinya, maka menutup aibnya adalah bentuk rahmat. Tetapi, jika seseorang melakukan kejahatan yang membahayakan orang lain dan penutupan tersebut membuat kejahatan terus berlangsung, maka persoalannya berbeda.

Siapa yang Dimaksud dengan “Man”?

Hadis menggunakan kata:

مَنْman

“Barang siapa…”

Kata ini bersifat umum. Ia tidak mengatakan hanya ulama, hanya pemimpin, hanya orang tua, atau hanya orang tertentu.

Artinya, setiap Muslim memiliki kesempatan untuk melakukan amal ini. Seorang ayah dapat menutup aib anaknya.Seorang anak dapat menjaga rahasia orang tuanya. Seorang sahabat dapat menjaga kehormatan sahabatnya. Seorang guru dapat menasihati muridnya tanpa mempermalukannya. Seorang pemimpin dapat memperbaiki kesalahan bawahannya tanpa menjadikannya tontonan. Bahkan seseorang yang tidak memiliki kedudukan apa pun tetap dapat menjadi pelindung kehormatan saudaranya.

Mengapa “Muslim” yang Disebut?

Nabi ﷺ menggunakan:

مُسْلِمًاmusliman

“Seorang Muslim.”

Ini menunjukkan bahwa hubungan iman melahirkan tanggung jawab moral. Seorang Muslim tidak boleh memandang kehormatan saudaranya sebagai sesuatu yang tidak berharga.

Ukhuwah bukan sekadar perasaan bahwa kita bersaudara. Ukhuwah memiliki konsekuensi. Ketika saudara kita memiliki kelemahan, kita tidak menjadikannya bahan untuk meninggikan diri. Ketika ia tergelincir, kita tidak menjadikan kejatuhannya sebagai kesempatan untuk merasa lebih suci. Kita menolongnya bangkit.

Bedah Kata yang Mengubah Perilaku

Dengan demikian, مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا mengandung tiga pelajaran besar.

Pertama, kesadaran. Satr adalah tindakan sadar untuk menutup sesuatu yang tidak layak diketahui publik.

Kedua, perlindungan. Tujuannya menjaga kehormatan manusia dan memberikan ruang bagi perbaikan.

Ketiga, ukhuwah. Yang kita lindungi bukan sekadar reputasi seseorang, tetapi kehormatan saudara seiman.

Karena itu, ketika seseorang mengirimkan kepada kita foto, video, atau cerita yang mempermalukan orang lain, jangan buru-buru bertanya: “Apakah ini menarik untuk dibagikan?”

Tanyakan: “Apakah Allah ridha jika saya membuka apa yang telah Allah tutup?”

Ditengah budaya viral, Nabi ﷺ mengajarkan budaya satr. Ditengah masyarakat yang semakin gemar menghakimi, beliau mengajarkan rahmat. Dan ditengah manusia yang berlomba menjadi orang pertama yang membongkar kesalahan, Rasulullah ﷺ mengajarkan kemuliaan menjadi orang yang pertama kali menutupinya dan membantu saudaranya kembali kepada Allah.

Itulah kekuatan kata sederhana:

سَتَرَsatara.

Satu kata yang mengajarkan kita bahwa seorang Muslim tidak hanya bertugas menjaga dirinya dari keburukan, tetapi juga menjaga saudaranya agar keburukan yang pernah ia lakukan tidak berubah menjadi kehancuran hidupnya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.