Mengapa Aib Orang Lain Menarik bagi Kita?

by -1460 Views

Mengapa kita begitu sulit memalingkan wajah dari skandal?

Mengapa sebuah kesalahan seseorang yang sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan kita dapat membuat kita berhenti menggulir layar, membaca komentar demi komentar, lalu ikut memberikan penilaian?

Di era digital, aib bukan lagi sekadar berita. Ia telah menjadi magnet perhatian. Sebuah foto, video, potongan percakapan, atau cerita tentang kesalahan seseorang dapat menyebar dalam hitungan menit. Apa yang semula hanya diketahui oleh beberapa orang dapat berubah menjadi konsumsi ribuan bahkan jutaan manusia.

Persoalan satrul ‘uyub tidak cukup dibahas dengan pertanyaan, “Apakah kita boleh menyebarkannya?” Kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: “Mengapa kita begitu tertarik untuk melihatnya?”

Disinilah wilayah tazkiyatun nafs dimulai. Sebelum menutup aib orang lain, kita harus berani membedah hati sendiri.

Rasa Superioritas: Menaikkan Diri dengan Merendahkan Orang Lain

Salah satu penyakit hati yang dapat membuat manusia menikmati keburukan orang lain adalah keinginan untuk merasa lebih tinggi.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ketika membahas penyakit lisan dan ghibah, menjelaskan bahwa seseorang dapat membicarakan keburukan orang lain untuk menunjukkan kelebihan dirinya. Dengan merendahkan orang lain, ia secara tidak langsung sedang membangun citra dirinya sendiri.

Inilah jebakan yang sangat halus.

Kita melihat seseorang melakukan kesalahan, lalu berkata, “Saya tidak mungkin seperti itu.” Kita melihat seseorang jatuh dalam dosa, lalu merasa, “Untung saya masih lebih baik.” Tanpa disadari, perhatian kita terhadap dosa orang lain telah berubah menjadi sarana untuk memproduksi rasa suci dalam diri sendiri.

Jon Ronson dalam So You’ve Been Publicly Shamed menggambarkan fenomena penghukuman publik dan bagaimana orang dapat memperoleh kepuasan ketika merasa dirinya berada di pihak yang benar. Ia menggambarkan perasaan itu dengan ungkapan: “I was Braveheart, crossing the field, initially alone, then it became clear that hundreds of people were marching behind me.”

Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana seseorang dapat merasa dirinya sebagai pahlawan moral ketika banyak orang mengikuti penghakimannya. Padahal, seorang mukmin justru diperintahkan untuk takut terhadap perasaan bahwa dirinya lebih suci daripada orang lain.

Avalanche: Ketika Tanggung Jawab Pribadi Menghilang

Masalah menjadi semakin serius ketika penyingkapan aib berlangsung secara massal. Ronson menggunakan gambaran yang sangat kuat: “The snowflake never needs to feel responsible for the avalanche.” “Kepingan salju tidak pernah merasa bertanggung jawab atas terjadinya longsor.”

Satu share terasa kecil. Satu komentar terasa sepele. Satu retweet mungkin tampak tidak berarti. Tetapi ribuan tindakan kecil dapat bergabung menjadi sebuah longsoran sosial yang menghancurkan seseorang.

Inilah salah satu bahaya besar media digital: manusia dapat berpartisipasi dalam kehancuran seseorang tanpa pernah merasa menjadi penyebabnya.

“Bukan saya yang menghancurkannya. Saya hanya membagikan.” “Sudah viral sebelum saya membagikannya.” “Semua orang juga membicarakannya.”

Padahal setiap tangan yang menekan tombol share ikut menambah kekuatan arus tersebut.

Dalam perspektif Islam, alasan seperti ini tidak menghapus tanggung jawab moral. Seorang Muslim tetap bertanggung jawab atas apa yang ia ucapkan, tuliskan, dan sebarkan.

Feedback Loops: Ketika Penyingkapan Mendatangkan Kenikmatan

Ada mekanisme lain yang membuat manusia semakin tertarik pada aib orang lain: feedback loops, atau lingkaran umpan balik.

Dalam pembahasan yang dikutip Jon Ronson, Thomas Goetz menjelaskan bahwa feedback loop dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk mengubah perilaku karena seseorang menerima informasi tentang dampak tindakannya secara cepat.

Media sosial menyediakan mekanisme ini dengan sangat sempurna.

Kita menulis komentar. Kemudian muncul likes. Kita membagikan sebuah berita. Kemudian datang retweet, komentar, dan dukungan. Kita menyerang seseorang. Lalu orang lain mengatakan, “Setuju!”

Tiba-tiba kita merasa didengar.

Michael Moynihan, wartawan yang terlibat dalam pengungkapan skandal plagiarisme Jonah Lehrer, sebagaimana dikutip Ronson, menggambarkan sensasi tersebut sebagai “dopamine rush”—ledakan rasa nikmat yang muncul karena respons sosial yang diterima.

Disinilah kita perlu berhati-hati.

Bisa jadi yang kita kira sebagai “semangat menegakkan kebenaran” sebenarnya telah bercampur dengan kenikmatan mendapatkan perhatian. Maka pertanyaan tazkiyahnya bukan hanya: “Apakah yang saya katakan benar?” Tetapi juga: “Mengapa saya begitu menikmati mengatakan hal itu?”

Topeng Doing Something Good

Ada yang lebih berbahaya, dimana penyingkapan aib seringkali datang dengan pakaian yang sangat indah: “Saya sedang melakukan sesuatu yang baik.”

Jon Ronson membahas fenomena ini dalam bagian yang ia sebut “Doing Something Good.” Ia mengaitkannya antara lain dengan eksperimen penjara Stanford yang dilakukan Philip Zimbardo, yang menunjukkan bagaimana seseorang dapat melakukan tindakan keras ketika merasa dirinya sedang menjalankan peran atau tujuan yang benar.

Dalam konteks penghukuman digital, seseorang dapat merasa dirinya sedang menjadi pejuang keadilan. Ia merasa sedang membersihkan masyarakat. Ia merasa sedang memberikan pelajaran.

Namun Ronson memberikan peringatan penting bahwa manusia dapat: “mendefinisikan batas-batas normalitas dengan mencabik-cabik orang-orang yang berada diluar batas tersebut.”

Kita terkadang menghukum orang bukan karena kecintaan yang tulus kepada perbaikan, tetapi karena keberadaan orang tersebut membuat kita ingin menegaskan bahwa kita adalah bagian dari kelompok yang “normal” dan “baik”.

Disinilah satr menjadi latihan jiwa.

Islah atau Istila’?

Setelah memahami seluruh dinamika tersebut, seorang Muslim perlu mengajukan pertanyaan yang sangat jujur: Ketika saya membuka aib seseorang, apakah saya benar-benar ingin melakukan islah—perbaikan? Ataukah sebenarnya saya sedang menikmati istila’—perasaan menguasai, mengungguli, dan berada di atas orang lain?

Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani dalam Al-Akhlāq al-Islāmiyyah wa Ususuhā menjelaskan bahwa manusia memiliki berbagai kelemahan dan bahwa akhlak Islam menuntut seseorang mengendalikan dorongan-dorongan buruk dalam dirinya.

Menutup aib adalah latihan untuk melampaui ego. Sebaliknya, menikmati aib orang lain dapat menjadi pintu masuk bagi hasad dan kibr.

Peringatan Benjamin Rush yang dikutip Jon Ronson terasa sangat kuat: “Ignominy is universally acknowledged as a punishment worse than death.” “Penghinaan (ignominy) diakui secara universal sebagai hukuman yang lebih buruk daripada kematian.”

Ketika kita menikmati kehancuran martabat seseorang, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang memperbaiki masyarakat, atau sedang memuaskan penyakit hati?

Seorang Muslim sejati tidak menjadikan aib saudaranya sebagai tangga untuk meninggikan dirinya.

Ia memilih menjadi tirai.

Ia sadar: orang yang hari ini sedang kita lihat aibnya adalah manusia seperti kita—dan suatu hari, mungkin kitalah yang membutuhkan seseorang untuk menutup aib kita. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.