Menyebarkan Informasi Tanpa Klarifikasi (Tabayyun)

by -1362 Views

Salah satu persoalan paling serius yang dihadapi aktivis dakwah di era digital adalah kebiasaan menyebarkan informasi sebelum memastikan kebenarannya. Informasi datang melalui grup WhatsApp, Telegram, Instagram, Facebook, X, TikTok, atau berbagai kanal digital lainnya. Kadang ia hadir dalam bentuk berita, potongan video, gambar, tangkapan layar, atau pesan berantai.

Tidak jarang informasi tersebut tampak begitu meyakinkan. Judulnya menarik, isinya seolah mendukung kepentingan dakwah, bahkan mungkin sesuai dengan pandangan yang selama ini kita yakini. Tanganpun dengan cepat menekan tombol forward atau share.

Disinilah masalah bermula.

Kecepatan menyebarkan informasi (distribution) mendahului proses memastikan kebenarannya (verification).

Padahal, seorang aktivis dakwah bukan sekadar pengguna media sosial. Ia membawa amanah risalah. Apa yang keluar dari lisannya, tulisannya, dan bahkan apa yang ia sebarkan melalui perangkat digital dapat membentuk persepsi orang lain tentang Islam dan dakwah.

Karena itu, tabayyun bukan pilihan tambahan. Ia adalah bagian dari akhlak seorang Muslim.

Tabayyun: Perintah Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat fundamental dalam menerima sebuah berita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini tidak sekadar mengajarkan teknik memeriksa berita. Ia mendidik manusia agar memiliki sikap bertanggung jawab terhadap informasi.

Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim karya Ibnu Katsir, ayat ini merupakan perintah bagi orang beriman untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) agar tidak terjadi kecerobohan yang membawa penyesalan di kemudian hari.

Perhatikan bahwa Al-Qur’an tidak mengatakan: “Sebarkanlah berita yang menurutmu baik.” Al-Qur’an justru mengajarkan kita untuk memeriksa terlebih dahulu (tabayyun).

Ini merupakan pelajaran penting bagi aktivis dakwah.

Niat yang baik tidak cukup untuk membenarkan cara yang salah. Kita mungkin bermaksud membela Islam, membela umat, memperingatkan masyarakat, atau menyebarkan kebaikan. Namun, jika informasi yang kita gunakan ternyata tidak benar, niat baik tersebut tidak menghapus akibat buruk yang ditimbulkannya.

Tabayyun di Era Literasi Digital

Pada zaman dahulu, tabayyun mungkin dilakukan dengan bertanya kepada orang yang menyampaikan berita, mencari saksi, atau mendatangi sumber informasi secara langsung.

Di era digital, bentuknya menjadi lebih kompleks.

Tabayyun membutuhkan digital information literacy—kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi digital.

Seorang kader perlu belajar memeriksa:

  • siapa sumber pertama informasi;
  • kapan informasi tersebut dibuat;
  • apakah informasi masih relevan dengan keadaan sekarang;
  • apakah gambar atau video sesuai dengan konteks;
  • apakah judul sesuai dengan isi;
  • apakah ada sumber primer;
  • apakah media lain yang kredibel memberitakan hal yang sama;
  • apakah informasi tersebut telah dipotong atau dimanipulasi.

Dengan demikian, tabayyun tidak berhenti pada pertanyaan, “Benarkah ini?”, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan: “Darimana saya mengetahui bahwa ini benar?”

Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam buku Verified menekankan pentingnya langkah pertama yang disebut “Stop”:

“Berhenti. Tanyakan pada diri Anda apa yang benar-benar Anda ketahui tentang klaim tersebut dan sumber yang membagikannya. Untuk saat ini, lupakan pertanyaan tentang kebenaran atau kebohongan. Apakah Anda benar-benar tahu apa yang Anda lihat?”

Ini adalah kebiasaan sederhana, tetapi sangat penting.

Berhenti sebelum membagikan.

Berhenti bukan berarti pasif. Berhenti berarti memberikan kesempatan kepada akal untuk bekerja sebelum jari bertindak.

Kadang hanya diperlukan waktu beberapa menit untuk menyelamatkan kita dari kesalahan yang dampaknya dapat berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan merusak reputasi dakwah dalam waktu yang panjang.

Ketika Kesalahan Pribadi Menjadi Masalah Dakwah

Seorang Muslim mungkin berpikir bahwa kesalahan menyebarkan berita hanyalah kesalahan pribadi. Namun, bagi seorang aktivis dakwah, persoalannya tidak sesederhana itu.

Informasi yang salah yang disebarkan oleh seorang aktivis dakwah dapat memiliki konsekuensi kolektif.

Masyarakat tidak selalu mampu memisahkan antara pribadi kader dan lembaga atau gerakan dakwah yang diwakilinya. Ketika seorang kader menyebarkan hoaks dengan membawa simbol, bahasa, atau identitas dakwah, masyarakat dapat mengaitkan kesalahan tersebut dengan dakwah Islam secara keseluruhan.

Karena itu, menjaga akurasi informasi merupakan bagian dari menjaga kehormatan dakwah.

Caulfield dan Wineburg memperingatkan risiko reputasi ini:

“Anda dapat membatalkan reputasi berbagi hal-hal yang benar setiap hari dengan membagikan satu item yang salah.”

Betapa dalam pelajaran ini.

Seseorang dapat bertahun-tahun membangun reputasi sebagai orang yang terpercaya. Ia rajin mengaji, aktif dalam kegiatan sosial, dikenal sebagai aktivis dakwah, dan selalu berusaha menyampaikan informasi yang bermanfaat. Namun, satu informasi palsu yang ia sebarkan tanpa pemeriksaan dapat membuat orang mulai meragukan informasi-informasi lain yang ia sampaikan.

Dalam dakwah, kepercayaan adalah modal yang sangat mahal.

Karena itu, seorang kader tidak boleh hanya bertanya, “Apakah informasi ini mendukung dakwah?” Ia juga harus bertanya: “Apakah informasi ini benar?”

Sebab dakwah tidak membutuhkan informasi yang sekadar menguntungkan posisi kita. Dakwah membutuhkan kebenaran.

Amanah Informasi dalam Manhaj Tarbiyah

Di sinilah persoalan tabayyun bertemu dengan tarbiyah.

Tarbiyah seharusnya melahirkan kader yang memiliki sifat amanah dalam menerima dan menyampaikan berita. Kader bukan dididik untuk menjadi manusia yang paling cepat bereaksi terhadap setiap isu, melainkan menjadi manusia yang matang dalam menilai dan mengambil sikap.

Seorang kader tidak boleh sekadar menjadi penyambung lidah yang reaktif terhadap isu yang viral.

Imam An-Nawawi dalam bukunya Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim menjelaskan bab khusus mengenai larangan berbicara tentang segala hal yang didengar: “Bab Larangan Bercerita dengan Setiap Apa yang Didengar”

Dalam penjelasannya, beliau mengutip hadis Nabi ﷺ:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ 

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta dengan menceritakan setiap apa yang ia dengar.”

Hadis ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kehidupan digital.

Dahulu seseorang mungkin menyampaikan satu berita kepada beberapa orang. Sekarang, satu pesan dapat disebarkan kepada ratusan atau bahkan ribuan orang hanya dengan satu sentuhan.

Maka semakin besar kemampuan kita menyebarkan informasi, semakin besar pula amanah kita dalam memastikan kebenarannya.

Seorang kader tidak boleh berpikir: “Saya hanya meneruskan.” Kalimat ini tidak menghilangkan tanggung jawab.

Ketika kita memilih untuk meneruskan sebuah informasi, kita telah mengambil bagian dalam rantai penyebarannya. Kita mungkin bukan pembuat berita tersebut, tetapi kita menjadi salah satu orang yang membuat berita itu semakin luas.

Karena itu, prinsip yang harus tertanam dalam diri setiap kader adalah: Tidak semua informasi yang kita terima harus kita sebarkan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.