Dari Mencari-Cari Aib hingga Membongkarnya

by -1461 Views

Dalam perjalanan menuju tazkiyatun nafs, ada satu tahap yang sering luput kita sadari. Kita mungkin tidak ikut menyebarkan aib, tetapi kita sengaja mencarinya. Kita membuka profil lama seseorang, menggali unggahan bertahun-tahun silam, mencari komentar yang pernah ia tulis, atau menelusuri informasi yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kepentingan kita.

Di sinilah Islam memperkenalkan larangan yang sangat penting: tajassus, yaitu mencari-cari sesuatu yang sengaja disembunyikan orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَلَا تَتَبَّعُوا عَوْرَاتِهِمْ
“Janganlah kalian mencari-cari aurat [aib] mereka.”

Larangan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya melarang membongkar aib, tetapi juga melarang proses pencarian yang mengantarkan seseorang kepada pembongkaran itu.

Dari Tahassus dan Tajassus ke Digital Surveillance

Dalam tradisi Islam, terdapat perbedaan antara tahassus dan tajassus. Secara umum, tajassus menunjuk kepada tindakan mencari-cari keburukan atau rahasia orang lain yang sengaja disembunyikan. Dalam pembahasan para ulama, termasuk dalam ‘Awn al-Ma‘būd, tajassus berkaitan dengan usaha mengorek sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh pemiliknya.

Ini penting. Sebab dosa membuka aib sering kali tidak dimulai dengan kalimat, “Saya akan membuka aib orang lain.” Ia dimulai dengan kalimat yang jauh lebih sederhana: “Saya penasaran.”

Dahulu, untuk melakukan tajassus, seseorang mungkin harus mengintip dari balik pintu, bertanya kepada tetangga, atau menyelidiki kehidupan pribadi seseorang. Hari ini, teknologi telah membuat pekerjaan tersebut jauh lebih mudah. Mesin pencari, media sosial, arsip digital, dan berbagai platform memungkinkan seseorang menelusuri kehidupan orang lain hanya dengan beberapa sentuhan.

Sinan Aral dalam The Hype Machine (2020) menjelaskan bahwa kehidupan digital manusia menghasilkan apa yang disebut “data exhaust”, yaitu jejak data yang muncul dari berbagai aktivitas digital kita. Jejak tersebut dapat menggambarkan minat, kebiasaan, hubungan, bahkan aktivitas yang berkaitan dengan waktu dan lokasi.

Teknologi yang semestinya membantu manusia memperoleh informasi akhirnya dapat berubah menjadi alat pengintaian. Ketika seseorang sengaja menggunakan mesin informasi tersebut untuk mengorek masa lalu atau kelemahan orang lain, ia bukan sekadar “mencari informasi”. Ia sedang memasuki wilayah yang secara moral telah diberi batas oleh syariat.

Mengorek Masa Lalu dan Jebakan Algoritma

Masalah menjadi lebih rumit karena pencarian digital tidak berhenti pada satu informasi.

Sinan Aral dalam The Hype Machine menjelaskan konsep “Hype Loop”, yaitu lingkaran timbal balik antara manusia dan mesin dalam menentukan apa yang memperoleh perhatian. Apa yang kita cari, klik, tonton, dan bagikan menjadi sinyal bagi sistem. Sistem kemudian menyajikan lebih banyak konten serupa.

Disinilah tajassus dapat berkembang menjadi kecanduan.

Seseorang pada awalnya mungkin hanya ingin mengetahui satu kesalahan masa lalu. Ia kemudian menemukan satu unggahan. Dari unggahan itu ia menemukan komentar. Dari komentar ia menemukan akun lain. Dari sana ia memperoleh informasi yang lebih lama lagi.

Algoritma membaca seluruh perilaku tersebut sebagai engagement—keterlibatan. Karena skandal, kemarahan, dan kontroversi mampu mempertahankan perhatian, mesin kemudian terus memberikan bahan yang serupa.

Akhirnya terjadi sebuah siklus:

penasaran → mencari → menemukan → semakin penasaran → mencari lebih dalam → menemukan aib → membagikan → memperoleh perhatian → mencari lagi.

Inilah Hype Loop dalam bentuk yang sangat berbahaya bagi jiwa.

Mengapa Aib Begitu Mudah Menjadi Viral?

Sinan Aral juga mengemukakan “The Novelty Hypothesis” atau Hipotesis Kebaruan. Berdasarkan penelitiannya terhadap penyebaran informasi di Twitter, informasi yang baru, mengejutkan, atau membangkitkan emosi kuat cenderung memperoleh perhatian dan penyebaran yang lebih besar.

Aib memiliki hampir semua karakteristik tersebut.

Pertama, ada novelty—kebaruan. Orang tertarik kepada sesuatu yang belum diketahui orang lain.

Kedua, ada status sosial. Orang yang pertama membagikan informasi “rahasia” dapat merasa dirinya memiliki posisi khusus: Saya tahu sesuatu yang kalian tidak tahu.

Ketiga, ada emosi kuat. Skandal sering membangkitkan surprise, anger, atau disgust. Emosi seperti ini membuat seseorang lebih terdorong untuk bereaksi dan membagikan.

Di sinilah terjadi apa yang Aral sebut sebagai “tyranny of trends”—tirani tren. Sesuatu yang pada awalnya merupakan informasi pribadi dapat berubah menjadi konsumsi massal hanya karena mesin dan manusia bersama-sama mengangkatnya menjadi pusat perhatian.

Maka, ketika seseorang menemukan aib orang lain, pertanyaan pertama seorang Muslim bukanlah: “Apakah ini benar?” Tetapi juga: “Apakah aku berhak mencari tahu?” Dan setelah mengetahui: “Apakah aku berhak menyebarkannya?”

Dari Tajassus Menuju Tasyhīr

Ada perbedaan besar antara mengetahui dan mencari, antara mencari dan membuka, serta antara membuka dan menyebarkan.

Seseorang bisa saja secara tidak sengaja mengetahui kekurangan saudaranya. Itu berbeda dengan sengaja menggali kelemahannya. Bahkan setelah mengetahui, ia masih memiliki pilihan: menyimpannya atau menyebarkannya.

Islam menutup pintu dosa itu sejak awal.

Sebab semakin dalam seseorang mencari aib orang lain, semakin mudah hatinya kehilangan rasa kasih sayang. Ia tidak lagi melihat saudaranya sebagai manusia yang sedang berjuang dengan kelemahannya, tetapi sebagai objek investigasi yang harus ditemukan kesalahannya.

Disinilah tajassus bertemu dengan penyakit hati: rasa ingin menang, hasad, kibr, dan kenikmatan melihat orang lain jatuh.

Konsekuensi Ilahi: Jangan Mencari Aib Jika Tidak Ingin Dicari

Peringatan Nabi ﷺ terhadap tajassus tidak berhenti pada larangan. Ada ancaman yang sangat keras bagi orang yang gemar mencari-cari keburukan saudaranya.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan makna ancaman: “Barang siapa mencari-cari aib saudaranya, Allah akan mencari-cari aibnya.”

Disini kita kembali kepada prinsip yang telah kita renungkan sejak awal buku: al-jazā’ min jinsil ‘amal—balasan sesuai dengan jenis perbuatan.

Engkau membuka tirai orang lain, jangan merasa aman jika tirai dirimu tidak akan disentuh. Engkau mencari rahasia orang lain, jangan merasa yakin bahwa rahasiamu akan selamanya tersembunyi.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fatḥ al-Bārī ketika membahas berbagai bentuk pengkhianatan dan pembukaan rahasia menjelaskan kerasnya konsekuensi kehinaan di akhirat bagi orang yang melakukan pengkhianatan terhadap amanah. Di antara gambaran yang beliau bahas adalah “liwā’ al-ghadr”—bendera pengkhianatan yang akan diberikan kepada orang-orang yang berkhianat sebagai tanda yang mempermalukan mereka di hadapan manusia.

Maka renungkanlah: di dunia kita dapat menggunakan teknologi untuk mencari-cari dan menguliti kehormatan orang lain. Tetapi di akhirat tidak ada teknologi yang dapat kita gunakan untuk menyembunyikan rahasia kita.

Tidak ada delete history.
Tidak ada private account.
Tidak ada tombol unsend.
Tidak ada kesempatan untuk menghapus jejak.

Semua berada di hadapan Allah.

Karena itu, satrul ‘uyūb bukan hanya persoalan apa yang kita katakan setelah mengetahui aib orang lain. Ia dimulai jauh sebelumnya: apa yang kita cari ketika sebenarnya kita tidak perlu tahu.

Seorang mukmin tidak menjadikan rasa penasaran sebagai alasan untuk menerobos privasi saudaranya. Ia belajar menundukkan matanya, menghentikan jarinya, dan mematikan rasa ingin tahu yang tidak membawa maslahat.

Boleh jadi, dibalik satu klik yang tampaknya kecil, terdapat kehormatan seorang manusia yang sedang kita pertaruhkan. Dan boleh jadi pula, ketika kita memilih untuk tidak mencari, tidak membuka, dan tidak menyebarkan, kita sedang mempertahankan tirai yang suatu hari sangat kita butuhkan.

Berhentilah mencari karena engkau tidak ingin dicari. Berhentilah membongkar karena engkau tidak akan sanggup menanggung rasa malu ketika tirai dirimu sendiri dibuka oleh Allah di hadapan seluruh makhluk. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.