Mengembalikan Kedaulatan Ilmu di Era Digital

by -1322 Views

Jika pada buku pertama Problematika Aktivis Dakwah di Era Digital: Krisis Mengelola Arus Informasi kita membahas krisis mengelola arus informasi, maka buku kedua ini mengajak kita masuk lebih dalam, menuju persoalan yang jauh lebih mendasar: apa yang terjadi setelah informasi itu kita konsumsi?

Seorang kader tidak cukup hanya mampu mencari informasi, memilahnya, memverifikasinya, dan menghindari informasi yang menyesatkan. Semua kemampuan tersebut hanyalah tahap awal. 

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: Apakah informasi yang kita konsumsi telah berubah menjadi ilmu? Apakah ilmu yang kita pelajari telah membentuk cara berpikir?
Apakah cara berpikir itu telah membentuk karakter? Dan apakah karakter tersebut telah melahirkan amal yang benar?

Disinilah letak persoalan buku kedua ini.

Era digital telah membuat manusia berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ilmu, atau setidaknya informasi tentang ilmu, berada di ujung jari. Hampir setiap pertanyaan dapat dijawab dalam hitungan detik melalui Google, YouTube, podcast, media sosial, perpustakaan digital, bahkan Artificial Intelligence (AI) 

Namun, kemudahan menemukan jawaban tidak identik dengan kedalaman memahami ilmu.

Seorang kader dapat memiliki ribuan video kajian tersimpan, mengikuti ratusan kanal dakwah, mendengarkan puluhan podcast, menyimpan berbagai PDF kitab, membaca berbagai artikel, dan setiap hari berdiskusi tentang agama, politik, masyarakat, dan dakwah. Akan tetapi, setelah bertahun-tahun, bisa jadi ia tetap tidak memiliki guru yang membimbing, kitab yang benar-benar selesai dipelajari, metodologi belajar yang terstruktur, peta pengetahuan yang kokoh, ataupun perubahan akhlak yang sebanding dengan banyaknya informasi yang telah dikonsumsinya.

Inilah yang kita sebut sebagai knowledge consumption without knowledge formation
(banyak mengonsumsi pengetahuan tanpa mengalami proses pembentukan ilmu).Dan jika persoalan ini tidak kita sadari, maka digitalisasi dakwah dapat melahirkan paradoks yang sangat menyedihkan: semakin banyak informasi yang dimiliki kader, semakin sedikit kedalaman ilmu yang terbentuk dalam dirinya.

Dari Krisis Informasi Menuju Krisis Pembentukan Ilmu

Buku pertama berangkat dari sebuah kenyataan: kader dakwah hidup dalam banjir informasi. Ia menghadapi berita yang tidak berhenti, notifikasi yang terus berdatangan, video pendek yang berganti setiap detik, opini yang saling bertabrakan, propaganda, disinformasi, dan algoritma yang terus berusaha merebut perhatian.

Tetapi setelah informasi berhasil dikelola, masih ada pertanyaan yang belum selesai. Informasi yang benar sekalipun belum tentu menjadi ilmu.

Seseorang dapat mengetahui bahwa sebuah hadis terdapat dalam kitab tertentu tanpa memahami konteksnya. Ia dapat mengetahui sebuah ayat tanpa memahami tafsirnya. Ia dapat mengetahui istilah fikrah tanpa memahami bangunan pemikirannya. Ia dapat mengutip pendapat seorang ulama tanpa memahami metodologi ulama tersebut.

Lebih jauh lagi, seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang Islam tanpa mengalami proses menjadi manusia yang lebih Islami.

Di sinilah kita harus membedakan antara information, knowledge, dan wisdom. Informasi adalah sesuatu yang kita terima. Pengetahuan adalah sesuatu yang kita pahami dan susun. Sedangkan hikmah (wisdom) adalah ketika pengetahuan itu membentuk cara kita melihat kehidupan dan menentukan tindakan.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang kader tidak boleh berhenti pada: Berapa banyak konten yang sudah ia lihat? atau: Berapa banyak kajian yang sudah ia dengarkan?

Tetapi harus bergerak menuju pertanyaan: Apa yang telah berubah dalam cara berpikir, akhlak, keputusan, dan amalnya karena ilmu yang ia pelajari?

Ilusi Pengetahuan di Ujung Jari

Salah satu bahaya terbesar era digital adalah munculnya ilusi pengetahuan. Kita merasa mengetahui sesuatu hanya karena kita mampu menemukannya dengan cepat.

Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise memberikan peringatan keras tentang perubahan hubungan manusia dengan pengetahuan. Ia menulis: “Saya khawatir kita sedang menyaksikan kematian dari cita-cita keahlian itu sendiri, sebuah keruntuhan yang didorong oleh Google, berbasis Wikipedia, dan dipenuhi blog atas pembagian apa pun antara profesional dan orang awam…”

Masalahnya bukan Google, Wikipedia, YouTube, atau teknologi itu sendiri. Persoalannya adalah ketika kemampuan mengakses informasi disalahartikan sebagai kemampuan memahami ilmu.

Seseorang yang mengetahui cara mencari tafsir di internet belum tentu memahami ilmu tafsir. Seseorang yang dapat menemukan fatwa dengan cepat belum tentu memahami ushul fikih. Seseorang yang mampu mencari data politik belum tentu memahami politik. Dan seorang kader yang mampu mengutip puluhan tokoh belum tentu memahami bangunan pemikiran para tokoh tersebut.

Sebuah studi eksperimental di Yale menemukan fenomena yang sangat menarik. Para peneliti menemukan bahwa: “orang yang mencari informasi di Web keluar dari proses tersebut dengan rasa percaya diri yang berlebihan tentang seberapa banyak yang mereka ketahui—bahkan mengenai topik yang tidak terkait dengan apa yang mereka cari”.

Tim peneliti tersebut kemudian menyimpulkan bahwa manusia dapat: “salah mengira pengetahuan yang bersumber dari luar (outsourced knowledge) sebagai pengetahuan internal.”

Inilah salah satu jebakan terbesar bagi kader di era digital.

Kita mengetahui di mana jawaban berada, lalu mengira bahwa kita telah memiliki jawaban tersebut sebagai ilmu. Padahal pengetahuan yang hanya berada di search engine belum menjadi pengetahuan yang hidup di dalam diri.

Dari Penyelam Menjadi Jet Ski Rider

Ada perubahan lain yang lebih halus tetapi sangat berbahaya: cara kita membaca.

Kita semakin terbiasa dengan informasi pendek, cepat, terpotong, dan langsung menuju kesimpulan. Kita membaca judul tanpa membaca artikel. Membaca kutipan tanpa membaca buku. Membaca ringkasan tanpa membaca karya asli. Menonton potongan ceramah tanpa memahami keseluruhan penjelasan. Mendengar kesimpulan tanpa mengikuti proses argumentasinya.

Nicholas Carr menggambarkan perubahan tersebut dengan metafora yang sangat kuat: “Dahulu saya adalah seorang penyelam scuba di laut kata-kata. Sekarang saya meluncur di atas permukaan seperti orang yang mengendarai Jet Ski.”

Metafora ini sangat relevan untuk menggambarkan sebagian pola belajar kader hari ini.

Dahulu kita bersedia menyelam ke dalam sebuah kitab. Membaca halaman demi halaman. Berhenti ketika menemukan istilah yang belum dipahami. Membuka syarah. Bertanya kepada guru. Membandingkan pendapat. Mengulang bagian yang sulit.

Sekarang kita sering berpindah dari satu konten ke konten lain. Dari YouTube ke Instagram. Dari Instagram ke Telegram. Dari Telegram ke WhatsApp. Dari WhatsApp ke podcast. Dari podcast ke AI. Dari AI kembali ke mesin pencari.

Kita bergerak cepat, tetapi tidak dalam. Hanya berselancar di permukaan.

Johann Hari dalam Stolen Focus mencatat: “jika Anda membuat orang membaca dengan cepat, mereka akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk bergulat dengan materi yang kompleks atau menantang. Mereka mulai lebih menyukai pernyataan yang simplistik.”

Padahal banyak persoalan dakwah tidak dapat diselesaikan dengan pemikiran yang sederhana. Persoalan umat membutuhkan sejarah. Membutuhkan fikih. Membutuhkan ushul. Membutuhkan pemahaman terhadap manusia. Membutuhkan ilmu sosial. Membutuhkan pengalaman. Membutuhkan hikmah. Dan semua itu membutuhkan kedalaman.

Kader yang hanya terbiasa dengan informasi pendek akan mengalami kesulitan ketika harus berhadapan dengan persoalan panjang (kompleks)..

Hilangnya Pilar-Pilar Tradisi Ilmu

Persoalan yang hendak kita bahas dalam buku ini pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknologi. Ini adalah persoalan hilangnya ekosistem pembelajaran.

Dalam tradisi Islam, seseorang tidak menjadi alim hanya karena membaca banyak teks. Ada proses panjang yang menghubungkan ilmu, guru, kitab, adab, metodologi, latihan, pengulangan, diskusi, dan amal.

Ada musyafahah. Ada talaqqi. Ada pembacaan kitab. Ada syarah. Ada koreksi guru. Ada adab terhadap ilmu. Ada kesabaran dalam menempuh perjalanan panjang.

Sementara ekosistem digital sering menawarkan kebalikannya: cepat, pendek, instan, personal, terfragmentasi, dan tanpa guru.

Kader dapat memilih sendiri apa yang ingin didengar, siapa yang ingin diikuti, dan pendapat mana yang ingin dikonsumsi. Pada satu sisi, ini adalah kebebasan yang luar biasa. Namun pada sisi lain, kebebasan tanpa metodologi dapat berubah menjadi kekacauan epistemik.

Kader akhirnya belajar secara acak. Hari ini belajar fikih. Besok politik. Lusa ekonomi. Kemudian psikologi. Setelah itu geopolitik. Kemudian sejarah.

Semua terlihat menarik. Semuanya dikonsumsi. Tetapi tidak ada struktur. Tidak ada kurikulum pribadi. Tidak ada tahapan. Tidak ada guru yang mengatakan: “Jangan belajar ini dulu. Kuasai yang ini terlebih dahulu.” Akibatnya, pengetahuan menjadi seperti tumpukan batu bata yang tidak pernah disusun menjadi bangunan.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind mengingatkan: “sebagai pengetahuan yang menjadi lebih tersedia—dan terdesentralisasi melalui Internet—notasi tentang akurasi dan otoritas telah menjadi kabur.”

Ketersediaan pengetahuan tidak otomatis menghasilkan keteraturan pengetahuan.

Penutup Prolog

Buku ini tidak dimaksudkan sebagai seruan untuk meninggalkan dunia digital. Kita tidak mungkin—dan tidak perlu—kembali kepada dunia tanpa internet. Tetapi, apa yang harus kita lakukan adalah mengembalikan teknologi kepada tempatnya.

Kita tidak boleh membiarkan algoritma menjadi ustadz. Kita tidak boleh membiarkan mesin pencari menjadi murabbi. Kita tidak boleh membiarkan potongan video menjadi pengganti kitab. Kita tidak boleh membiarkan popularitas menjadi ukuran otoritas. Dan kita tidak boleh membiarkan banyaknya informasi membuat kita lupa bagaimana cara menuntut ilmu.

Kita membutuhkan kader yang mampu hidup d tengah teknologi tanpa kehilangan tradisi ilmu. Kader yang mampu menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir. Kader yang mampu mengakses ribuan sumber tanpa kehilangan adab kepada guru. Kader yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar. Kader yang luas wawasannya, tetapi dalam ilmunya. Kader yang tajam pikirannya, tetapi lembut hatinya. Kader yang banyak membaca, tetapi tidak sombong karena bacaannya. 

Kader yang mampu berbicara tentang berbagai persoalan, tetapi tetap tahu kapan harus berkata: “Saya belum tahu.” Sebab salah satu tanda kedalaman ilmu bukanlah keberanian menjawab semua pertanyaan, tetapi kesadaran terhadap batas pengetahuan diri.

Setelah buku pertama mengajak kita belajar mengelola arus informasi, buku kedua ini mengajak kita melakukan perjalanan yang lebih panjang: dari informasi menuju ilmu, dari ilmu menuju pemahaman, dari pemahaman menuju pembentukan diri, dan dari pembentukan diri menuju amal dakwah.

Pada akhirnya, dakwah tidak membutuhkan kader yang sekadar terkoneksi dengan dunia. Dakwah membutuhkan kader yang terhubung dengan Allah, berakar dalam ilmu, matang dalam tarbiyah, dan hadir memberikan manfaat bagi manusia. Dan perjalanan menuju kesana dimulai dengan satu pertanyaan sederhana: Apa yang sebenarnya sedang kita bentuk ketika kita belajar?

Pertanyaan itulah yang akan kita jawab dalam buku ini. Insya Allah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.