Tidak Mampu Membedakan Fakta, Opini, Interpretasi, Propaganda dan Disinformasi

by -1566 Views

Salah satu persoalan besar aktivis dakwah di era digital bukan sekadar banyaknya informasi, tetapi ketidakmampuan membedakan jenis informasi.

Di layar yang sama, kita dapat menemukan berita jurnalistik, laporan penelitian, pendapat seorang tokoh, komentar warganet, potongan ceramah, iklan, propaganda politik, satire, meme, hingga disinformasi. Semuanya tampil dalam bentuk yang hampir sama: teks, gambar, video, atau tautan.

Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya hanya opini dapat diterima sebagai fakta. Interpretasi dianggap sebagai realitas. Potongan informasi dianggap sebagai gambaran utuh. Bahkan propaganda dapat diterima sebagai berita hanya karena dikemas dengan bahasa yang meyakinkan.

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking mengingatkan: “Kebutuhan kita akan narasi yang kuat sangatlah besar sehingga kita mengabaikan fakta… Apa yang Anda fokuskan adalah ceritanya, bukan angka dan datanya, karena cerita berakar pada emosi.”

Disinilah seorang kader membutuhkan kedewasaan berpikir. Ia harus belajar bahwa tidak semua yang terlihat seperti informasi memiliki status epistemik yang sama.

Belajar Mengenali “Apa yang Sedang Kita Lihat”

Literasi informasi dimulai dari kemampuan sederhana tetapi sangat penting: mengenali jenis informasi yang sedang kita hadapi.

Sebuah unggahan dapat berisi fakta. Fakta adalah sesuatu yang dapat diperiksa dan dibuktikan berdasarkan data atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, sebuah unggahan juga dapat berupa opini. Opini adalah penilaian atau pandangan seseorang terhadap suatu persoalan. Opini boleh saja benar, tetapi statusnya tetap opini.

Kemudian ada interpretasi, yaitu upaya memahami atau memberikan makna terhadap suatu fakta. Dua orang dapat melihat fakta yang sama tetapi menghasilkan interpretasi berbeda.

Ada pula framing, yaitu cara fakta dipilih, disusun, dan disajikan sehingga pembaca diarahkan untuk melihat persoalan dari sudut tertentu.

Lebih jauh lagi terdapat propaganda, yaitu komunikasi yang dirancang untuk memengaruhi persepsi, sikap, atau perilaku seseorang demi kepentingan tertentu.

Kita juga mengenal misinformasi, yaitu informasi keliru yang disebarkan tanpa harus disertai niat menipu, dan disinformasi, yaitu informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan secara sengaja.

Ada satire, manipulasi visual, potongan video tanpa konteks, dan berbagai bentuk hoaks.

Semua itu berada dalam satu ekosistem digital.

Karena itu, sebelum bertanya “Apakah informasi ini benar?”, kader perlu belajar bertanya: “Apa sebenarnya yang sedang saya lihat?”

Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam Verified menekankan: “Pertanyaan pertama kita seharusnya bukan ‘Apakah ini benar?’ melainkan ‘Apakah kita tahu apa yang sedang kita lihat?'”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi memiliki konsekuensi intelektual yang besar.

Sebab seseorang tidak mungkin melakukan verifikasi dengan baik jika sejak awal ia salah mengenali objek yang sedang diverifikasi.

Jangan Menyamakan Semua Sumber

Persoalan berikutnya adalah kecenderungan manusia modern untuk menyamakan semua sumber.

Di internet, seorang profesor, jurnalis, ustadz, influencer, anonim di media sosial, dan akun tanpa identitas yang jelas dapat sama-sama memiliki ruang untuk berbicara.

Secara teknis, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengunggah konten. Namun, kesempatan untuk berbicara tidak berarti kesetaraan otoritas keilmuan.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise mengingatkan: “Saya khawatir kita sedang menyaksikan kematian dari cita-cita keahlian itu sendiri, sebuah keruntuhan yang didorong oleh Google, berbasis Wikipedia, dan dipenuhi blog atas pembagian apapun antara profesional dan orang awam… antara mereka yang memiliki pencapaian di suatu bidang dan mereka yang tidak memiliki sama sekali.”

Google dapat membantu kita menemukan informasi, tetapi Google tidak otomatis menjadikan kita ahli.

Membaca sepuluh artikel tidak otomatis menjadikan seseorang pakar. Menonton banyak video tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki tafaqquh. Mengikuti banyak akun ulama tidak sama dengan belajar kepada ulama.

Inilah yang perlu dipahami oleh kader dakwah: akses terhadap pengetahuan tidak sama dengan kepemilikan ilmu.

Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki adab, sumber, guru, metodologi, dan proses pembelajaran. Karena itu, budaya digital tidak boleh menghapus penghargaan terhadap keahlian dan otoritas keilmuan.

Bahaya Trust Compression

Mike Caulfield dan Sam Wineburg menyebut salah satu persoalan ini sebagai “trust compression”, yaitu kecenderungan untuk mengecilkan perbedaan kualitas dan reliabilitas berbagai sumber sampai semuanya terlihat kurang lebih sama.

Mereka menjelaskan: “Meminimalkan perbedaan dalam kualitas atau keandalan… mengambil jarak yang sangat lebar antara berbagai sumber dalam hal reliabilitas dan menyusutkannya hingga ke titik dimana semuanya tampak kurang lebih sama.”

Ini adalah jebakan serius.

Bayangkan seorang kader membaca sebuah penelitian ilmiah, kemudian membaca komentar anonim di media sosial, lalu membaca potongan pendapat seorang tokoh. Jika semuanya diperlakukan sebagai sumber dengan bobot yang sama, maka telah terjadi kerusakan dalam cara menilai pengetahuan.

Dalam Islam, kita mengenal prinsip “fas’alū ahladz-dzikri in kuntum lā ta’lamū”—bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan apabila kalian tidak mengetahui.

Artinya, ketidaktahuan bukan aib. Tetapi, apa yang berbahaya adalah ketidaktahuan yang tidak disadari.

Seorang kader yang matang justru mampu mengatakan:

“Saya belum tahu.”

“Saya perlu memeriksa.”

“Saya bukan ahlinya.”

“Pendapat ini perlu dikonfirmasi kepada orang yang kompeten.”

Sikap seperti itu bukan kelemahan. Itulah bagian dari amanah ilmiah.

Dakwah Membutuhkan Kejujuran Intelektual

Dakwah memiliki tuntutan yang lebih tinggi daripada sekadar memenangkan perdebatan.

Seorang aktivis dakwah boleh memiliki keberpihakan kepada kebenaran. Bahkan ia memang harus berpihak kepada kebenaran. Tetapi keberpihakan kepada kebenaran tidak boleh berubah menjadi keberpihakan kepada apa saja yang menguntungkan kelompoknya.

Ini adalah salah satu ujian terbesar dalam kehidupan berjamaah.

Ketika informasi mendukung posisi kita, kita mudah mempercayainya.

Ketika informasi menyerang pihak yang kita kritik, kita mudah menyebarkannya.

Namun ketika informasi ternyata merugikan posisi kita, tiba-tiba kita menjadi sangat kritis terhadap sumbernya.

Disinilah integritas seorang kader diuji.

Apakah kita mencintai kebenaran, atau hanya mencintai kemenangan?

Eli Pariser dalam The Filter Bubble memberikan peringatan yang sangat penting: “Bagi propagandis yang tidak etis, cara tercepat untuk menggeser sentimen publik bukanlah dengan mengubah apa yang mereka ketahui, tetapi apa yang mereka pikir sedang terjadi.”

Propaganda tidak selalu bekerja dengan menciptakan kebohongan total.

Kadang cukup dengan memilih fakta tertentu, menghilangkan fakta lain, mengubah konteks, memberikan judul tertentu, lalu mengulanginya berkali-kali.

Karena itu Pariser menambahkan: “Kebenaran parsial (half-truth) seringkali lebih berbahaya dan kurang mudah dideteksi daripada tumpukan kebohongan.”

Ini merupakan peringatan yang sangat penting bagi aktivis dakwah.

Sebuah informasi dapat benar secara parsial, tetapi menyesatkan secara keseluruhan.

Sebuah video mungkin benar-benar memperlihatkan apa yang terjadi, tetapi hanya lima belas detik dari peristiwa yang berlangsung dua jam. Sebuah kutipan mungkin benar-benar pernah diucapkan, tetapi telah dipisahkan dari konteks pembicaraannya. Sebuah angka mungkin benar, tetapi cara penyajiannya dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Karena itu, kebenaran membutuhkan konteks.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.