Mengandalkan Satu Sumber untuk Mengambil Kesimpulan

by -1578 Views

Ditengah derasnya arus informasi digital, seorang kader dakwah dapat dengan mudah menemukan informasi yang tampaknya menjawab sebuah persoalan. Satu unggahan, satu artikel, satu video, atau satu portal berita terkadang sudah cukup untuk membuat seseorang merasa telah memahami seluruh masalah.

Padahal, menemukan satu informasi tidak sama dengan memahami sebuah persoalan.

Lebih berbahaya lagi apabila informasi pertama yang ditemukan kebetulan sesuai dengan pandangan yang sudah kita miliki. Kita kemudian merasa yakin bukan karena telah melakukan pemeriksaan yang cukup, tetapi karena informasi tersebut memberikan pembenaran terhadap apa yang sejak awal ingin kita percayai.

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking menggambarkan kecenderungan tersebut: “Bahkan ketika kita membaca artikel, tujuan kita bukanlah untuk mempelajari sesuatu yang baru, melainkan untuk memvalidasi gagasan yang sudah ada… singkatnya, orang-orang ini tidak mencari informasi, mereka mencari validasi.”

Inilah salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan digital: kita mengira sedang mencari kebenaran, padahal sebenarnya sedang mencari pembenaran.

Satu Sumber Tidak Selalu Cukup

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin tidak semua informasi membutuhkan penelitian panjang. Untuk hal-hal sederhana, satu sumber yang terpercaya bisa saja cukup.

Tetapi untuk persoalan penting—terutama menyangkut politik, kebijakan publik, konflik, tokoh, kelompok, atau persoalan yang berpotensi memengaruhi sikap umat—ketergantungan kepada satu sumber sangat berisiko.

Setiap media memiliki perspektif. Setiap jurnalis memiliki keterbatasan. Setiap narasumber memiliki sudut pandang. Setiap lembaga memiliki kepentingan. Dan setiap manusia dapat melakukan kesalahan.

Karena itu, ketika sebuah informasi datang dari satu sumber, pertanyaan seorang kader seharusnya bukan: “Apakah saya percaya kepada sumber ini?” Tetapi: “Bagaimana saya memastikan bahwa informasi ini memang menggambarkan persoalan secara utuh?”

Tom Nichols dalam The Death of Expertise mengingatkan kecenderungan manusia untuk menentukan kesimpulan terlebih dahulu: “Memutuskan sebelumnya apa yang mereka percayai—bahwa ada semacam konspirasi yang sedang berlangsung—dan kemudian mencari sumber-sumber untuk memperkuat kepercayaan tersebut.”

Jika pola ini dibiarkan, internet justru menjadi mesin pembenaran bagi keyakinan kita.

Kita mencari sumber yang sejalan dengan kita. Kita mengabaikan sumber yang berbeda. Kemudian kita merasa memiliki bukti yang kuat karena menemukan banyak informasi yang mengatakan hal yang sama.

Padahal, bisa jadi semua informasi tersebut berasal dari sumber awal yang sama. Inilah sebabnya banyaknya tautan tidak selalu berarti banyaknya bukti.

Cross-Checking: Jangan Berhenti pada Informasi Pertama

Kematangan literasi digital ditandai oleh kemampuan melakukan cross-checking—memeriksa kembali informasi melalui sumber lain.

Untuk informasi yang penting, kader perlu membangun kebiasaan sederhana: satu informasi → cari sumber kedua → cari sumber ketiga → bandingkan → periksa sumber asli → baru mengambil kesimpulan.

Ini bukan berarti setiap persoalan harus diteliti secara akademik. Tetapi, apa yang diperlukan adalah proporsionalitas.

Semakin besar dampak sebuah informasi, semakin besar pula kebutuhan untuk melakukan verifikasi. Informasi yang berpotensi merusak nama baik seseorang membutuhkan kehati-hatian. Informasi yang dapat memengaruhi keputusan politik membutuhkan pembanding. Informasi yang menyangkut persoalan agama membutuhkan rujukan kepada ahli. Informasi yang berhubungan dengan kesehatan membutuhkan sumber yang kompeten. Dan informasi yang dapat memicu konflik di antara kaum Muslimin membutuhkan kehati-hatian yang lebih besar lagi.

Mike Caulfield dan Sam Wineburg dalam Verified menganjurkan langkah “Find better coverage”, yaitu mencari liputan atau sumber yang lebih baik. Mereka menjelaskan: “Taruhan terbaik untuk mendapatkan penanganan (informasi) yang baik biasanya bukan dengan menaruh kepercayaan pada satu ahli atau profesional saja… untuk hal-hal yang penting, Anda akan ingin memahami apa yang dipikirkan oleh berbagai ahli.”

Prinsipnya sederhana: Jangan hanya bertanya siapa yang mengatakan, tetapi lihat juga siapa yang mengatakan hal yang berbeda.

Triangulation: Mencari Kebenaran dari Beberapa Sudut

Dalam penelitian, dikenal istilah triangulation atau triangulasi, yaitu menggunakan beberapa sumber, metode, atau perspektif untuk memperoleh gambaran yang lebih kuat mengenai suatu persoalan.

Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan kader dakwah.

Misalnya, ketika muncul sebuah berita politik, jangan hanya membaca portal yang mendukung pihak tertentu. Bandingkan dengan sumber lain. Jika memungkinkan, cari pernyataan langsung dari pihak yang diberitakan. Lihat dokumen aslinya. Periksa data yang digunakan.

Jangan berhenti pada: “Media A mengatakan demikian.” Tetapi lanjutkan: “Apa yang dikatakan pihak yang diberitakan?” “Apa kata sumber independen?” “Apakah ada dokumen aslinya?” “Apakah media lain memberikan konteks yang berbeda?” “Apakah fakta utamanya konsisten?”

Ian Tuhovsky memberikan nasihat yang sangat relevan: “Dapatkan berita Anda dari berbagai sumber yang berbeda. Jika Anda membaca sesuatu dan reaksi pertama Anda adalah emosi ekstrem dalam bentuk apa pun, maka Anda telah dipicu oleh sesuatu… Untuk menjaga diri dari manipulasi tersebut, lihatlah banyak sumber dan lihat apakah Anda masih merasakan hal yang sama kuatnya nanti.”

Ada pelajaran penting disini. Emosi yang sangat kuat adalah alasan untuk memperlambat, bukan mempercepat.

Ketika sebuah berita membuat kita sangat marah, sangat takut, atau sangat gembira, jangan buru-buru menekan tombol share.

Berhentilah.

Tarik napas.

Cari sumber lain.

Periksa konteks.

Mungkin informasi tersebut benar. Tetapi mungkin juga kita sedang dipancing untuk bereaksi.

Dakwah Membutuhkan Keadilan

Persoalan ini menjadi lebih serius ketika informasi digunakan dalam dakwah. Seorang aktivis dakwah tidak boleh hanya mencari informasi yang menguntungkan posisi kelompoknya.

Jika kita hanya membaca media yang sejalan dengan kita, mendengar tokoh yang sependapat dengan kita, mengikuti akun yang memperkuat keyakinan kita, kemudian menganggap pihak lain pasti salah, maka kita sedang membangun ruang gema (echo chamber).

Di dalam ruang seperti itu, keyakinan kita terus diperkuat oleh suara yang sama. Lama-kelamaan kita kehilangan kemampuan mendengar perspektif lain. Padahal, dakwah membutuhkan keadilan dalam menilai informasi.

Yusuf al-Qaradawi dalam Aṣ-Ṣaḥwah al-Islāmiyyah Bayna al-Ikhtilāf al-Masyrū’ wa at-Tafarruq al-Madhmūm memperingatkan bahaya: “Al-Ghuruur bin-Nafs wal-I’jaab bir-Ra’yi” yaitu tertipu oleh diri sendiri dan bangga dengan pendapat sendiri.

Sifat ini dapat menjadi salah satu sumber perpecahan.

Seorang kader yang merasa pendapatnya pasti benar akan semakin sulit memeriksa informasi secara objektif. Ia tidak lagi bertanya, “Apa yang benar?”, tetapi bertanya, “Bagaimana saya membuktikan bahwa saya benar?”

Perbedaannya sangat tipis, tetapi dampaknya sangat besar.

Pencari kebenaran siap mengoreksi dirinya. Pencari pembenaran hanya mencari bukti untuk mempertahankan dirinya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.