Dari Talaqqi ke Google

by -1518 Views

Pada bab sebelumnya kita telah melihat sebuah persoalan mendasar: mencari informasi tidak otomatis berarti belajar. Seseorang dapat membaca banyak artikel, menonton banyak video, mendengarkan berbagai podcast, bahkan mampu menjawab banyak pertanyaan, tetapi semua itu belum tentu menjadikannya seorang thalibul ‘ilm yang memiliki kedalaman ilmu.

Kini kita berhadapan dengan pertanyaan berikutnya: Jika mencari informasi bukan belajar, lalu bagaimana seharusnya seorang kader belajar di era digital?

Pertanyaan ini membawa kita kepada sebuah perubahan besar dalam sejarah cara manusia memperoleh pengetahuan. Dahulu seorang penuntut ilmu mendatangi guru, duduk di hadapannya, mendengar penjelasan, membaca kitab, mencatat, bertanya, mengulang, menghafal, mendiskusikan, dan menerima koreksi. Proses tersebut berlangsung dalam waktu yang panjang.

Hari ini, banyak proses itu digantikan dengan sebuah kotak pencarian. Kita mengetik pertanyaan. Dalam beberapa detik muncul ribuan jawaban.

Google menjadi pintu menuju hampir seluruh pengetahuan manusia. YouTube menyediakan ceramah dari berbagai penjuru dunia. Podcast menghadirkan pakar dari berbagai bidang. Kecerdasan buatan (AI) bahkan dapat memberikan penjelasan yang disesuaikan dengan pertanyaan kita.

Semua itu adalah nikmat besar.

Tetapi justru di sinilah persoalannya. Kemudahan menemukan informasi dapat membuat manusia lupa bagaimana seharusnya ilmu diperoleh.

Apa yang perlu dikritik bukanlah Google, mesin pencari, YouTube, podcast, atau kecerdasan buatan. Teknologi adalah alat. Tetapi, apa yang perlu kita koreksi adalah mentalitas belajar yang menjadikan alat pencarian sebagai pengganti tradisi ilmu.

Seorang kader tidak hanya membutuhkan jawaban. Ia membutuhkan arah. Ia tidak hanya membutuhkan informasi. Ia membutuhkan metodologi. Ia tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Ia membutuhkan pembentukan diri.

Dan di sinilah kita perlu kembali memahami makna talaqqi.

Talaqqi: Ketika Ilmu Tidak Sekadar Dipindahkan, tetapi Dibentuk

Dalam tradisi Islam, ilmu tidak dipahami sekadar sebagai kumpulan informasi yang dapat dipindahkan dari satu perangkat ke perangkat lain. Ilmu memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.

Ada guru, ada murid, ada adab, ada proses, ada pengulangan, ada koreksi, ada keteladanan, dan ada pembentukan akhlak.

Inilah salah satu makna penting dari talaqqi.

Talaqqi bukan sekadar bertemu secara fisik dengan guru. Ia merupakan proses menerima ilmu melalui hubungan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya transmisi pengetahuan sekaligus pembentukan cara berpikir dan adab.

Seorang murid bukan hanya mendengar apa yang dikatakan gurunya, tetapi juga belajar dari bagaimana gurunya berpikir, bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berbeda pendapat, bagaimana ia menimbang persoalan, dan bagaimana ilmu itu tampak dalam kehidupannya. Dalam tradisi keilmuan Islam, hubungan guru dan murid memiliki kedudukan yang sangat penting.

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlas fī Tazkiyatil Anfus menekankan pentingnya adab dalam proses pendidikan: “Titik awal dalam keberhasilan amal adalah adab yang mengatur dunia pengajar dan pembelajar; selama adab murid dengan gurunya tidak terikat, maka pembelajaran tidak akan berlanjut…”

Pernyataan ini mengandung pesan yang sangat penting bagi pendidikan kader. Ilmu membutuhkan wadah. Dan wadah itu adalah adab.

Seorang murid yang memiliki kecerdasan tetapi tidak memiliki adab dapat menjadi orang yang banyak tahu namun sulit menerima koreksi. Ia bisa menjadi pandai berargumentasi tetapi lemah dalam ketundukan kepada kebenaran.

Sebaliknya, seorang penuntut ilmu yang memiliki adab akan memahami bahwa belajar berarti bersedia mengatakan: Saya belum tahu. Saya mungkin keliru. Saya perlu bertanya. Saya perlu dikoreksi. Saya harus membaca lebih banyak.

Inilah sikap yang semakin sulit dipelihara dalam budaya digital, karena mesin pencari selalu memberi kesan bahwa jawaban tersedia kapan saja.

Guru Bukan Google dalam Bentuk Manusia

Ada kecenderungan menarik di era digital. Ketika seseorang memiliki pertanyaan, ia segera membuka Google. Ketika menghadapi persoalan agama, ia mencari potongan video. Ketika menemukan perbedaan pendapat, ia mencari artikel yang mendukung pendapatnya. Ketika tidak memahami sebuah istilah, ia bertanya kepada AI.

Semua itu tidak salah.

Tetapi, yang menjadi masalah adalah ketika seseorang mulai berpikir bahwa fungsi guru dapat digantikan oleh mesin pencari. Padahal guru bukan sekadar tempat memperoleh informasi. Guru memberikan sesuatu yang tidak diberikan oleh mesin pencari: konteks, koreksi, arah, metodologi, dan keteladanan.

Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip Said Hawwa, menjelaskan tanggung jawab guru: “Tugas pertama guru adalah belas kasihan kepada para murid dan memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri… tujuannya adalah menyelamatkan mereka dari api akhirat, yang mana itu lebih penting daripada upaya orang tua menyelamatkan anak-anak mereka dari api dunia.”

Perhatikan kedalaman pandangan tersebut. Guru tidak digambarkan sebagai penyedia jawaban. Guru adalah orang yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan dan pembentukan murid.

Google tidak mengetahui apakah seseorang sedang bingung, sedang sombong, sedang mencari pembenaran, atau sedang membutuhkan koreksi. Algoritma tidak mengetahui keadaan hati murid. Ia hanya merespons permintaan.

Guru, sebaliknya, dapat berkata: “Pertanyaanmu benar, tetapi cara berpikirmu tentang persoalan ini keliru.” Atau: “Jangan membaca buku itu sekarang. Kamu belum memiliki dasar yang cukup.” Atau bahkan: “Kamu tidak membutuhkan informasi baru. Kamu perlu mengulang pelajaran lama dan mengamalkannya.”

Mesin memberikan jawaban. Guru membentuk penuntut ilmu. Disinilah perbedaan yang sangat fundamental.

Google Memberikan Jawaban, tetapi Tidak Otomatis Memberikan Metodologi

Mesin pencari memiliki kekuatan yang luar biasa. Tetapi kekuatannya sekaligus menjadi kelemahannya. Ia sangat baik dalam menjawab: “Apa itu…?” “Siapa…?” “Kapan…?” “Bagaimana…?”

Namun pertanyaan pendidikan yang lebih penting adalah: “Apa yang harus saya pelajari terlebih dahulu?” “Mengapa saya harus mempelajarinya?” “Bagaimana saya memahami persoalan ini secara utuh?” “Apa hubungan persoalan ini dengan persoalan lainnya?” “Apa pendapat para ulama tentangnya?” “Mana pendapat yang lebih kuat dan mengapa?” “Bagaimana ilmu ini mengubah perilaku saya?”

Mesin pencari tidak secara otomatis memberikan seluruh proses tersebut.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise memberikan peringatan: “Mengetahui hal-hal (knowing things) tidak sama dengan memahaminya (understanding them). Pemahaman bukanlah permainan salon yang dimainkan dengan fakta-fakta kecil.”

Ini merupakan salah satu problem terbesar pembelajaran digital. Kader mengetahui banyak hal, tetapi tidak memiliki struktur pemahaman. Ia tahu istilah syura, ukhuwah, tarbiyah, qiyadah, fikrah, manhaj, maqashid, dan sebagainya. Tetapi apakah ia memahami hubungan di antara semua konsep tersebut?

Apakah ia mengetahui akar pemikirannya? Apakah ia mengetahui perkembangan konsepnya? Apakah ia memahami penerapannya? Apakah ia mampu membedakan prinsip dengan cabang? Apakah ia mampu menerapkannya dalam persoalan baru?

Di situlah perbedaan antara mengetahui dan memahami.

Nichols menggambarkan perubahan pola membaca manusia modern dengan metafora yang sangat kuat: “Dahulu saya adalah seorang penyelam scuba di laut kata-kata. Sekarang saya meluncur di atas permukaan seperti orang yang mengendarai Jet Ski.”

Metafora ini sangat relevan bagi kader dakwah. Kita semakin banyak berselancar, tetapi semakin sedikit menyelam. Kita berpindah dari satu video ke video lain. Dari satu artikel ke artikel lain. Dari satu thread ke thread berikutnya. Dari satu kutipan ke kutipan lainnya. Tetapi jarang tinggal cukup lama pada satu persoalan untuk benar-benar memahaminya.

Bahaya Search-Driven Learning

Salah satu perubahan terbesar dalam budaya belajar digital adalah munculnya pola yang dapat disebut sebagai search-driven learning.

Kita belajar berdasarkan apa yang sedang kita cari. Ada persoalan politik → kita mencari. Ada perdebatan fikih → kita mencari. Ada isu viral → kita mencari. Ada pertanyaan dalam halaqah → kita mencari. Ada tugas → kita mencari. Ada debat di media sosial → kita mencari.

Akibatnya, proses belajar menjadi reaktif.

Apa yang menentukan agenda belajar kita bukan lagi kurikulum, tetapi pertanyaan yang muncul di layar. Padahal pendidikan kader membutuhkan kebalikannya: curriculum-driven learning.

Kita belajar bukan hanya karena ada pertanyaan, tetapi karena ada struktur ilmu yang memang harus dikuasai. Seorang mahasiswa kedokteran tidak berkata: “Hari ini saya akan belajar penyakit yang sedang viral di TikTok.” Ia mengikuti kurikulum.

Seorang calon ulama tidak membangun keilmuannya berdasarkan pertanyaan yang sedang trending. Ia mempelajari bahasa Arab, Al-Qur’an, hadis, usul fikih, fikih, akidah, sirah, dan berbagai disiplin lainnya secara bertahap.

Demikian pula kader dakwah. Ia membutuhkan peta ilmu.

Said Hawwa dalam Jundullāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan menegaskan pentingnya pendidikan yang terstruktur: “Setiap gerakan… harus memiliki kurikulum budaya dan pendidikan yang terstruktur… sehingga akar-akarnya kokoh.”

Perhatikan kata “akar”. Pohon tidak menjadi kokoh karena memiliki banyak daun. Pohon menjadi kokoh karena memiliki akar.

Demikian pula kader.

Kader tidak menjadi berilmu karena menonton  ribuan video Youtube atau Tiktok. Ia menjadi kuat karena memiliki fondasi ilmu yang tersusun dan terhubung.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.