Menyebarkan Informasi karena Sesuai dengan Pandangan Pribadi

by -1598 Views

Ada bentuk kesalahan dalam mengelola informasi yang lebih dalam daripada sekadar tidak melakukan verifikasi. Seseorang sebenarnya melakukan pemeriksaan, tetapi pemeriksaan itu tidak dilakukan secara adil.

Informasi yang sesuai dengan pandangannya diterima dengan cepat. Informasi yang mendukung kelompoknya segera dibagikan. Sebaliknya, informasi yang berlawanan justru diperiksa dengan sangat ketat, dicari kelemahannya, dipertanyakan sumbernya, bahkan ditolak sebelum dipahami secara utuh.

Inilah yang dikenal dalam psikologi sebagai confirmation bias—kecenderungan untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi dengan cara yang menguatkan keyakinan yang telah kita miliki.

Ian Tuhovsky dalam bukunya Critical Thinking menjelaskan fenomena ini dengan sangat tajam: “Anggaplah bias konfirmasi sebagai seorang ‘Yes Man’, suara yang mempercayai apapun yang Anda katakan dan entah bagaimana menemukan bahwa semua bukti mengarah pada hal yang sama.”

Masalahnya menjadi semakin serius ketika seorang kader tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mencari validasi.

Tuhovsky menambahkan: “Bahkan ketika kita membaca artikel, tujuan kita bukanlah untuk mempelajari sesuatu yang baru, melainkan untuk memvalidasi gagasan yang sudah ada… singkatnya, orang-orang ini tidak mencari informasi, mereka mencari validasi.”

Disinilah seorang aktivis dakwah perlu melakukan muhasabah: Apakah saya sedang mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya menentukan kualitas intelektual dan ruhiyah seorang kader.

Fikrah: Kompas Kebenaran, Bukan Kacamata Pembenar

Fikrah Islamiyah seharusnya membantu seorang kader memahami realitas secara jernih. Fikrah memberikan kerangka berpikir, prinsip, nilai, dan tujuan sehingga seorang Muslim tidak mudah terseret oleh arus informasi.

Namun ada bahaya ketika fikrah berubah menjadi kacamata pembenar.

Ketika itu terjadi, seseorang tidak lagi menggunakan prinsip Islam untuk menguji realitas. Sebaliknya, ia menggunakan realitas secara selektif untuk membenarkan kesimpulan yang telah ia buat sebelumnya.

Di sinilah persoalan informasi bertemu dengan persoalan tazkiyatun nafs.

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlas fī Tazkiyatil Anfus menempatkan “mengikuti hawa nafsu” (ittiba’ul hawa) sebagai salah satu penyakit jiwa yang harus dibersihkan melalui proses tarbiyah. Sebab, hawa dapat membuat seseorang tidak lagi bertanya, “Apa yang benar?”, tetapi bertanya, “Apa yang saya inginkan untuk menjadi benar?”

Said Hawwa mengingatkan bahwa hawa nafsu merupakan salah satu “pintu besar setan menuju hati.” Karena itu, seorang kader perlu memahami bahwa confirmation bias bukan hanya masalah psikologi kognitif. Ia juga dapat menjadi persoalan tazkiyah.

Ketika ego telah menjadi hakim, informasi yang merugikan diri akan terasa sebagai ancaman, sedangkan informasi yang menguntungkan diri akan terasa seperti kebenaran.

Padahal kebenaran tidak tunduk kepada kepentingan kita.

Tarbiyah dan Latihan Inshaf

Manhaj tarbiyah yang sehat tidak cukup membentuk kader yang kuat dalam mempertahankan pendapat. Tarbiyah harus membentuk kader yang kuat untuk menerima kebenaran, bahkan ketika kebenaran tersebut mengoreksi dirinya sendiri.

Inilah makna penting dari inshaf—sikap objektif, adil, dan fair dalam menilai sebuah persoalan.

Yusuf al-Qaradawi dalam Aṣ-Ṣaḥwah al-Islāmiyyah Bayna al-Ikhtilāf al-Masyrū’ wa at-Tafarruq al-Madhmūm menekankan bahwa salah satu penyebab perpecahan yang tercela adalah “al-ghuruur bin-nafs wal-i’jaab bir-ra’yi”—tertipu oleh diri sendiri dan bangga dengan pendapat pribadi.

Ini merupakan penyakit yang sangat halus.

Seseorang bisa merasa sedang membela prinsip, padahal sebenarnya sedang membela ego. Ia mengira sedang mempertahankan fikrah, padahal yang dipertahankan adalah harga diri. Ia mengira sedang membela jamaah, padahal yang sedang dibela adalah persepsi pribadinya terhadap jamaah.

Tarbiyah harus melatih kader untuk “meninggalkan fanatisme” (tarkut ta’assub) dan mengembangkan “sikap objektif” (al-inshaf) dalam menilai informasi dari pihak mana pun.

Bahkan terhadap informasi yang berasal dari pihak yang tidak kita sukai.

Belajar Keluar dari Gelembung Sendiri

Salah satu cara mematahkan confirmation bias adalah dengan sengaja mencari perspektif yang berbeda. Bukan untuk menerima semua pendapat, tetapi untuk memastikan bahwa kita memahami persoalan secara utuh.

Ian Tuhovsky memberikan saran: “Untuk secara aktif melepaskan diri dari pola Anda, tempatkan diri Anda pada posisi orang lain. Bayangkan hidup dari sudut pandang lain, pecahkan gelembung informasi yang sangat Anda sayangi.”

Nasihat ini sangat relevan dengan kehidupan kader di era digital.

Algoritma cenderung mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Kita mengikuti akun yang kita sukai, membaca media yang sejalan, bergabung dalam grup yang memiliki pandangan yang sama, kemudian semakin yakin bahwa apa yang kita lihat adalah gambaran realitas secara keseluruhan.

Padahal mungkin kita hanya sedang melihat sepotong realitas yang dipantulkan oleh gelembung informasi kita sendiri.

Kader perlu membangun kebiasaan intelektual untuk sesekali bertanya: Bagaimana pihak yang berbeda dengan saya melihat persoalan ini? Apa argumen terbaik dari pihak yang tidak saya setujui? Apakah ada fakta yang saya abaikan karena tidak sesuai dengan keyakinan saya? Jika informasi ini merugikan kelompok saya, apakah saya tetap akan menganggapnya benar?

Pertanyaan semacam ini adalah latihan inshaf sekaligus latihan tazkiyah.

Kebenaran di Atas Kepentingan

Ada satu prinsip yang harus menjadi etika informasi seorang kader: Kebenaran tidak menjadi benar karena menguntungkan kita, dan tidak menjadi salah karena merugikan kita.  Prinsip ini harus hidup bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam cara kita membaca, menilai, dan menyebarkan informasi.

Jika sebuah informasi benar dan menguntungkan pihak kita, kita menerimanya karena kebenarannya, bukan semata karena manfaatnya bagi kita. Jika sebuah informasi benar tetapi merugikan pihak kita, kita tetap menerimanya karena kebenaran lebih tinggi daripada kepentingan kelompok.

Begitu pula sebaliknya.

Seorang aktivis dakwah yang matang bahkan harus mampu lebih kritis terhadap informasi yang sesuai dengan prasangkanya sendiri. Sebab informasi yang kita sukai justru sering kali menjadi informasi yang paling sedikit kita periksa.

Ian Tuhovsky menjelaskan kecenderungan ini: “Kita berpikir lebih dalam tentang bukti ketika bukti tersebut bertentangan dengan keyakinan kita… dia cenderung skeptis tentang laporan tersebut, temuan-temuannya, dan metodologinya, karena dia tidak setuju dengan kesimpulan studi tersebut.”

Maka kematangan seorang kader bukan terlihat dari seberapa kuat ia mempertahankan pendapatnya, tetapi juga dari seberapa tulus ia bersedia mengoreksi pendapatnya ketika berhadapan dengan kebenaran.

Inilah integritas dakwah.

Dakwah tidak membutuhkan kader yang selalu merasa dirinya benar. Dakwah membutuhkan kader yang selalu bersedia tunduk kepada yang benar.

Dan pada akhirnya, tabayyun bukan hanya kemampuan memeriksa berita yang datang dari orang lain. Tabayyun juga merupakan keberanian untuk memeriksa diri sendiri: memeriksa prasangka, memeriksa kecenderungan, memeriksa ego, dan memeriksa apakah hati kita benar-benar mencari kebenaran atau hanya mencari alasan untuk membenarkan apa yang sejak awal ingin kita percayai.

Kebenaran tetaplah kebenaran, sekalipun ia tidak menguntungkan kita. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.