Penutup: Merebut Kembali Kedaulatan Kognitif Kader Dakwah

by -1388 Views

Setelah membedah sepuluh problematika aktivis dakwah dalam menghadapi arus informasi digital, kita sampai pada satu kesimpulan penting: krisis utama kita bukanlah kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan mengelola informasi yang melimpah.

Kita hidup dalam keadaan yang secara paradoks sangat kaya informasi, tetapi sekaligus berpotensi miskin pemahaman.

Informasi hadir dalam jumlah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Berita datang melalui portal digital. Pendapat muncul melalui media sosial. Video pendek menawarkan kesimpulan dalam hitungan detik. Grup WhatsApp dan Telegram menghadirkan puluhan bahkan ratusan pesan setiap hari. Podcast, live streaming, short video, thread, meme, dan trending topic terus berebut ruang dalam perhatian kita.

Masalahnya bukan lagi: “Bagaimana mendapatkan informasi?” Tetapi: “Bagaimana memilih, memeriksa, memahami, menyimpan, dan menggunakan informasi secara benar?”

Disinilah persoalan literasi digital bertemu dengan persoalan tarbiyah.

Sebab seorang kader dakwah bukan hanya dituntut mengetahui banyak hal, tetapi harus mampu menempatkan setiap informasi pada tempatnya.

Ia harus mengetahui kapan menerima, kapan meneliti, kapan bertanya, kapan berdiskusi, kapan menyimpan, kapan mengabaikan, dan kapan menyampaikan.

Dengan kata lain, kita membutuhkan kedaulatan kognitif: kemampuan untuk menjaga pikiran, perhatian, penilaian, dan keputusan agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh arus informasi dan algoritma digital.

Sepuluh Problematika yang Sesungguhnya Merupakan Satu Krisis

Sepuluh persoalan yang telah kita bahas bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Semuanya membentuk sebuah rantai.

Kita memulainya dari menyebarkan informasi tanpa tabayyun. Informasi datang, lalu segera diteruskan sebelum diperiksa. Kecepatan distribusi mengalahkan ketelitian.

Kemudian kader menerima judul berita tanpa membaca isi. Headline menggantikan pemahaman. Potongan informasi menggantikan konteks.

Setelah itu muncul kecenderungan menganggap informasi viral sebagai informasi penting. Popularitas menjadi ukuran relevansi.

Kader kemudian kehilangan kemampuan membedakan fakta, opini, interpretasi, framing, propaganda, misinformasi, dan disinformasi. Semua yang muncul di layar diperlakukan sebagai informasi dengan derajat kebenaran yang sama.

Masalah berikutnya adalah mengandalkan satu sumber untuk mengambil kesimpulan. Kader tidak melakukan cross-checking dan triangulation.

Kemudian diperparah oleh ketidakmampuan memeriksa kredibilitas sumber. Tampilan yang profesional, jumlah pengikut yang besar, grafik yang menarik, atau nama yang populer dianggap cukup sebagai jaminan kebenaran.

Lebih dalam lagi, muncul confirmation bias: informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi diterima dengan cepat, sementara informasi yang berlawanan diperiksa dengan sangat ketat.

Kemudian kader mengalami information overload. Informasi semakin banyak, tetapi kapasitas perhatian semakin terbatas.

Dari sini muncul persoalan ketiadaan prioritas. Semua informasi diperlakukan seolah-olah sama penting.

Dan akhirnya, seluruh masalah tersebut bermuara pada satu budaya: menjadi distributor informasi sebelum menjadi verifikator.

Kader lebih ingin menjadi orang pertama yang membagikan daripada menjadi orang yang paling dapat dipercaya.

Maka, jika seluruh problematika tersebut diringkas, kita dapat mengatakan: Krisis aktivis dakwah di era digital bukan sekadar krisis informasi. Ia adalah krisis dalam mengelola arus informasi.

Dari Information Overload Menuju Attention Crisis

Kita sering mengatakan bahwa zaman ini adalah zaman information overload. Namun sesungguhnya ada persoalan yang lebih mendasar: krisis perhatian.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet memberikan koreksi penting: “Bukan kelebihan informasi (information overload), melainkan konsumsi informasi yang berlebihan (information overconsumption) yang menjadi masalah… Informasi tidak berdaya untuk memaksa Anda melakukan apa pun selama Anda sadar bagaimana ia memengaruhi Anda.”

Dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata bahwa informasi terlalu banyak. Masalahnya adalah kita tidak memiliki sistem untuk mengelolanya.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind mengingatkan: “Otak kita memang memiliki kemampuan untuk memproses informasi yang kita terima, tetapi ada harganya: Kita bisa kesulitan memisahkan hal sepele dari hal penting, dan semua pemrosesan informasi ini membuat kita lelah… saraf adalah sel hidup dengan metabolisme; mereka membutuhkan oksigen dan glukosa untuk bertahan hidup dan ketika mereka telah bekerja keras, kita mengalami kelelahan.”

Maka seorang kader dapat mengalami keadaan yang sangat paradoksal: banyak mengetahui berita, tetapi sedikit memahami persoalan; banyak melihat informasi, tetapi sedikit memiliki pengetahuan; banyak mengikuti diskusi, tetapi sedikit memiliki kedalaman; banyak berbicara, tetapi sedikit melakukan refleksi.

Inilah yang harus kita waspadai.

Dakwah Membutuhkan Kader yang Mampu Mengelola Perhatian

Dalam dakwah, perhatian bukan perkara kecil. Perhatian menentukan apa yang kita baca. Apa yang kita baca memengaruhi apa yang kita pikirkan. Apa yang kita pikirkan memengaruhi apa yang kita yakini. Apa yang kita yakini memengaruhi keputusan. Dan keputusan akhirnya menentukan amal.

Karena itu, siapa yang berhasil menguasai perhatian seorang kader, dalam tingkat tertentu, telah berhasil memengaruhi arah berpikir dan bertindaknya.

Johann Hari dalam Stolen Focus menggambarkan kondisi manusia modern: “Saat ini, situasinya seperti kita sedang ‘minum dari selang pemadam kebakaran—terlalu banyak yang datang ke arah kita.’ Kita terendam dalam informasi.”

Maka persoalan mengelola informasi sebenarnya adalah persoalan menjaga arah perhatian. Kader tidak boleh membiarkan algoritma menentukan seluruh isi pikirannya. Tidak semua yang muncul di timeline harus diketahui. Tidak semua yang viral harus diikuti. Tidak semua yang menarik harus dibaca. Tidak semua yang dibaca harus dipercayai. Tidak semua yang dipercayai harus disebarkan. Dan bahkan: Tidak semua yang benar harus disampaikan kepada semua orang pada setiap waktu.

Disinilah ilmu bertemu dengan hikmah.

Dari Share First Menuju Trust First

Pada akhirnya, seluruh pembahasan buku ini dapat diringkas dalam sebuah perubahan budaya.

Dari: Share first menjadi: Verify first.

Namun sesungguhnya kita harus bergerak lebih jauh.

Dari: “Saya harus menjadi orang pertama yang tahu.” menjadi: “Saya harus menjadi orang yang dapat dipercaya.”

Dari Information consumer menjadi Information processor. Dari Reaktif menjadi  Reflektif. Dari Viral-oriented menjadi Mission-oriented. Dari Headline menuju  Deep understanding. Dari Popularitas menuju Kebenaran. DarI Algoritma sebagai kompas menuju Fikrah sebagai kompas. Dan dari banjir informasi menuju kedalaman ilmu.

Penutup: Menjaga Cahaya di Tengah Badai Informasi

Dunia digital tidak akan menjadi lebih sunyi. Justru kemungkinan besar akan semakin ramai. Informasi akan semakin cepat. Algoritma akan semakin cerdas. Konten akan semakin banyak. Manipulasi akan semakin halus. Dan perhatian manusia akan semakin diperebutkan.

Kita tidak dapat berharap bahwa badai informasi akan berhenti. Apa yang harus kita lakukan adalah membangun kader yang mampu berdiri kokoh di tengah badai tersebut.

Kader yang tidak mudah terkejut oleh berita. Tidak mudah terbawa viralitas. Tidak mudah membenci karena propaganda. Tidak mudah percaya karena popularitas. Tidak mudah menolak karena fanatisme. Dan tidak mudah berbicara sebelum memahami. Kader seperti inilah yang dibutuhkan dakwah.

Kader dakwah yang memiliki tabayyun sebelum menyampaikan.Ia memiliki tafaqquh sebelum mengambil kesimpulan. Ia memiliki inshaf ketika menghadapi perbedaan. Ia memiliki syura ketika menghadapi keterbatasan. Ia memiliki tazkiyah ketika berhadapan dengan hawa nafsu. Dan ia memiliki amanah ketika memegang informasi.

Sebab pada akhirnya, persoalan informasi bukan sekadar persoalan apa yang masuk ke dalam kepala kita. Ia juga menyangkut apa yang keluar dari lisan dan jari-jari kita. Setiap forward adalah pilihan. Setiap share adalah keputusan. Setiap komentar adalah kesaksian.

Dan setiap informasi yang kita sebarkan dapat menjadi amal yang mendatangkan manfaat—atau menjadi sebab lahirnya fitnah dan penyesalan.

Maka marilah kita mengubah pertanyaan kita. Jangan lagi hanya bertanya: “Apa yang sedang viral?” Tetapi: “Apa yang benar?” Jangan hanya bertanya: “Apa yang sedang dibicarakan banyak orang?” Tetapi: “Apa yang sebenarnya penting bagi umat?” Jangan hanya bertanya: “Apa yang sesuai dengan pandangan saya?” Tetapi: “Apakah pandangan saya sesuai dengan kebenaran?” Dan jangan hanya bertanya: “Bagaimana agar saya menjadi yang pertama membagikan?” Tetapi tanyakan: “Apakah saya sudah cukup yakin untuk mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?”

Di tengah dunia yang penuh suara, dakwah membutuhkan kader yang memiliki kejernihan. Di tengah dunia yang penuh informasi, dakwah membutuhkan kader yang memiliki kedalaman. Di tengah dunia yang penuh manipulasi, dakwah membutuhkan kader yang memiliki integritas. Dan di tengah dunia yang terus berebut perhatian, dakwah membutuhkan kader yang mampu merebut kembali kedaulatan atas pikirannya sendiri.

Karena tujuan akhir kita bukan menjadi manusia yang paling banyak mengetahui. Bukan pula menjadi orang yang paling cepat menyebarkan berita. Tetapi menjadi hamba Allah yang mengetahui apa yang benar, memahami apa yang penting, mengamalkan apa yang diketahui, dan menyampaikan kebenaran dengan amanah.

Tabayyun sebelum menyebarkan.
Ilmu sebelum berbicara.
Kebenaran sebelum kepentingan.
Amanah sebelum popularitas.
Fikrah sebelum algoritma.
Dan Allah sebelum segala-galanya.

Itulah jalan keluar dari krisis mengelola arus informasi. Bukan dengan melarikan diri dari dunia digital. Tetapi memasukinya dengan ilmu, menghadapinya dengan fikrah, mengelolanya dengan disiplin, dan menggunakannya sebagai sarana untuk menunaikan amanah dakwah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.