Tidak Memiliki Prioritas dalam Mengonsumsi Informasi

by -44 Views

Ditengah banjir informasi, ada satu kesalahan yang sering tidak disadari: memperlakukan semua informasi seolah-olah memiliki nilai yang sama.

Kader membaca berita politik, lalu membaca komentar warganet. Setelah itu berpindah ke video pendek, mengikuti polemik terbaru, membuka percakapan grup, membaca utas yang sedang ramai, kemudian mengikuti perdebatan di kolom komentar. Satu jam berlalu.

Ketika tiba waktunya membaca buku kaderisasi, mempelajari Al-Qur’an, menelaah kitab, atau menyelesaikan amanah dakwah, tiba-tiba muncul alasan: “Tidak sempat.”

Padahal persoalannya mungkin bukan tidak memiliki waktu. Persoalannya adalah tidak memiliki prioritas.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind menjelaskan: “Mencoba mencari tahu apa yang perlu Anda ketahui dan apa yang dapat Anda abaikan sangatlah melelahkan… Jaringan pembuat keputusan di otak kita tidak melakukan prioritas.”

Kalimat ini memberi pelajaran penting. Prioritas tidak selalu muncul dengan sendirinya. Ia harus dibangun secara sadar. Jika kader tidak menentukan apa yang penting, maka lingkungan digital akan menentukan untuknya.

Dan algoritma tidak mengenal amanah dakwah.

Algoritma tidak mengetahui bahwa seorang kader sedang membutuhkan pemahaman Al-Qur’an. Ia tidak peduli apakah kader sedang menyelesaikan tugas organisasi. Ia tidak mengetahui bahwa ada buku yang harus dibaca atau ilmu yang harus diperdalam.

Algoritma hanya membaca satu hal: apa yang membuat kita terus memperhatikan layar.

Ketika yang Menarik Mengalahkan yang Penting

Salah satu persoalan terbesar dalam konsumsi informasi adalah munculnya kesetaraan palsu antara hal sepele dan hal penting. 

Sebuah polemik di media sosial dapat memperoleh ribuan komentar. Sementara sebuah kajian mendalam tentang pendidikan umat mungkin hanya ditonton beberapa ratus orang.

Sebuah video provokatif dapat menyebar dalam hitungan jam. Sementara buku yang membahas sejarah perjuangan dakwah membutuhkan waktu berhari-hari untuk dibaca.

Jika ukuran perhatian kita adalah jumlah likes, views, shares, dan komentar, maka dengan sendirinya sesuatu yang menarik akan mengalahkan sesuatu yang penting.

Padahal: interesting ≠ important. Apa yang menarik belum tentu penting dan yang viral belum tentu strategis. Apa yang banyak dibicarakan belum tentu membutuhkan perhatian kita.

Sebaliknya, sesuatu yang sangat penting terkadang justru tidak menarik secara emosional. Ia membutuhkan kesabaran. Ia membutuhkan konsentrasi. Ia membutuhkan pembacaan yang panjang. Dan karena itu, ia sering kalah bersaing dengan konten yang dirancang untuk mendapatkan perhatian dalam beberapa detik.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet mengingatkan: “Agar kita dapat menjalani hidup yang sehat, kita harus memindahkan kebiasaan konsumsi informasi kita dari latar belakang pasif perpindahan saluran (channel surfing) ke latar depan pemilihan secara sadar.”

Inilah perubahan mental yang harus dilakukan kader.

Bukan lagi: “Apa yang muncul di layar saya?” Tetapi: “Apa yang memang perlu saya masukkan ke dalam pikiran saya?”

Kader Membutuhkan Information Triage

Dalam dunia medis, triage berarti melakukan pemilahan berdasarkan tingkat urgensi. Tidak semua pasien diperlakukan dengan cara yang sama. Ada yang membutuhkan penanganan segera, ada yang dapat menunggu, dan ada yang tidak membutuhkan tindakan darurat.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada informasi.

Daniel J. Levitin menyebut proses ini sebagai “Triage”, yaitu: “pemilahan aktif… memisahkan hal-hal yang perlu Anda tangani sekarang dari hal-hal yang tidak perlu.”

Bagi seorang kader, setidaknya ada empat kategori informasi.

  1. Pertama, informasi yang harus diketahui. Ini adalah informasi yang berkaitan langsung dengan amanah, keselamatan, keputusan penting, ilmu pokok, kondisi umat, atau tanggung jawab yang sedang dijalankan. Informasi semacam ini tidak boleh diabaikan.
  2. Kedua, informasi yang perlu diketahui. Informasi ini tidak selalu mendesak, tetapi penting untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas. Buku, kajian, laporan, penelitian, sejarah, perkembangan sosial, dan berbagai bahan yang memperkuat kapasitas kader masuk dalam kategori ini.
  3. Ketiga, informasi yang menarik untuk diketahui. Informasi ini boleh diketahui, tetapi tidak harus menguasai perhatian. Ia dapat memberikan hiburan, wawasan tambahan, atau pengetahuan umum, tetapi tidak boleh mengambil porsi perhatian yang mengorbankan hal-hal yang lebih penting.
  4. Keempat, informasi yang tidak perlu diketahui. Inilah kategori yang sering sulit kita akui. Tidak semua perdebatan harus kita ikuti. Tidak semua komentar perlu dibaca. Tidak semua polemik perlu kita pahami.Tidak semua video yang muncul di timeline perlu ditonton sampai selesai.

Kemampuan mengatakan “saya tidak perlu mengetahui ini” bukan tanda ketertinggalan. Justru itu adalah tanda bahwa seseorang memahami batas perhatian dan amanahnya.

Fokus adalah Modal Perjuangan

Kader yang tidak memiliki prioritas akan mudah mengalami apa yang dapat disebut sebagai fragmentasi perhatian. Ia selalu mengetahui banyak hal, tetapi sulit menyelesaikan sesuatu. Ia selalu mengikuti perkembangan, tetapi jarang menghasilkan kedalaman. Ia cepat merespons, tetapi lambat bertumbuh. Ia aktif di banyak percakapan, tetapi tidak selalu bertambah kapasitasnya. Padahal perjuangan membutuhkan fokus.

Daniel J. Levitin memberikan prinsip yang sangat penting: “Setelah Anda memprioritaskan dan mulai bekerja, mengetahui bahwa apa yang Anda lakukan adalah hal terpenting untuk dilakukan pada saat itu memberikan kekuatan yang luar biasa. Hal-hal lain bisa menunggu.”

Kalimat “hal-hal lain bisa menunggu” perlu menjadi bagian dari disiplin seorang kader. Sebab salah satu penyakit zaman digital adalah perasaan bahwa semuanya harus segera diperhatikan.

Padahal tidak.

Ada informasi yang bisa menunggu. Ada pesan yang bisa dijawab nanti. Ada berita yang tidak perlu dibaca. Ada perdebatan yang tidak perlu diikuti. Ada isu yang tidak perlu dikomentari. Sementara ada ilmu yang harus dipelajari sekarang. Ada Al-Qur’an yang harus dibaca sekarang. Ada amanah yang harus ditunaikan sekarang. Ada keluarga yang harus diperhatikan sekarang. Ada pembinaan yang harus dijalankan sekarang.

Kedewasaan bukan kemampuan melakukan semuanya. Kedewasaan adalah kemampuan menentukan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Fikrah sebagai Kompas Informasi

Disinilah fikrah memiliki peran yang sangat penting.

Tanpa kompas, seseorang akan bergerak mengikuti apa pun yang menarik perhatiannya. Demikian pula kader tanpa fikrah yang kokoh akan mudah bergerak mengikuti isu yang paling ramai, bukan persoalan yang paling penting.

Johann Hari dalam Stolen Focus memperkenalkan gagasan tentang “Starlight”, yaitu kemampuan mempertahankan fokus pada tujuan jangka panjang: “fokus yang dapat Anda terapkan pada ‘tujuan jangka panjang Anda—proyek dari waktu ke waktu.’ … Anda menatap bintang-bintang, dan Anda mengingat arah perjalanan Anda.”

Gambaran ini sangat relevan bagi kehidupan kader.

Orang yang melihat bintang tidak akan mengubah arah perjalanan setiap kali melihat cahaya lain di sekitarnya. Ia tahu ke mana hendak pergi. Demikian pula kader yang memiliki fikrah. Ia boleh mengetahui berbagai isu, tetapi tidak kehilangan arah. Ia boleh membaca berbagai perspektif, tetapi tidak kehilangan prinsip. Ia boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak membiarkan perkembangan zaman menentukan seluruh agenda hidupnya.

Sebaliknya, Johann Hari mengingatkan bahwa tanpa tujuan jangka panjang, seseorang dapat menjadi: “tergantung pada sinyal-sinyal sederhana dari dunia luar seperti retweet.”

Betapa relevannya peringatan ini.

Jika ukuran keberhasilan kader adalah berapa banyak orang menyukai unggahannya, berapa banyak orang membagikan tulisannya, atau seberapa ramai sebuah isu yang ia komentari, maka orientasi perjuangan perlahan dapat bergeser.

Dari mencari ridha Allah menjadi mencari respons publik. Dari membangun umat menjadi mengejar engagement. Dari membentuk manusia menjadi mengejar viralitas. Dari agenda dakwah menjadi agenda algoritma. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.