Ada perubahan besar dalam cara manusia memperlakukan aib. Dahulu, aib mungkin hanya diketahui oleh beberapa orang dalam sebuah lingkungan kecil. Kini, satu screenshot, potongan video, rekaman suara, atau unggahan anonim dapat mengubah kesalahan pribadi menjadi tontonan jutaan manusia.
Disinilah satrul ‘uyub menghadapi tantangan baru. Menutup aib tidak lagi sekadar menahan lisan agar tidak bercerita, tetapi juga menahan jari agar tidak share, menahan diri agar tidak ikut comment, dan menahan rasa ingin tahu agar tidak terus menggali.
Masalahnya bukan semata-mata teknologi. Masalah yang lebih dalam adalah ketika kehormatan manusia berubah menjadi komoditas perhatian.
Mesin Hype dan Magnet Skandal
Sinan Aral dalam bukunya The Hype Machine menggambarkan media sosial sebagai sebuah ekosistem yang digerakkan oleh jaringan manusia dan mesin, dengan triliunan “sinyal sosial digital” yang terus diproduksi dan dipertukarkan. Dalam ekosistem semacam ini, perhatian menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Aib memiliki karakter yang sangat cocok dengan mesin tersebut: mengejutkan, emosional, kontroversial, dan membuat orang penasaran.
Aral menjelaskan melalui konsep “The Novelty Hypothesis” atau Hipotesis Kebaruan bahwa manusia cenderung lebih tertarik dan lebih cepat menyebarkan informasi yang baru, mengejutkan, dan tidak biasa. Skandal menjadi menarik bukan semata-mata karena penting, tetapi karena ia mengubah apa yang sebelumnya kita ketahui tentang seseorang.
Lebih dari itu, Aral menjelaskan bahwa penyebaran informasi tertentu dapat memberikan “status sosial kepada pengirimnya”. Orang yang pertama membawa kabar sensasional akan dianggap sebagai orang yang “in the know”—orang yang paling tahu, memiliki informasi orang dalam, atau mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain.
Disinilah kita perlu berhati-hati.
Kadang-kadang kita tidak membagikan aib karena ingin menegakkan kebenaran. Kita membagikannya karena ingin menjadi orang pertama yang tahu.
Kita merasa penting karena memiliki informasi yang orang lain belum memilikinya.
Dalam perspektif tazkiyatun nafs, ini adalah persoalan serius. Sebab, sesuatu yang secara lahiriah terlihat seperti “berbagi informasi” dapat berubah menjadi pemuasan ego yang sangat halus.
Screenshot dan Persenjataan Digital
Dahulu, seseorang membutuhkan akses khusus untuk mengetahui rahasia orang lain. Sekarang, cukup dengan satu screenshot, sebuah percakapan privat dapat berpindah dari ruang pribadi ke ruang publik.
Sinan Aral menjelaskan bahwa aktivitas digital manusia menghasilkan “data exhaust”, yaitu jejak data yang terbentuk dari berbagai aktivitas, preferensi, dan interaksi digital manusia. Jejak tersebut pada dasarnya merupakan konsekuensi dari kehidupan yang semakin terhubung.
Persoalannya muncul ketika jejak tersebut sengaja digunakan untuk mempermalukan seseorang.
Percakapan pribadi dipotong. Kalimat diambil tanpa konteks. Video lama ditemukan kembali. Foto pribadi diedarkan. Kemudian semuanya diberi satu label: “spill.”
Setelah itu, mesin bekerja.
Orang memberikan komentar. Sebagian lain membagikan. Akun berikutnya mengunggah ulang. Media lain mengutip. Algoritma membaca tingginya engagement dan terus mendorong konten tersebut kepada pengguna lain.
Jon Ronson dalam So You’ve Been Publicly Shamed menggambarkan fenomena penghukuman semacam ini sebagai “pencambukan di alun-alun kota versi abad ke-21” (21st-century town square flogging).
Apa yang membuatnya mengerikan adalah kecepatannya. Dahulu seseorang mungkin dipermalukan dihadapan puluhan orang. Sekarang, satu kesalahan dapat disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan manusia.
Ronson juga mencatat dampak psikologis yang sangat berat dari penghinaan publik. Psikiater James Gilligan menggunakan istilah “mortifikasi” untuk menggambarkan pengalaman penghinaan ekstrem yang dapat membuat seseorang merasa kehilangan “kehidupan sosialnya”.
Maka, jangan pernah menganggap spill sebagai sekadar hiburan.
Dibalik sebuah konten ada manusia. Dibalik manusia ada keluarga. Dibalik keluarga ada kehidupan yang mungkin ikut hancur.
Avalanche Effect: Ketika Semua Merasa Tidak Bersalah
Ada alasan lain mengapa penyingkapan aib begitu mudah menjadi viral: setiap orang merasa dirinya hanya memberikan kontribusi kecil.
Jon Ronson mengutip sebuah gambaran yang sangat kuat: “Kepingan salju tidak pernah merasa bertanggung jawab atas terjadinya longsor.” (The snowflake never needs to feel responsible for the avalanche.)
Satu share terasa kecil. Satu komentar terasa kecil. Satu retweet terasa kecil. Tetapi persoalannya bukan satu kepingan salju. Persoalannya adalah jutaan kepingan salju yang jatuh bersamaan.
Demikian pula dengan aib di media sosial. Orang pertama yang mengunggah mungkin merasa bertanggung jawab. Tetapi orang kedua berkata, “Saya hanya meneruskan.” Orang ketiga berkata, “Saya hanya berkomentar.” Orang keempat berkata, “Sudah viral, bukan saya yang memulainya.”
Akhirnya, tidak ada seorang pun merasa bertanggung jawab, sementara korban menghadapi seluruh akibatnya.
Disinilah akhlak Islam memberikan rem yang sangat penting: setiap Muslim harus bertanggung jawab atas apa yang keluar dari lisannya maupun tangannya.
Maka pertanyaan yang harus kita ajukan sebelum menekan tombol share bukan hanya, “Apakah ini benar?” Tetapi juga: “Apakah saya berhak menyebarkannya?”
Apakah Semua yang Benar Harus Dipublikasikan?
Inilah pertanyaan terpenting dalam bab ini. Benar tidak selalu berarti harus dipublikasikan. Dalam perspektif syariat, kebenaran harus ditempatkan bersama maslahah, keadilan, rahmat, dan tujuan syariat.
Ibn al-Qayyim dalam I‘lām al-Muwaqqi’īn memberikan prinsip yang sangat mendasar: “Setiap masalah yang keluar dari keadilan menuju kezaliman, atau dari rahmat menuju lawan darinya, maka itu bukanlah bagian dari syariat.”
Karena itu, sebuah fakta yang benar tidak otomatis menjadi halal untuk diumbar kepada publik.
Jika sebuah informasi dibuka untuk melindungi korban, menghentikan kejahatan, memberikan kesaksian, atau menegakkan keadilan melalui jalur yang tepat, maka ada pertimbangan syar‘i yang berbeda.
Tetapi jika informasi tersebut dibuka hanya untuk mempermalukan, menghancurkan reputasi, mencari likes, atau memuaskan rasa ingin tahu, maka kita harus berhenti.
Kebenaran tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan kezaliman.
Syaikh Muhammad al-Ghazali mengingatkan bahwa seorang Muslim hendaknya bertindak seperti “dokter yang sukses”. Dokter mengetahui penyakit pasien, tetapi tidak menjadikan penyakit itu sebagai tontonan. Ia mencari cara agar pasien sembuh.
Inilah perbedaan antara islah dan istila’. Islah bertanya: “Bagaimana orang ini bisa diperbaiki?” Istila’ bertanya: “Bagaimana saya bisa berada di atasnya? Pertama adalah ruh dakwah, sedangkan yang kedua adalah penyakit ego.
Menjadi Tirai Ditengah Mesin Hype
Ditengah dunia yang menjadikan skandal sebagai bahan bakar algoritma, menutup aib adalah sebuah bentuk keberanian moral.
Kita sedang melawan arus yang mengatakan bahwa semua yang menarik harus dibagikan, semua yang viral harus dikomentari, dan semua yang benar harus diumumkan.
Islam mengajarkan sesuatu yang lebih matang: tidak semua yang kita ketahui harus kita ceritakan, tidak semua yang benar harus kita sebarkan, dan tidak setiap kesalahan manusia harus menjadi konsumsi manusia lainnya.
Dibalik setiap konten aib yang viral terdapat manusia yang mungkin sedang mengalami apa yang Jon Ronson gambarkan sebagai “teror akan penyingkapan” (the terror of being found out). Bisa jadi kita sedang melihat kesalahan orang lain sambil lupa bahwa kita sendiri hidup karena Allah masih menutup kesalahan-kesalahan kita.
Maka, sebelum ikut menjadi bagian dari avalanche, berhentilah sejenak. Jangan menjadi orang yang menambahkan satu kepingan salju lagi.
Jadilah tirai.
Sebab ketika kita memilih menutup aib seorang Muslim di dunia digital, kita bukan hanya sedang menjaga kehormatannya. Kita sedang berharap agar suatu hari nanti, ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah, Allah pun berkenan menutup aib kita. (im)







