Tajassus: Ketika Kita Menjadi Detektif Aib

by -1712 Views

Ada perubahan yang sangat halus dalam diri seseorang ketika ia terlalu sering melihat kesalahan orang lain. Pada awalnya mungkin hanya rasa ingin tahu. Lalu berubah menjadi kebiasaan mencari informasi. 

Setelah itu muncul dorongan untuk memeriksa masa lalu, membuka percakapan lama, menelusuri unggahan, hingga akhirnya merasa puas ketika menemukan sesuatu yang dapat mempermalukan orang lain.

Pada titik itulah seorang Muslim yang semestinya menjadi pelindung kehormatan berubah menjadi detektif aib.

Padahal, Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat jelas:

وَلَا تَجَسَّسُوا
“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Larangan ini bukan sekadar larangan terhadap tindakan mengintip. Ia merupakan pendidikan jiwa agar seorang Muslim tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai objek penyelidikan untuk menemukan kelemahannya.

Membaca Tajassus: Dari Rasa Ingin Tahu Menuju Kezaliman

Dalam khazanah klasik, batasan tajassus dijelaskan dengan sangat hati-hati. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fatḥ al-Bārī menjelaskan bahwa tajassus merujuk pada upaya aktif seseorang untuk menyingkap apa yang sengaja disembunyikan oleh orang lain, terutama dalam hal-hal yang bersifat buruk atau memalukan.

Sementara itu, dalam ‘Awn al-Ma‘būd, tajassus juga dijelaskan sebagai upaya mencari-cari cacat atau rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain.

Perbedaannya dengan sekadar mengetahui informasi sangat penting. Kita bisa saja mengetahui suatu kesalahan secara tidak sengaja. Tetapi ketika kita sengaja mencari, menelusuri, mengorek, dan menggali sesuatu yang telah Allah tutupi dari manusia, kita telah memasuki wilayah tajassus.

Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menempatkan perilaku mencari-cari kesalahan sebagai salah satu penyakit lisan dan hati yang merusak. Ketika seseorang mulai mengintai kesalahan saudaranya, sesungguhnya ia bukan sedang memperbaiki dirinya, tetapi sedang memberi makan rasa curiga, iri, dan keinginan untuk merasa lebih tinggi.

Menjadi “detektif aib” berarti seseorang telah merobek pakaian kemanusiaannya sendiri sebelum ia merobek kehormatan orang lain.

Mengapa Kita Menikmati Proses Mencari Kesalahan?

Mengapa aktivitas ini terasa begitu menarik?

Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation menjelaskan bagaimana media sosial melakukan rewiring terhadap cara manusia berinteraksi. Platform digital menciptakan apa yang disebut sebagai “social-validation feedback loop”, yaitu lingkaran umpan balik validasi sosial.

Ketika kita berhasil menemukan “kesalahan” seseorang kemudian membagikannya, muncul imbalan psikologis:

  • Dopamine Hit. Like, share, dan komentar memberikan sensasi penghargaan yang membuat kita merasa didengar.
  • Rasa Superioritas. Sebagaimana dibahas dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, menunjukkan kesalahan orang lain dapat membuat ego merasa lebih bersih dan lebih benar.
  • Identitas Kelompok. Membongkar aib “pihak lain” dapat menjadi sarana memperoleh penerimaan dari kelompok sendiri.

Di sinilah tazkiyatun nafs menjadi sangat penting. Seorang mukmin harus bertanya kepada dirinya: Apa yang sebenarnya sedang saya cari—kebenaran atau kepuasan ego?

Algoritma dan Lahirnya Detektif Digital

Masalah menjadi semakin kompleks karena teknologi ikut memperkuat kecenderungan tersebut.

Sinan Aral dalam The Hype Machine menjelaskan konsep “Hype Loop”, sebuah siklus timbal balik antara manusia dan mesin dalam menentukan apa yang mendapatkan perhatian. Aral mencatat bahwa algoritma media sosial dirancang untuk “memaksimalkan keterlibatan (engagement)”.

Konten skandal dan penyingkapan aib sangat cocok dengan mekanisme ini karena memenuhi “The Novelty Hypothesis”—informasi baru dan mengejutkan yang menarik perhatian.

Maka terbentuklah lingkaran: mencari → menemukan → tertarik → membagikan → mendapatkan respons → mencari lagi.

Ponsel menjadi portal pengintaian yang selalu berada di tangan. Data exhaust—jejak digital berupa foto lama, komentar lama, unggahan lama, dan berbagai aktivitas daring—dapat berubah menjadi bahan mentah untuk membongkar masa lalu seseorang.

Jika kita sekali melakukan stalking terhadap aib seseorang, algoritma dapat menyodorkan lebih banyak informasi sejenis. Akhirnya, manusia merasa sedang memilih informasi, padahal perlahan-lahan ia sedang dibentuk oleh informasi yang terus disajikan kepadanya.

Keluar dari Perangkap Pengintaian

Menjadi “detektif aib” di era digital merupakan bentuk tajassus yang dampaknya jauh lebih luas daripada masa lalu. Dahulu, seseorang mungkin mengorek satu rahasia. Sekarang, satu orang dapat menemukan, menyimpan, dan menyebarkan informasi kepada ribuan bahkan jutaan manusia.

Karena itu, kita perlu kembali kepada pendidikan Nabi ﷺ: menjaga mata, menjaga hati, menjaga lisan, dan menjaga jari-jari kita.

Setiap menit yang kita habiskan untuk mencari-cari kesalahan orang lain sebenarnya adalah waktu yang tidak kita gunakan untuk memperbaiki diri sendiri.

Haidt mengingatkan pentingnya “mengambil kembali kendali atas pikiran kita” dari tarikan perangkat digital yang terus mendorong kita menjadi penghakim massal.

Maka, marilah kita keluar dari perangkap itu.

Jangan menjadi pemburu kesalahan ketika Allah mengajarkan kita menjadi pelindung kehormatan. Jangan sibuk mencari apa yang Allah tutupi dari saudara kita, sementara kita sendiri setiap hari memohon agar Allah menutupi aib kita.

Allah adalah As-Sittīr, Yang Maha Menutupi. Maka, jangan jadikan tangan kita sebagai alat untuk merobek tirai yang telah Allah bentangkan atas kehormatan seorang hamba.

Sebab boleh jadi, tirai yang hari ini kita robek dari saudara kita adalah tirai yang kelak sangat kita harapkan Allah bentangkan untuk menutupi aib kita sendiri. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.