Ingatlah, Suatu Hari Aib Kita Akan Dibuka

by -1572 Views

Ada satu pertanyaan yang mungkin selama ini kita tujukan kepada orang lain, tetapi jarang sekali kita tujukan kepada diri sendiri: Bagaimana jika suatu hari aib saya sendiri dibuka?

Pertanyaan ini terasa sederhana. Namun, jika direnungkan dengan jujur, ia dapat mengguncang hati.

Kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain. Kita mudah merasa heran ketika mengetahui masa lalu seseorang. Kita mudah tergoda untuk membaca percakapan yang bocor, melihat rekaman yang tersebar, atau mengikuti sebuah spill yang sedang viral. Bahkan terkadang kita merasa memiliki hak untuk mengetahui semuanya.

Padahal, dibalik semua itu, kita adalah manusia yang juga memiliki rahasia.

Ada dosa yang tidak diketahui orang lain. Ada kelemahan yang kita sembunyikan. Ada kesalahan masa lalu yang tidak ingin kita ulangi. Ada pikiran dan niat yang hanya diketahui oleh Allah.

Karena itu, perintah Nabi ﷺ untuk menutup aib orang lain sebenarnya bukan hanya berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan sesama. Ia juga merupakan peringatan eksistensial tentang keselamatan diri kita sendiri.

Seolah-olah hadis itu berbisik kepada setiap mukmin: Engkau meminta perlindungan bagi saudaramu hari ini, karena suatu hari nanti engkaulah yang akan sangat membutuhkan perlindungan agar aibmu tidak dibuka di hadapan seluruh makhluk.

Disinilah perjalanan tadabbur kita menemukan maknanya yang paling dalam.

Teror Penyingkapan: Sesuatu yang Berdetak di Dalam Diri

Setiap manusia memiliki sesuatu yang ia takutkan akan diketahui orang lain.

Jon Ronson dalam So You’ve Been Publicly Shamed menggambarkan fenomena ini dengan istilah “the terror of being found out”, yaitu “teror akan penyingkapan”.

Ronson mencatat sebuah pengamatan tajam dari seorang sutradara teater bahwa: “Kita semua memiliki sesuatu yang berdetak di dalam diri kita yang kita takutkan akan merusak reputasi kita secara parah jika hal itu terungkap.”

Kalimat ini layak kita renungkan.

Sebab, sering kali kita melihat seseorang hanya dari apa yang tampak. Kita melihat penampilannya, pekerjaannya, keluarganya, aktivitas dakwahnya, jabatan yang dimilikinya, atau citra yang dibangunnya di media sosial.

Kita kemudian mengira bahwa kehidupan orang lain memang sesempurna yang terlihat.

Padahal, setiap manusia memiliki ruang batin yang tidak terlihat.

Ada orang yang tampak tenang, tetapi menyimpan penyesalan. Ada yang tampak kuat, tetapi sedang berjuang melawan kelemahan. Ada yang hari ini dikenal baik, tetapi memiliki masa lalu yang sangat ingin ia tinggalkan.

Di dunia modern, persoalan ini semakin rumit karena “reputasi adalah segalanya”.

Ronson menunjukkan bahwa di tengah budaya oversharing, manusia justru tetap menyimpan satu ketakutan mendalam: bahwa suatu hari akan ada sesuatu yang terbongkar dan membuat orang lain menyadari bahwa dirinya tidak sesempurna citra yang selama ini dibangun.

Bukankah ini juga berlaku bagi kita? Bukankah kita pun memiliki sesuatu yang jika Allah izinkan terbuka, mungkin akan membuat kita malu?

Maka ketika kita melihat aib orang lain, seharusnya kita tidak segera berkata, “Bagaimana mungkin dia melakukan itu?” Lebih baik kita bertanya: “Bagaimana jika Allah membuka apa yang selama ini Dia tutupi dari diriku?”

Pertanyaan tersebut dapat mengubah cara kita memandang manusia.

Reputasi Manusia dan Hakikat di Hadapan Allah

Ada perbedaan yang sangat besar antara apa yang diketahui manusia dan apa yang diketahui Allah.

Manusia mengenal kita melalui apa yang tampak. Allah mengetahui apa yang tersembunyi. Manusia melihat amal lahiriah. Allah mengetahui niat. Manusia melihat senyum. Allah mengetahui luka. Manusia melihat kesalehan yang ditampilkan. Allah mengetahui perjuangan batin yang tidak pernah diceritakan.

Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn banyak mengingatkan tentang bahaya penyakit hati yang tersembunyi. Jika seluruh keburukan batin manusia dibuka oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang mampu merasa benar-benar bersih.

Sebab, manusia tidak hanya memiliki kesalahan yang tampak. Ia juga memiliki dosa yang tersembunyi di dalam hati: niat yang tidak lurus, iri yang disembunyikan, kesombongan yang tidak diucapkan, serta berbagai kelemahan yang hanya diketahui oleh Allah.

Kenyataan bahwa orang lain masih menghormati kita sesungguhnya adalah bagian dari rahmat Allah yang menutupi kekurangan kita.

Allah adalah As-Sittīr, Yang Maha Menutupi.

Bayangkan jika setiap dosa kita langsung ditampilkan di wajah kita. Bayangkan jika setiap niat buruk kita muncul di layar di hadapan manusia. Bayangkan jika setiap kesalahan masa lalu menjadi identitas permanen yang tidak pernah dapat dihapus. Kehidupan sosial manusia akan menjadi sangat berat.

Disinilah makna satr menjadi sangat indah.

Ibn al-Qayyim dalam Madārij as-Sālikīn menjelaskan bahwa Allah menutupi aib hamba-Nya di dunia sebagai bentuk kesempatan untuk bertaubat. Tirai itu bukan berarti Allah tidak mengetahui dosa kita. Allah mengetahuinya. Tetapi Dia tidak selalu membukanya kepada manusia.

Mengapa? Karena masih ada kesempatan untuk kembali.

Namun, Ibn al-Qayyim juga mengingatkan dalam pembahasan yang selaras dengan Al-Dā’ wa al-Dawā’, bahwa dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa rasa malu dan tanpa keinginan untuk bertaubat dapat membawa seseorang kepada keadaan yang semakin jauh dari perlindungan tersebut.

Maka, jangan salah memahami satr.

Tertutupnya aib bukan izin untuk terus berbuat dosa. Justru sebaliknya. Tertutupnya aib adalah kesempatan untuk berubah sebelum tirai itu tersingkap.

Menutup Aib Mereka, Menyelamatkan Diri Kita

Pada akhirnya, perjalanan panjang membahas satrul ‘uyub membawa kita kembali kepada satu kesadaran sederhana:

Menutup aib saudara bukan hanya tentang mereka. Ini juga tentang kita.

Kita menutup aib mereka hari ini karena kita tahu bahwa suatu hari nanti kita sendiri akan berdiri di hadapan Allah.

Hari ketika jabatan tidak berguna. Harta tidak berguna. Popularitas tidak berguna. Jumlah followers tidak berguna.

Tidak ada lagi branding. Tidak ada lagi pencitraan. Yang tersisa hanyalah seorang hamba dan Rabb-nya.

Pada hari itu, kita tidak membutuhkan penonton (viewers). Kita membutuhkan rahmat Allah. 

Kita berharap Allah memperlakukan kita dengan kelembutan sebagaimana kita dahulu berusaha memperlakukan saudara kita. Kita berharap Allah menutup apa yang kita takutkan akan terbuka.Kita berharap Allah mengampuni apa yang kita sesali. Kita berharap Allah tidak mempermalukan kita di hadapan makhluk-Nya. Maka, jangan tunggu sampai kita membutuhkan satr untuk belajar memberikan satr.

Tutuplah hari ini.

Jaga hari ini. Maafkan hari ini. Nasihati secara rahasia hari ini. Sebab bisa jadi, ketika kita menutup aib seorang saudara hari ini, kita sedang menyiapkan satu alasan bagi rahmat Allah untuk menutup aib kita pada hari esok.

Dan pada akhirnya, itulah puncak dari seluruh perjalanan buku ini: Kita menutup tirai saudara kita di dunia, dengan harapan Allah menutup tirai kita di akhirat.

Inilah akhir dari segala pencarian privasi. Bukan sekadar agar manusia tidak mengetahui rahasia kita. Tetapi agar ketika tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi, kita mendapatkan perlindungan di bawah naungan rahmat Allah.

Dan semoga kelak, ketika kita berdiri dalam keadaan paling lemah di hadapan-Nya, kita termasuk hamba yang mendapatkan makna dari janji Nabi ﷺ: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا

Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, tenteramkanlah ketakutan kami, dan ampunilah dosa-dosa kami. Āmīn. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.