Muhasabah: Menatap Cermin Krisis Militansi Ruhiyah Aktivis Dakwah

by -1424 Views

Ada masa ketika seseorang merasa ringan melangkah di jalan dakwah. Amanah yang berat terasa ringan. Waktu yang tersita tidak terlalu dipersoalkan. Tenaga yang terkuras tidak banyak dihitung. Bahkan ketika harus meninggalkan kenyamanan pribadi, hati berkata, inilah bagian dari jalan yang harus ditempuh.

Tetapi ada pula masa ketika langkah yang dahulu ringan mulai terasa berat.

Amanah terasa membebani. Pengorbanan mulai dihitung. Waktu mulai dipertimbangkan dengan kalkulator kepentingan pribadi. Kita mulai bertanya, “Apa yang saya dapat?” sebelum bertanya, “Apa yang dapat saya berikan?”

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk menyalahkan siapapun. Bukan pula untuk mengatakan bahwa generasi dahulu selalu lebih baik daripada generasi sekarang. Kita sedang diajak melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: menatap diri sendiri dengan jujur.

Buku AL-MU’MINŪNA ḤAQQĀ: Mengembalikan Militansi Aktivis Dakwah (Pendekatan Dakwah, Tarbiyah, dan Tazkiyatun Nafs) lahir dari kegelisahan semacam itu. 

Buku ini bukan risalah akademis yang hendak menghakimi perjalanan sebuah gerakan. Ia adalah ruang muhasabah; sebuah ajakan untuk bertanya: mengapa militansi dapat melemah, dan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam hati seorang aktivis ketika daya juangnya mulai surut?

Boleh jadi yang sedang sakit bukan organisasi kita. Bukan pula strategi dakwah kita. Boleh jadi hati kita yang mulai kehilangan tenaga ruhiyahnya.

Ketika Dakwah Masih Berjalan, tetapi Ruhnya Mulai Hilang

Bagian I, “Mengenali Krisis Militansi”, sengaja ditempatkan di awal karena kita tidak mungkin memberikan terapi sebelum mengetahui penyakitnya.

Kita tidak dapat memperbaiki bangunan hanya dengan mengecat dindingnya jika fondasinya mulai retak. Kita tidak dapat menuntut kader lebih banyak berkorban jika kita tidak bertanya mengapa hati mereka tidak lagi terdorong untuk berkorban. Kita juga tidak dapat memperkuat gerakan hanya dengan menambah program jika sumber kekuatan ruhiyah para penggeraknya semakin menipis.

Bab 1: Ketika Militansi Mulai Melemah,  bukan sekadar pembahasan tentang menurunnya semangat aktivis. Ia adalah cermin.

Pelemahan militansi hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa. Pengorbanan mulai terasa sebagai beban. Amanah mulai dipilih berdasarkan kenyamanan. Kehadiran dalam perjuangan mulai bergantung pada situasi. Kita masih berada di dalam barisan, tetapi hati tidak lagi sepenuhnya berada di dalam perjuangan.

Inilah yang lebih berbahaya.

Sebab seseorang bisa tetap aktif secara lahiriah, tetapi mengalami kemunduran secara batiniah.

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah mengingatkan bahaya ketika agama kehilangan ruh pengarahannya dalam kehidupan seorang Muslim: “…terjadi atas risiko agama Islam, sehingga agama tergeser dari kedudukannya sebagai jalan hidup dan sumber pengarahan menjadi tempat bermain dan bersenang-senang.”

Beliau kemudian menautkannya dengan firman Allah Swt.:

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ…

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur’an agar setiap orang tidak terjerumus (ke dalam neraka) karena perbuatannya sendiri…” (QS. Al-An‘am: 70)

Ayat ini seharusnya membuat kita gelisah.

Bukan gelisah karena merasa orang lain sedang tertipu oleh dunia, tetapi gelisah karena jangan-jangan kita sendiri mulai tertipu olehnya.

Dakwah masih berjalan. Program masih ada. Struktur masih lengkap. Tetapi apakah ruh pengorbanan masih hidup? Apakah hubungan kita dengan Allah masih menjadi sumber tenaga? Apakah kita masih bergerak karena cinta kepada-Nya, atau karena jabatan, posisi, pengakuan, jaringan, fasilitas, dan berbagai kepentingan yang melekat pada aktivitas dakwah?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang hendak dibuka dalam Bab 1.

Ketika Dunia Diam-Diam Mengalahkan Akhirat

Jika Bab 1 membaca gejala, maka Bab 2: Ḥubbud-Dunyā wa Karāhiyatul-Maut mengajak kita masuk lebih dalam untuk mencari salah satu akar penyakitnya.

Tidak semua kelemahan militansi dapat disebut sekadar “kurang motivasi”. Kadang-kadang masalahnya jauh lebih dalam: hati telah terlalu mencintai dunia dan terlalu takut kehilangan kenyamanan.

Seorang aktivis tidak harus meninggalkan dakwah untuk disebut kehilangan militansi. Ia bisa tetap hadir, mengikuti kegiatan, memegang amanah, bahkan terlihat sibuk dalam berbagai aktivitas. Tetapi ketika pengorbanan semakin berat dan kenyamanan semakin menjadi ukuran, kita perlu bertanya: siapa sebenarnya yang sedang mengendalikan hati kita?

Syaikh Sa’id Hawwa menggambarkan perbedaan yang sangat tajam antara gerakan yang ditopang keikhlasan dan gerakan yang telah kehilangan ruhnya: “Apabila keikhlasan telah bersemayam di dalam diri, maka jumlah al-akh akan bertambah di saat krisis, menyusut di saat tenang, berdesakan ketika banyak pekerjaan, menghilang ketika ada keuntungan, saling mengalah dalam urusan dunia, dan saling berlomba dalam urusan akhirat. Namun ketika rasa ikhlas telah hilang dari hati, maka harakah hanya akan menjadi gerakan rutin yang tanpa substansi, tidak diterima di sisi Allah, tidak diberkahi, dan selanjutnya tidak dapat mengantarkan kita kepada cita-cita.”

Kalimat ini layak direnungkan dalam-dalam.

Problemnya bukan sekadar berapa banyak orang yang hadir dalam kegiatan dakwah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa mereka hadir?

Dunia bukan musuh yang harus dibenci. Seorang Muslim boleh memiliki harta, profesi, jabatan, rumah yang baik, kendaraan, dan kehidupan yang layak. Persoalannya bukan memiliki dunia, tetapi ketika seseorang mulai dimiliki oleh dunia.

Ketika kepentingan pribadi selalu menjadi pertimbangan pertama, pengorbanan akan menjadi semakin mahal. Karena itu, Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menegaskan: “…meninggalkan kepentingan pribadi merupakan pengorbanan pertama yang wajib mereka berikan dalam perjuangan menegakkan akidah dan keyakinan yang benar.”

Maka krisis militansi sesungguhnya mengandung pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar, “Mengapa kader sekarang kurang aktif?”

Pertanyaannya adalah: Apa yang sedang terjadi dengan hati kita?

Dari Cermin Menuju Tazkiyah

Karena itulah Bagian I tidak boleh berhenti pada kritik. Ia harus membawa kita kepada tazkiyatun nafs.

Kita tidak akan mampu membersihkan jiwa jika kita tidak mau mengakui bahwa jiwa itu dapat sakit. Di dalam diri seorang aktivis dapat tumbuh sombong, ujub, hasad, riya’, cinta popularitas, cinta kedudukan, dan cinta dunia. Penyakit-penyakit itu tidak selalu tampak di wajah. Bahkan kadang-kadang ia bersembunyi di balik aktivitas yang terlihat sangat Islami.

Syaikh Said Ramadhan al-Buthy dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan: “Hikmah dari program ‘uzlah ini ialah, bahwa tiap jiwa manusia memiliki sejumlah penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali dengan ‘obat’ ‘uzlah dan ‘mengadilinya’ dalam suasana hening, jauh dari keramaian dunia. Sombong, ujub (bangga diri), dengki, riya’, dan cinta dunia, kesemuanya itu adalah penyakit yang dapat menguasai jiwa, merasuk ke dalam hati, dan menimbulkan kerusakan di dalam batin manusia…”

Maka kita membutuhkan keberanian untuk sesekali keluar dari kebisingan aktivitas dan masuk ke ruang sunyi dalam diri.

Disanalah kita bertanya: Apakah saya masih ikhlas? Apakah saya masih mencintai Allah?
Apakah saya masih mudah berkorban? Apakah dunia mulai menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah militansi kita masih hidup atau hanya tinggal bentuk luarnya.

Dan disinilah tarbiyah menemukan tempatnya.

Syaikh Musthafa Masyhur memberikan analogi yang sangat kuat: “Jika dakwah dan harakah diibaratkan sebatang pohon, maka tarbiyah dan tazkiyah ruhiyah adalah humus dan pupuknya. Pohon akan dilanda kekeringan jika kekurangan humus dan pupuknya.”

Pohon dakwah mungkin masih berdiri. Cabangnya mungkin masih banyak. Daunnya mungkin masih tampak hijau. Tetapi tanpa pupuk ruhiyah, kekeringan akan datang dari dalam.

Karena itu, perjalanan b ku ini tidak dimulai dengan pertanyaan, “Bagaimana membuat kader lebih aktif?” Pertanyaan pertamanya justru: “Bagaimana menghidupkan kembali hati seorang mukmin?”

Dari hati yang hidup akan lahir iman. Dari iman lahir kecintaan kepada Allah. Dari kecintaan kepada Allah lahir tadhiyah. Dari tadhiyah lahir istiqamah. Dari istiqamah lahir keteguhan dalam dakwah. Dan dari tarbiyah yang terus-menerus lahirlah generasi yang mampu melanjutkan estafet perjuangan.

Inilah perjalanan AL-MU’MINŪNA ḤAQQĀ.

Bukan perjalanan untuk mencari siapa yang paling militan. Tetapi perjalanan untuk mengembalikan kita kepada keadaan yang lebih mulia: menjadi orang-orang yang benar-benar beriman. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.