Gejala Krisis Aktivis Dakwah: Melemahanya Militansi

by -1390 Views

Ada pertanyaan yang terkadang lebih berat daripada menghadapi musuh diluar diri: apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri kita sendiri?

Jalan dakwah memang tidak pernah menjanjikan kenyamanan. Ia adalah jalan panjang yang menuntut iman, kesabaran, pengorbanan, dan keistiqamahan. Namun, seringkali kita terlalu sibuk membaca tekanan dari luar sehingga lupa membaca perubahan yang terjadi di dalam hati.

Seorang aktivis mungkin masih hadir dalam rapat, masih mengikuti kegiatan, masih memegang amanah, bahkan masih terlihat sangat sibuk. Tetapi bisa jadi, tanpa disadari, ruh perjuangannya telah melemah.

Bab ini adalah cermin, bukan palu untuk menghakimi. Mari kita berdiri di hadapannya dan bertanya dengan jujur: apakah militansi kita masih lahir dari iman, atau perlahan mulai digerakkan oleh kepentingan, kenyamanan, dan pengakuan manusia?

Militansi adalah Ruh Perjuangan

Militansi tidak boleh dipahami sebagai kekerasan, fanatisme buta, atau tindakan destruktif. Militansi dalam makna dakwah adalah kesungguhan memegang iman, menjalankan ketaatan, memikul amanah, bersedia berkorban (tadhiyah), dan tetap teguh ketika jalan menjadi berat.

Militansi bukan sesuatu yang berdiri di luar iman. Ia merupakan salah satu buah dari iman yang hidup.

Al-Qur’an menggambarkan karakter orang beriman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ۝ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh derajat-derajat di sisi Tuhan mereka, ampunan, dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2–4)

Perhatikan urutannya: hati yang hidup, iman yang bertambah, tawakal, ibadah, kemudian pengorbanan. Dari sinilah militansi tumbuh.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam menegaskan: “Tidak terpenuhinya salah satu rukun di salah satu akh menjadikan akh ini cacat karena rukun ini, yang pada gilirannya Jamaah akan menjadi cacat pula karena akh ini.”

Maka ketika militansi melemah, kita tidak cukup bertanya tentang program. Kita perlu bertanya tentang manusia yang menjalankan program tersebut.

Ketika Kelesuan Datang Perlahan

Melemahnya militansi jarang datang seperti petir. Ia lebih sering seperti karat: perlahan, diam-diam, tetapi terus merusak.

Dahulu kita ringan menghadiri halaqah, kini mulai mencari alasan. Dahulu kita mudah berinfak, kini mulai menghitung. Dahulu kita siap mengambil amanah, kini lebih suka memilih tugas yang nyaman. Dahulu kita membaca Al-Qur’an untuk menghidupkan hati, kini interaksi dengan Al-Qur’an semakin formal.

Inilah gejala yang harus dibaca sebelum menjadi penyakit yang menetap.

Syaikh Sa’id Hawwa mengingatkan: “Semua itu akan bermuara pada lemahnya tarbiyah atau cacatnya bangunan Jamaah.” Beliau juga berkata: “Banyak orang tersingkir dari shaf (barisan) lantaran cacat dalam salah satu rukun bai’at (ikhlas) ini. Mereka, dalam banyak kesempatan, sering menjadi penyebab melemahnya semangat yang lain.”

Karena itu, kelemahan seorang kader bukan semata persoalan pribadi. Dalam sebuah barisan, penyakit individu dapat menular menjadi penyakit kolektif.

Dari Fastabiqul Khairat Menuju Zona Nyaman

Ada masa ketika seorang kader berlomba-lomba dalam kebaikan. Semakin banyak amanah, semakin merasa dibutuhkan untuk berbuat. Tetapi kehidupan berubah. Ekonomi membaik, keluarga bertambah, pekerjaan meningkat, fasilitas bertambah. Tanpa disadari, standar hiduppun berubah.

Apa yang dahulu dianggap kebutuhan mulai berubah menjadi kenyamanan. Yang dahulu disebut kenyamanan berubah menjadi kebutuhan. Ujungnya, dakwahlah yang dituntut menyesuaikan diri dengan kenyamanan kita.

Disinilah perangkap comfort zone bekerja.

Imam Hasan Al-Banna, sebagaimana dikutip Syaikh Sa’id Hawwa dalam Membina Angkatan Mujahid, mengingatkan: “Genggamlah erat-erat bimbingan ini. Jika tidak, maka engkau akan jatuh ke dalam barisan qa’idiin (yang duduk-duduk santai) yang akan mengantarkanmu menjadi pemalas dan tukang iseng.”

Qa’idūn bukan sekadar orang yang secara fisik duduk. Ia adalah keadaan jiwa ketika seseorang lebih senang menjadi penonton daripada mengambil bagian dalam perjuangan.

Aktif Secara Struktural, Rapuh Secara Ruhani

Inilah salah satu jebakan paling berbahaya: mengira kesibukan adalah tanda kesalehan.

Seseorang bisa sangat aktif dalam struktur, menghadiri banyak syura, mengurus berbagai program, dan memegang amanah penting. Tetapi bagaimana hubungan pribadinya dengan Allah?

Apakah shalat malam masih hidup? Apakah Al-Qur’an masih menjadi makanan jiwa? Apakah zikir masih memiliki tempat? Apakah hati masih mudah menangis ketika mengingat Allah?

Jika aktivitas dakwah semakin banyak sementara kedekatan kepada Allah semakin sedikit, kita perlu berhati-hati.

Syaikh Sa’id Hawwa memberikan peringatan: “Namun ketika rasa ikhlas telah hilang dari hati, maka harakah hanya akan menjadi gerakan rutin yang tanpa substansi, tidak diterima di sisi Allah, tidak diberkahi, dan selanjutnya tidak dapat mengantarkan kita kepada cita-cita.”

Kesibukan tanpa ruh hanyalah gerakan tubuh. Dakwah membutuhkan hati yang hidup, bukan sekadar tangan yang sibuk.

Ketika Amanah dan Pengorbanan Mulai Dihitung

Pada saat iman kuat, amanah terasa sebagai kehormatan. Tetapi ketika hati mulai melemah, amanah terasa sebagai beban.

Kita mulai bertanya: berapa waktu yang harus saya keluarkan? Apa manfaatnya bagi saya? Apakah ada penghargaan? Apakah posisi saya terlihat? Apakah kontribusi saya diakui?

Disinilah keikhlasan mulai diuji.

Syaikh Sa’id Hawwa memperingatkan: “sakitnya (hati) seorang anggota boleh jadi akan mengakibatkan hancurnya seluruh bangunan Jamaah. Misalnya penyakit hasad, takabur, cinta popularitas, dan gila kedudukan.”

Lalu beliau menegaskan: “Jika engkau adalah seorang yang biasa berada di depan dalam majelis kita hingga di pundakmu tertempel gelar-gelar mentereng dan kau tampak begitu menonjol di antara kita, maka dudukmu akan dihisab oleh Allah dengan seberat-berat hisab.”

Dan ketika pengorbanan mulai diganti dengan kalkulasi keuntungan, beliau mengingatkan: “Banyak terjadi seseorang jatuh pada rukun fahm, rukun tadhiyah, rukun amal, atau rukun lainnya yang mengakibatkan terganggunya perjalanan Jamaah.”

Maka pertanyaan terpenting bukan lagi, “Mengapa kader sekarang kurang militan?” Pertanyaan itu harus dikembalikan kepada diri: “Mengapa saya mulai berat berkorban?”

Mungkin bukan dakwah yang menjadi terlalu berat. Mungkin dunia yang telah menjadi terlalu berat untuk kita tinggalkan.

Kemana Perginya Ruh Perjuangan?

Pada akhirnya, krisis militansi adalah krisis yang harus dibaca dengan hati.

Mengapa kaki yang dahulu ringan menuju majelis ilmu kini terasa berat? Mengapa ayat-ayat Al-Qur’an yang dahulu menggetarkan hati kini hanya lewat di telinga? Mengapa amanah yang dahulu menjadi kehormatan kini terasa seperti gangguan terhadap kehidupan pribadi?

Jangan-jangan kita tidak kehilangan kemampuan untuk bergerak. Kita kehilangan alasan ruhani untuk bergerak.

Di sinilah tazkiyatun nafs menjadi kebutuhan, bukan pelengkap. Hati harus kembali dibersihkan dari ujub, hasad, riya’, takabur, cinta popularitas, dan cinta dunia.

Kita perlu kembali kepada tarbiyah yang menghidupkan iman, kepada ibadah yang menguatkan hubungan dengan Allah, kepada ukhuwah yang meneguhkan langkah, dan kepada latihan pengorbanan yang membebaskan jiwa dari perbudakan kenyamanan.

Militansi tidak lahir dari instruksi. Militansi lahir dari iman yang hidup.

Iman yang hidup akan melahirkan manusia yang tidak hanya mampu berkata bahwa ia mencintai dakwah, tetapi juga bersedia membayar harga kecintaannya dengan waktu, tenaga, harta, kesabaran, dan pengorbanan.

Sebelum kita menuntut shaf menjadi lebih kuat, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya masih termasuk orang-orang yang ketika disebut nama Allah, hatinya bergetar? Apakah iman saya masih bertambah ketika ayat-ayat-Nya dibacakan? Apakah saya masih bertawakal kepada-Nya? Dan apakah saya masih bersedia berkorban karena-Nya?

Sebab disitulah ukuran sebenarnya. Al-Mu’minūna Ḥaqqā bukan sekadar nama. Ia adalah keadaan iman yang harus kita perjuangkan kembali. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.