Ḥubbud Dunya wa Karahiyatul Maut: Ketika Dunia Mengalahkan Orientasi Akhirat

by -1402 Views

Ada penyakit yang membuat seorang aktivis meninggalkan dakwah. Tetapi ada penyakit yang lebih sulit dideteksi: ia tetap berada di dalam barisan, tetapi hatinya tidak lagi bersedia “membayar” harga perjuangan.

Ia masih hadir dalam rapat. Namanya masih tercantum dalam struktur. Ia masih datang ketika dibutuhkan. Namun, ketika dakwah menuntut waktu, tenaga, harta, kenyamanan, atau keberanian menghadapi kesulitan, tiba-tiba banyak alasan bermunculan.

Kita sering menyebutnya kurang motivasi. Bisa jadi benar. Tetapi jangan-jangan ada persoalan yang lebih dalam: dunia telah mengambil terlalu banyak ruang di dalam hati.

Ketika Dunia Mulai Menguasai Hati

Ḥubbud-dunyā bukan berarti memiliki harta, menikmati kehidupan yang halal, memiliki jabatan, atau membangun kehidupan keluarga yang baik. Islam tidak mengharamkan semua itu. 

Persoalannya muncul ketika dunia yang semestinya berada ditangan berpindah ke hati; ketika sarana berubah menjadi tujuan dan kenyamanan menjadi ukuran utama dalam mengambil keputusan.

Allah Swt. mengingatkan:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Perumpamaannya seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu melihatnya menguning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid: 20)

Syaikh Sa’id Hawwa mengingatkan: “Tiada satupun masyarakat yang dilimpahi kemewahan kecuali pasti akan hancur. Salah satu etika muslim adalah meninggalkan semua hal yang akan menenggelamkan dirinya dalam kemewahan duniawi. Kemewahan hidup merupakan faktor yang paling banyak mendorong seseorang untuk mencintai dunia.”

Peringatan ini bukan seruan untuk membenci kehidupan. Ia adalah peringatan agar kemewahan tidak membius jiwa. Semakin banyak yang kita takut kehilangan, semakin sulit kita berkorban.

Ketika Cinta Dunia Mengeringkan Militansi

Dakwah membutuhkan keberanian untuk memberikan apa yang kita miliki. Waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan kenyamanan. Karena itu, hati yang terlalu terikat kepada dunia akan cenderung memilih jalan yang paling aman, paling nyaman, dan paling sedikit risikonya.

Pada awalnya perubahan itu mungkin sangat halus. Kita mulai memilih amanah yang ringan. Menghindari tugas yang melelahkan. Menunda hadir dalam kegiatan tarbiyah. Mengurangi infak. Menghindari medan dakwah yang menuntut kesabaran.

Lama-kelamaan, pengorbanan dianggap sesuatu yang luar biasa, sedangkan kenyamanan dianggap sebagai hak.

Syaikh Sa’id Hawwa menggambarkan keadaan yang berbeda ketika keikhlasan masih hidup: “Apabila keikhlasan telah bersemayam di dalam diri, maka jumlah anggota Ikhwan akan bertambah di saat krisis, menyusut di saat tenang, berdesakan ketika banyak pekerjaan, menghilang ketika ada keuntungan, saling mengalah dalam urusan dunia, dan saling berlomba dalam urusan akhirat.”

Betapa tajam ukuran itu.

Ketika pekerjaan bertambah, orang-orang yang ikhlas justru tampil. Ketika keuntungan duniawi muncul, mereka tidak berebut. Ketika krisis datang, mereka tidak mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, cinta dunia membuat seseorang hadir ketika ada keuntungan dan menghilang ketika ada pengorbanan.

Inilah salah satu tanda bahwa militansi sedang sakit.

Ḥubbud-Dunyā dan Karāhiyatul-Maut

Pasangan penyakit ḥubbud-dunyā adalah karāhiyatul-maut. Secara lahiriah, ia berarti ketidaksukaan atau ketakutan terhadap kematian. 

Dalam pembacaan tarbiyah, penyakit ini dapat terlihat dalam bentuk yang lebih luas: ketakutan kehilangan kenyamanan, keamanan, status, harta, karier, dan berbagai kenikmatan dunia ketika amanah menuntut pengorbanan.

Al-Qur’an menggambarkan ujian kecintaan kepada dunia dengan sangat jelas:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini bukan perintah untuk meninggalkan keluarga atau harta. Ia mengajarkan hierarki cinta. Keluarga, harta, perdagangan, dan rumah boleh dicintai. Tetapi semuanya tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya.

Dunia: Sarana, Bukan Tujuan

Karena itu, terapi pertama adalah mengembalikan posisi dunia.

Seorang aktivis tidak perlu menjadi miskin agar disebut zuhud. Ia tidak perlu meninggalkan profesinya agar disebut ikhlas. Ia boleh memiliki usaha, jabatan, rumah, kendaraan, dan kehidupan yang baik.

Pertanyaannya bukan: berapa banyak dunia yang kita miliki? Tetapi: seberapa besar dunia memiliki kita?

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Membina Angkatan Mujahid menegaskan: “Yang kami kehendaki dengan sikap ikhlas adalah bahwa akhul muslim dalam setiap kata, aktivitas, dan jihadnya harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.”

Inilah hakikat zuhud: dunia berada di tangan, tetapi akhirat berada di hati.

Ujian Kenyamanan

Ujian dakwah bukan hanya ketika kita miskin dan tertekan. Kadang-kadang ujian yang lebih berat datang ketika kita telah memiliki banyak hal untuk dipertahankan.

Dahulu kita berani karena tidak banyak yang kita takutkan kehilangan. Kini kita memiliki jabatan, usaha, fasilitas, reputasi, kenyamanan, dan status sosial. Maka sedikit demi sedikit keberanian berkurang.

Syaikh Sa’id Hawwa mengutip standar zuhud yang dinisbatkan kepada Imam Hasan Al-Banna: “Zuhud dan sikap menjauhkan diri dari gemerlapnya kenikmatan dan kesenangan dunia yang fana ini, dan menjauh dari hal-hal yang tidak islami, baik dalam ibadah, muamalah, maupun yang lainnya.”

Godaan dunia juga tidak selalu datang dalam bentuk maksiat. Kadang ia datang dalam bentuk jabatan yang membanggakan, popularitas yang menyenangkan, fasilitas yang memanjakan, atau kepentingan yang tampak seolah-olah bagian dari perjuangan.

Karena itu, Syaikh Sa’id Hawwa mengingatkan: “Setelah mengkaji berbagai dorongan kejiwaan yang dapat menyelewengkan seseorang dari keikhlasan, Hasan Al-Banna sampai berkesimpulan bahwa yang paling dominan di antaranya adalah: kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan. Seorang akh hendaknya meneliti jiwanya dengan baik; adakah salah satu dari hal tersebut yang menjadi motivasinya dalam beramal.”

Pertanyaan ini sangat layak kita bawa ke dalam muhasabah pribadi.

Apakah saya bekerja karena Allah, atau karena ingin dikenal? Apakah saya menerima amanah karena ingin berkhidmat, atau karena ingin memiliki posisi? Apakah saya berkorban karena iman, atau hanya ketika pengorbanan itu memberi keuntungan tertentu?

Mengembalikan Orientasi Akhirat

Penyakit ḥubbud-dunyā tidak sembuh hanya dengan mendengarkan ceramah tentang zuhud. Ia membutuhkan latihan jiwa: memperbanyak mengingat akhirat, memperkuat ibadah, membiasakan infak, melatih diri berkorban, dan melakukan muhasabah.

Rasulullah saw. bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi berharap-harap kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini memberikan terapi yang sangat praktis: muhasabah dan amal untuk akhirat.

Seorang aktivis perlu memiliki waktu untuk bertanya kepada dirinya sendiri setiap hari: apa yang sudah saya lakukan untuk Allah? Apa yang saya korbankan? Apa yang saya tahan demi ketaatan? Apa yang hari ini lebih saya cintai daripada rida Allah?

Dalam konteks perjuangan dakwah, Syaikh Sa’id Hawwa menegaskan pentingnya pengorbanan: “Tolok ukur rukun jihad ini adalah bahwa seseorang telah mengorbankan jiwa, harta, waktu, dan seluruh kehidupannya untuk mewujudkan cita-cita syahid di jalan Allah. Jika pengorbanan yang habis-habisan seperti itu tidak dilakukan untuk dakwah, maka dakwah—untuk meninggikan kalimat Allah—tidak akan tertegak, dan orang-orang yang melalaikan pengorbanan akan berdosa.”

Pesan utamanya adalah kesediaan memberikan yang terbaik untuk Allah, bukan mencari bahaya atau mengagungkan kematian. Seorang mukmin tidak mencari kebinasaan; ia justru memohon kepada Allah kehidupan yang bermanfaat dan kesiapan untuk taat dalam keadaan apa pun.

Maka persoalan karāhiyatul-maut dalam konteks tarbiyah harus mengantarkan kita kepada keberanian untuk melepaskan keterikatan berlebihan kepada dunia, bukan kepada tindakan gegabah.

Pada akhirnya, penyakit ḥubbud-dunyā adalah persoalan orientasi.

Jika akhirat menjadi tujuan, dunia akan menjadi sarana. Jika Allah menjadi tujuan, jabatan menjadi amanah. Jika rida Allah menjadi tujuan, harta menjadi alat untuk berbuat. Jika surga menjadi tujuan, pengorbanan tidak lagi terasa sebagai kerugian. Tetapi jika dunia menjadi tujuan, seluruh dakwah akan dihitung dengan kalkulator keuntungan pribadi.

Disinilah kita harus kembali menatap diri.

Mungkin kita tidak sedang kehilangan kemampuan untuk bergerak. Mungkin kita sedang kehilangan keberanian untuk meninggalkan kenyamanan. Dan mungkin pula, yang perlu dipulihkan bukan terlebih dahulu struktur dakwah kita, melainkan orientasi hati kita kepada Allah.

Militansi yang rabbani tidak lahir dari kebencian kepada dunia. Ia lahir dari hati yang mengetahui nilai dunia yang fana dan nilai akhirat yang abadi.

Ketika dunia kembali ke tangan dan Allah kembali menjadi tujuan hati, disanalah tadhiyah dapat tumbuh kembali.

Dan dari tadhiyah itulah seorang aktivis belajar untuk teguh: tidak mudah mundur ketika jalan menjadi berat, tidak mudah berubah ketika keadaan berganti, dan tidak menjadikan kenyamanan sebagai alasan untuk meninggalkan amanah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.