Fattaqullah! Militansi Dimulai dari Takwa

by -1403 Views

Ada sesuatu yang sangat menarik dalam cara Al-Qur’an mendidik para sahabat setelah Perang Badar. Ketika mereka berselisih tentang ghanimah, Allah tidak pertama-tama memberikan petunjuk teknis tentang pembagian harta. 

Setelah menegaskan bahwa al-anfāl berada di bawah ketetapan Allah dan Rasul-Nya, Allah langsung mengarahkan hati mereka kepada fondasi perjuangan:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 1)

Urutannya sangat dalam: takwa, ishlah, lalu ketaatan. Seakan-akan Allah mengajarkan bahwa ketika dunia mulai mengganggu barisan perjuangan, persoalan pertama yang harus dibenahi bukan struktur organisasi, melainkan hubungan hati dengan Allah.

Takwa sebagai Fondasi Militansi

Militansi yang sejati tidak lahir dari heroisme kosong, emosi, atau ambisi memenangkan kelompok. Militansi rabbani tumbuh dari takwa.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan (Tafsir as-Sa’di) menjelaskan:

“Takwa adalah menaruh benteng pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan Allah, dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Ketika Allah memerintahkan para sahabat bertakwa setelah perselisihan ghanimah, Allah ingin menegaskan bahwa ketakwaan adalah satu-satunya perisai batin yang dapat mencegah mereka dari ketamakan duniawi yang merusak ukhuwah dan melemahkan jihad.”

Takwa membuat seorang aktivis mampu tetap beramal ketika tidak memperoleh fasilitas, jabatan, pujian, atau penghargaan. Ia bekerja karena Allah melihatnya.

Militansi Tanpa Takwa

Semangat yang tidak dikendalikan takwa dapat berubah menjadi ‘ashabiyah: fanatisme golongan, kesombongan sektarian, bahkan agresivitas yang merusak.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn mengingatkan:

“Ketahuilah bahwa keberanian (al-syaja’ah) adalah sifat terpuji yang merupakan titik tengah antara ketakutan yang berlebihan (al-jubn) dan kenekatan yang membabi buta (al-tahawwur). Keberanian yang terpuji adalah keberanian yang tunduk di bawah kendali akal budi dan tuntunan syariat. Apabila dorongan jiwa tersebut lepas dari kendali takwa dan syariat, ia akan bergeser menjadi kesombongan (al-kibr), kesewenang-wenangan, gila hormat, dan fanatisme buta yang membinasakan jiwanya sendiri.”

Maka militansi seorang mukmin bukan sekadar kuat bergerak, tetapi juga kuat mengendalikan diri. Ia tegas dalam prinsip, tetapi tetap berada dalam koridor akhlak.

Takwa Melahirkan Self-Control

Allah menyandingkan fattaqullāh dengan wa aṣliḥū dhāta bainikum. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan:

“Firman Allah Swt.: ‘Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu’ bermakna: peliharalah diri kalian dari kemurkaan Allah dengan cara bertakwa kepada-Nya dalam setiap urusan, dan janganlah kalian saling menzalimi atau berselisih karena memperebutkan harta. Saling berbuat baiklah kalian, rukunlah dalam ukhuwah, dan perbaikilah hubungan di antara kalian dengan sikap saling rida dan lapang dada. Sungguh, ketakwaan yang sejati akan melahirkan kemampuan mengendalikan diri untuk tidak menuruti hawa nafsu yang serakah.”

Inilah rem batin seorang aktivis. Ketika muncul perasaan paling berjasa, kecewa karena tidak mendapat posisi, atau keinginan menuntut lebih, takwa mengingatkan: untuk siapa sebenarnya kita berjuang?

Muraqabah: Ketika Allah Menjadi Pengawas

Takwa yang hidup melahirkan muraqabah, kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi.

Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risālat al-Mu’āwanah berkata:

“Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah (muraqabah) dalam setiap keadaanmu, gerak-gerikmu, lintasan pikiranmu, maupun diammu. Ketahuilah dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah Swt. senantiasa memandangmu, mengetahui apa yang ada di dalam hatimu, mendengarkan ucapanmu, dan melihat amal perbuatanmu. Tidak ada satu pun rahasia batinmu yang tersembunyi dari pandangan-Nya.”

Karena itu terdapat perbedaan besar antara aktivis yang diawasi manusia dan aktivis yang diawasi Allah. Golongan pertama rajin ketika diperhatikan; yang kedua tetap amanah walaupun sendirian.

Ketika Tidak Ada Kamera

Era digital menghadirkan ujian baru. Aktivitas dakwah dapat berubah menjadi pencarian eksistensi: harus didokumentasikan, dipublikasikan, dan mendapatkan likes serta shares.

Syaikh Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an mengingatkan:

“Al-Qur’an mendidik jiwa para pejuang agar terbebas dari ketergantungan pada apresiasi manusia atau heroisme kosong yang haus akan publikasi. Perintah Fattaqullah (Bertakwalah kepada Allah) di awal Surah Al-Anfal ini mengalihkan pandangan para sahabat dari mencari penghargaan duniawi menuju pencarian rida Allah semata. Seorang kader dakwah yang rabbani harus mampu bekerja secara kontinu di barisan belakang yang sunyi, mengalirkan keringat dan tenaganya tanpa perlu diketahui oleh manusia, karena ia meyakini bahwa Allah Swt. mencatat setiap ketulusannya tanpa perlu bantuan lensa kamera.”

Pertanyaannya sederhana: ketika tidak ada kamera, apakah kita tetap berjuang?

Ketika Tidak Ada Penghargaan

Seorang aktivis dapat melemah karena kontribusinya tidak diapresiasi, tidak memperoleh jabatan, atau merasa jasanya dilupakan. Di sinilah kita perlu mengingat peringatan Nabi saw. tentang bahaya menjadi “hamba” dunia.

Imam al-Nawawi dalam Riyāḍ al-Ṣāliḥīn mencantumkan hadits dari Abu Hurairah r.a.:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ، طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغَبَّرَةً قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ.

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian yang bagus. Jika ia diberi, ia senang; dan jika tidak diberi, ia marah. Celakalah ia dan terpuruklah ia. Jika terkena duri, ia tidak mampu mencabutnya. Berbahagialah seorang hamba yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, rambutnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika ia ditempatkan dalam penjagaan, ia menjalankannya; jika ia ditempatkan di barisan belakang, ia menjalankannya. Jika ia meminta izin, tidak diberi izin; dan jika ia memberi syafaat, syafaatnya tidak diterima.” (HR. Al-Bukhari; juga diriwayatkan oleh al-Nawawi dalam Riyāḍ al-Ṣāliḥīn)

Hadits ini bukan ajakan untuk meninggalkan kehidupan dunia, melainkan peringatan agar hati tidak menjadi budak dunia. Seorang aktivis yang bertakwa tidak menjadikan materi, jabatan, atau penghargaan sebagai sumber utama semangatnya.

Amanah dalam Kesunyian

Ujian takwa yang paling jujur adalah ketika tidak ada manusia yang melihat. Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risālat al-Mu’āwanah menasihati:

“Wajib bagimu untuk memelihara dan memperindah batinmu (sarirah) dengan berbagai ketaatan batiniah, melebihi usahamu dalam memelihara dan mempercantik lahiriyahmu di hadapan manusia. Ketahuilah bahwa pandangan Allah Swt. senantiasa tertuju pada batinmu, sedangkan manusia hanya melihat lahiriyahmu. Orang yang merasa malu batinnya terlihat buruk oleh Allah namun tidak malu batinnya kotor di hadapan-Nya adalah orang yang tertipu, bodoh, dan kehilangan akal sehatnya.”

Di sinilah ukuran militansi yang sebenarnya: amanah mengelola harta meskipun tidak diaudit, menjaga pandangan meskipun tidak diawasi, menjaga lisan meskipun tidak ada murabbi, dan tetap bekerja meskipun tidak ada kamera.

Penutup: Mengembalikan Kiblat Perjuangan

Langkah pertama memulihkan militansi bukanlah memperbanyak pelatihan, mempercanggih teknologi, atau mengubah struktur. Semuanya penting, tetapi fondasinya tetap satu: takwa.

Fattaqullāh berarti mengembalikan hati kepada Allah. Dari takwa lahir muraqabah. Dari muraqabah lahir keikhlasan. Dari keikhlasan lahir amanah. Dan dari amanah lahir militansi yang sehat.

Militansi bukan kerasnya suara, tetapi kuatnya iman. Militansi bukan banyaknya slogan, tetapi kesediaan tetap amanah ketika tidak seorang pun melihat.

Karena itu, jika kita ingin mengembalikan militansi para aktivis dakwah, jangan hanya bertanya, “Bagaimana agar kader lebih aktif?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Bagaimana agar hati kader kembali bertakwa kepada Allah?”

Sebab ketika hati telah hidup bersama Allah, perjuangan tidak lagi bergantung pada sorotan manusia. Ia bergerak karena satu keyakinan: Allah melihat, Allah mengetahui, dan Allah yang akan memberikan balasan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.