Wa Aslihu Dzata Bainikum: Militansi Tidak Tumbuh Ditengah Keretakan Ukhuwah

by -1395 Views

Setelah Allah Swt. memerintahkan para pejuang Badar untuk bertakwa melalui kalimat Fattaqullāh, Al-Qur’an segera mengarahkan mereka kepada persoalan hubungan antarmanusia:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 1)

Urutannya sangat penting. Takwa tidak boleh berhenti sebagai kesalehan individual. Ia harus melahirkan ishlah, yaitu kemampuan memperbaiki hubungan. 

Militansi sejati tidak mungkin tumbuh subur ditengah keretakan ukhuwah.

Penyakit Ukhuwah dalam Barisan Dakwah

Dalam perjalanan gerakan dakwah, ukhuwah dapat mengalami penyumbatan akibat penyakit hati: hilangnya empati, melemahnya tsiqah, saling mencurigai, dan sikap abai terhadap keadaan saudara.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri dalam Aisar At-Tafasir menjelaskan:

“Makna ‘Wa ashlihu dhata bainikum’ adalah perbaikilah keadaan hubungan di antara kalian dengan saling berkasih sayang, menyambung tali silaturahim, dan meninggalkan permusuhan serta pertikaian. Hal ini dikarenakan persaudaraan iman yang bersih adalah syarat diterimanya amal dan turunnya pertolongan Allah Swt.”

Ketika penyakit batin tidak disembuhkan melalui tazkiyah, halaqah dapat berubah menjadi forum yang hanya menyatukan agenda, tetapi tidak lagi menyatukan hati.

Konflik personal juga menguras energi perjuangan. Perbedaan dalam syura, gesekan di lapangan, atau ketersinggungan yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi dendam. Energi yang semestinya digunakan untuk melayani umat akhirnya habis untuk intrik, kubu-kubuan, dan mempertahankan ego.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir mengingatkan:

“Sesungguhnya memperbaiki hubungan sesama muslim (ishlahu dzatil bain) merupakan salah satu pilar ketakwaan yang paling agung. Tidak ada kebaikan dalam takwa seseorang jika ia membiarkan hubungan persaudaraan dengan saudaranya retak dan pecah karena urusan materi atau duniawi. Kerusakan hubungan sosial antarsesama adalah pencukur agama.”

Ketika Ego Masuk ke Dalam Barisan

Penyakit lainnya adalah ashabiyah tanzhimiyah: merasa kelompok atau halaqah sendiri paling baik, kemudian meremehkan kontribusi saudara yang lain. Ada pula ego jabatan, ketika amanah kepemimpinan dipandang sebagai simbol status, bukan beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Muhammad Ahmad al-Rasyid dalam Al-Munthaq memberikan ulasan:

“Keretakan hubungan di antara para aktivis dakwah sering kali bermula dari masuknya ego pribadi yang ingin selalu diunggulkan, persaingan dalam memperebutkan pengaruh struktural, dan hilangnya kerelaan untuk dipimpin. Ketika ruh jama’i ini melemah, gerakan dakwah akan berubah menjadi sekadar kumpulan individu-individu yang berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang padu.”

Persaingan yang semestinya berada dalam wilayah fastabiqul khairat juga dapat bergeser menjadi tanafus ad-dunyawi: membandingkan materi, status, pengaruh, dan popularitas. Disinilah hasad tumbuh.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menjelaskan:

“Hasad adalah salah satu penyakit hati yang paling cepat menghanguskan kebaikan. Ia bermula dari rasa tidak suka melihat nikmat Allah mengalir pada saudaranya, disertai keinginan agar nikmat tersebut lenyap darinya. Persaingan duniawi antarsesama penuntut ilmu atau pengemban dakwah adalah pintu terbesar yang merusak ukhuwah dan memutus tali kecintaan karena Allah Swt.”

Penyakit Lisan dan Penyakit Merasa Lebih Baik

Keretakan ukhuwah sering dimulai dari lisan dan prasangka. Rumor tentang pimpinan atau saudara sebarisan dapat menyebar tanpa tabayyun. Kebijakan yang tidak sesuai selera segera ditafsirkan secara negatif.

Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menegaskan:

“Ketahuilah bahwa prasangka buruk (su’uzhan) kepada sesama muslim adalah haram hukumnya, sebagaimana haramnya membicarakannya dengan lisan (ghibah). Allah Swt. telah melarang hal ini karena prasangka buruk adalah bisikan setan yang disusupkan ke dalam hati untuk merusak kecintaan dan persaudaraan.”

Lebih berbahaya lagi adalah al-kibr, penyakit “ana khairun minhu”. Seorang aktivis dapat merasa lebih berjasa karena lebih lama berjuang, lebih banyak berkorban, lebih banyak hafalan, atau lebih memahami manhaj.

Al-Ghazali menjelaskan:

“Penyakit paling berbahaya yang merusak amal seorang hamba dan menghancurkan persaudaraan adalah takabur (kesombongan). Sifat ini bermula dari pandangan seseorang yang merasa dirinya lebih mulia, lebih bertakwa, atau lebih berjasa daripada saudaranya, seraya berbisik dalam hatinya: ‘Aku lebih baik darinya’ (ana khairun minhu). Ini adalah warisan murni dari iblis ketika ia menolak sujud kepada Adam.”

Maka kita perlu bertanya: jangan-jangan yang melemahkan militansi kita bukan kurangnya program, melainkan rusaknya hubungan hati diantara kita?

Ukhuwah sebagai Energi Perjuangan

Rasulullah saw. memahami bahwa masyarakat dan barisan perjuangan tidak cukup dibangun dengan struktur. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad menjelaskan:

“Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan setelah membangun masjid adalah mempersaudarakan (mu’akhah) antara kaum Muhajirin dan Ansar. Beliau menyadari bahwa sebuah peradaban dan barisan perjuangan tidak akan pernah tegak kokoh di atas tanah keretakan sosial. Persaudaraan yang tegak di atas akidah adalah senjata paling ampuh yang melahirkan ketahanan spiritual luar biasa menghadapi musuh-musuh Islam.”

Ukhuwah bukan slogan. Ia adalah energi yang membuat kekuatan individu menjadi kekuatan jama’i.

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menulis:

“Ukhuwah keimanan bukanlah slogan kosong yang diteriakkan di atas mimbar-mimbar, melainkan mukjizat spiritual yang ditiupkan oleh Allah Swt. ke dalam hati orang-orang yang beriman. Ketika ukhuwah itu retak, maka kekuatan jamaah akan hancur dari dalam, dan musuh tidak lagi membutuhkan senjata untuk mengalahkan mereka, karena mereka telah mengalahkan diri mereka sendiri melalui perselisihan batin.”

Menghidupkan Kembali Ishlah

Jika keretakan telah terjadi, jangan menunggu orang lain memulai. Wa aṣliḥū adalah perintah untuk bergerak memperbaiki.

Ada tiga langkah penting:

  1. Tawāṣau bil-ḥaqq — saling mengingatkan dengan adab dan melakukan tabayyun secara tertutup.
  2. Al-‘Afwu — membudayakan saling memaafkan dan tidak memperpanjang kesalahan.
  3. Ad-Du‘ā bi Ẓahril-Ghaib — mendoakan saudara yang berselisih dengan kita, terutama dalam kesunyian malam.

Muhasabah Aktivis

Militansi bukan hanya keberanian berada di garis depan. Militansi juga adalah kesanggupan berjalan bersama saudara, menahan ego, menerima nasihat, memaafkan kesalahan, dan menjaga hati dari hasad, su’uzhan, serta kibr.

Sebelum bertanya, “Mengapa kader sekarang kurang militan?”, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya masih menjadi sumber perekat ukhuwah, atau justru sumber keretakan?

Shaff yang kokoh tidak lahir hanya dari kesamaan tujuan. Ia lahir dari hati yang bertakwa, saling mencintai karena Allah, dan bersedia melakukan ishlah ketika terjadi keretakan.

Militansi tidak tumbuh ditengah keretakan ukhuwah. Ia tumbuh ketika hati-hati orang beriman kembali dipertautkan oleh Allah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.