Wa Ati’ullaha wa Rasulahu: Ketaatan sebagai Bukti Militansi

by -1376 Views

Setelah Allah Swt. memerintahkan para pejuang Badar untuk bertakwa melalui Fattaqullāh dan memperbaiki ukhuwah melalui Wa aṣliḥū dzāta bainikum, Allah menutup ayat pertama Surah Al-Anfal dengan perintah yang menjadi fondasi gerak:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Anfal: 1)

Urutannya sangat mendalam: takwa memberi motivasi keikhlasan, ukhuwah melahirkan soliditas, sedangkan ketaatan memberikan arah dan kedisiplinan gerak. 

Militansi tanpa ketaatan dapat berubah menjadi energi liar yang kehilangan arah.

Makna Hakiki Ketaatan

Ketaatan dalam Islam bukan blind obedience. Ia bukan ketundukan tanpa nalar kepada manusia, melainkan kesadaran untuk tunduk kepada kebenaran wahyu dan tuntunan Rasulullah saw.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsīr Ibn Kathīr (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim) menjelaskan:

“Firman Allah Swt.: ‘Wa ati’ullaha wa rasulahu in kuntum mu’minin’ bermakna: Taatilah Allah dan Rasul-Nya dalam apa yang Dia perintahkan kepada kalian dan apa yang Dia larang bagi kalian, jika kalian benar-benar beriman kepada janji-Nya, tunduk kepada syariat-Nya, dan meyakini bahwa kebahagiaan dunia serta akhirat hanya ada dalam ketaatan kepada-Nya.”

Militansi seorang aktivis tidak cukup diukur dari semangatnya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana semangat itu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya?

Ketaatan kepada Allah dan Rasul sebagai Standar

Fondasi tertinggi ketaatan adalah Allah dan Rasul-Nya. Adapun ketaatan kepada pimpinan atau ulil amri bersifat terikat oleh syariat. Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam perkara maksiat.

As-Sa‘di dalam Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan (Tafsir as-Sa’di) menegaskan:

“Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya mencakup pelaksanaan seluruh kewajiban agama, penjelmaan akhlak karimah, serta ketundukan pada hukum-hukum Allah dalam menyelesaikan perselisihan. Ketika Allah mengaitkan ketaatan ini dengan keimanan (‘jika kamu orang-orang beriman’), hal ini menunjukkan bahwa berkurangnya ketaatan seseorang pada perintah Allah dan Rasul-Nya adalah bukti nyata dari melemahnya kadar iman di dalam hatinya.”

Maka standar seorang kader bukan selera pribadi, popularitas, atau tekanan publik, melainkan pertanyaan sederhana: Apakah langkah ini diridai Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah saw.?

Ketaatan Bukan Kultus Individu

Ketaatan jama‘i juga tidak boleh berubah menjadi kultus individu. Seorang pemimpin dihormati karena amanahnya, tetapi tidak pernah menjadi manusia yang ma‘shum. Kader yang matang taat kepada prinsip kebenaran, bukan menghamba kepada figur.

Muhammad Ahmad al-Rasyid dalam Al-Munṭalaq memberikan ulasan:

“Ketaatan di jalan dakwah adalah ketaatan kepada fikrah dan ikatan janji (‘ahd) perjuangan, bukan ketundukan emosional kepada figur kepemimpinan tertentu. Ketika ketaatan kader dibangun di atas kekaguman personal kepada seorang pimpinan, maka ketika pimpinan itu bersalah, lemah, atau wafat, gerakan dakwah akan langsung guncang dan tercerai-berai. Pejuang yang rabbani adalah mereka yang taat karena memahami prinsip kebenaran, sehingga ketaatannya tetap kokoh siapa pun yang memimpin barisan.”

Disinilah keseimbangan diperlukan: taat tanpa kultus, kritis tanpa membangkang, dan berani menyampaikan pendapat tanpa kehilangan adab.

Ketaatan dan Kedisiplinan

Militansi tanpa dhabth—kedisiplinan—adalah energi yang tidak terkendali. Militansi justru terlihat dalam kesediaan menepati waktu, menyelesaikan amanah, menjaga rahasia, mengikuti proses tarbiyah, dan melaksanakan tugas tanpa harus terus-menerus diingatkan.

Kader yang hanya bersemangat ketika mendapatkan posisi atau tugas yang disukainya belum menunjukkan militansi yang matang.

Militansi diuji ketika amanah tidak sesuai dengan selera.

Ketika Keputusan Jamaah Tidak Sesuai Keinginan

Ujian ketaatan yang sesungguhnya muncul ketika keputusan syura berbeda dengan pendapat pribadi. Di sinilah ego intelektual diuji.

Sayyid Qutb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān memberikan tadabur:

“Pelajaran terbesar dari peristiwa Badar adalah leburnya kehendak pribadi di dalam kehendak Rabbani dan ketaatan kolektif. Ketika Al-Qur’an memerintahkan ‘Wa ati’ullaha wa rasulahu’, Al-Qur’an mendidik para pejuang untuk melepaskan pendapat pribadi setelah keputusan syuro ditetapkan. Sebuah gerakan tidak akan pernah memiliki daya gempur jika setiap anggotanya hanya mau taat pada keputusan yang ia setujui, dan membangkang atau pasif terhadap keputusan yang tidak sesuai dengan analisanya. Ketaatan sejati justru terpancar saat seseorang mengeksekusi keputusan jamaah yang tidak ia sukai dengan penuh kesungguhan, seolah-olah itu adalah idenya sendiri.”

Namun, hal ini harus dipahami dalam koridor syariat dan keputusan yang sah. Kader boleh menyampaikan argumentasi dengan jujur dalam ruang syura. Setelah keputusan ditetapkan, ia belajar menundukkan ego selama keputusan tersebut tidak bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sami‘nā wa Aṭa‘nā

Identitas mukmin sejati adalah kesiapan untuk mendengar dan menaati kebenaran. Rasulullah saw. bersabda:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan melakukan maksiat. Jika ia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim; dicantumkan oleh Imam al-Nawawi dalam Riyāḍ al-Ṣāliḥīn)

Frasa fīmā aḥabba wa kariha sangat penting. Ketaatan tidak hanya berlaku ketika instruksi sesuai dengan keinginan kita.

Tazkiyah melalui Ketaatan

Ketaatan adalah latihan untuk membunuh ujub, kesombongan intelektual, dan kecenderungan merasa diri paling benar. Seorang aktivis belajar bahwa dirinya bukan pusat perjuangan.

Disinilah ketaatan menjadi proses tazkiyah: menundukkan ego kepada kebenaran, mengalahkan hawa nafsu, dan mendahulukan maslahat perjuangan selama tetap berada dalam koridor syariat.

Maka sami‘nā wa aṭa‘nā bukan slogan pasif. Ia adalah sikap jiwa yang telah belajar tunduk.

Muhasabah Aktivis

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya taat karena meyakini kebenaran, atau hanya taat ketika pendapat saya diterima?

Apakah saya mampu bekerja sungguh-sungguh ketika mendapatkan amanah yang tidak saya pilih?

Apakah saya menghormati kepemimpinan tanpa mengultuskan manusia?

Apakah militansi saya memiliki disiplin, atau hanya berupa semangat yang meledak-ledak?

Pada akhirnya, militansi bukan hanya keberanian bergerak. Militansi adalah kesediaan tunduk kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, menundukkan ego, dan menjalankan amanah dengan disiplin.

Fattaqullāh membersihkan hati.
Wa aṣliḥū dzāta bainikum merekatkan barisan.
Wa aṭī‘ullāha wa rasūlahū memberikan arah perjuangan.

Ketiganya membentuk satu kesatuan. Iman yang hidup melahirkan takwa; takwa melahirkan ukhuwah; dan ukhuwah yang kokoh bergerak dengan ketaatan.

Disanalah militansi menemukan bentuknya yang benar: bukan kerasnya suara, tetapi kokohnya ketaatan kepada Allah Swt. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.