Wajal: Rasa Takut yang Justru Menguatkan

by -1403 Views

Kita hidup dalam zaman ketika keberanian seringkali dipahami sebagai kemampuan untuk tidak takut kepada siapapun. Bersifat fisik dan materi. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bentuk keberanian yang lebih mendalam, yaitu keberanian yang lahir dari rasa takut kepada Allah.

Seseorang yang hatinya dipenuhi wajal tidak berarti menjadi manusia yang lemah, melainkan menjadi manusia yang memiliki kompas moral yang membuatnya mampu berdiri teguh ketika berhadapan dengan tekanan manusia.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Rasa takut yang dimaksud bukanlah rasa takut yang membuat seseorang kehilangan keberanian. Wajal adalah rasa takut yang membuat seorang hamba takut menyelisihi Allah, takut menzalimi manusia, takut menyia-nyiakan amanah, takut mengkhianati kepercayaan, dan takut membawa amal yang secara lahiriah tampak besar tetapi secara batiniah rusak karena riya, ujub, atau kecintaan terhadap dunia.

Ibnu Abbas r.a., sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dalam Tafsīr Ibn Kathīr, menjelaskan keadaan orang-orang beriman yang ketika diingatkan kepada Allah hatinya bergetar karena keagungan-Nya, kemudian mereka menahan diri dan kembali kepada ketaatan.

Sedangkan syaikh As-Suddi menggambarkan seseorang yang hendak melakukan kezaliman atau maksiat lalu ketika diingatkan agar takut kepada Allah, hatinya bergetar dan ia menghentikan perbuatannya.

Dari penjelasan tersebut kita dapat memahami bahwa wajal memiliki dimensi moral yang sangat kuat. Rasa takut kepada Allah tidak berhenti sebagai pengalaman batin, tetapi harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret berupa meninggalkan kemaksiatan, menjaga amanah, menghormati hak orang lain, dan segera kembali ketika melakukan kesalahan.

Seorang aktivis dakwah yang memiliki rasa takut kepada Allah akan berpikir berkali-kali sebelum menggunakan uang dakwah secara tidak semestinya, akan berhati-hati sebelum menyebarkan berita yang belum jelas, akan menjaga kehormatan saudaranya meskipun sedang kecewa, dan akan merasa takut apabila jabatan yang dimilikinya justru menjadi jalan menuju kesombongan.

Rasa takut semacam ini justru membebaskan manusia dari banyak ketakutan lain. Ketika seseorang benar-benar takut kepada Allah, ia tidak akan menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran tertinggi. Aktivis semacam ini, tidak akan mudah mengorbankan prinsip demi popularitas, dan tidak akan merasa harus selalu mendapatkan posisi agar dirinya merasa berharga.

Inilah salah satu hubungan antara wajal dan militansi. Militansi yang sehat tidak lahir dari keberanian yang tidak memiliki batas, tetapi dari ketundukan kepada Allah yang membuat seseorang memiliki keberanian untuk menjalankan kebenaran sekalipun jalan tersebut tidak selalu memberikan kenyamanan.

Rasa takut kepada Allah juga harus ditemani harapan kepada rahmat-Nya. Jika seseorang hanya melihat dosa dan ancaman tanpa mengingat ampunan Allah, ia dapat terjerumus ke dalam keputusasaan. Sebaliknya, jika ia hanya mengingat rahmat tanpa takut kepada pertanggungjawaban, ia dapat terjebak dalam rasa aman palsu yang membuatnya meremehkan dosa.

Hati seorang aktivis harus terus bergerak di antara khauf dan raja’. Takut bahwa amalnya tidak diterima karena kekurangan dan kelemahan dirinya. Pada saat yang sama ia  tetap berharap bahwa Allah akan menerima, mengampuni, dan menolongnya untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya, wajal mengajarkan kepada kita bahwa ketakutan yang benar justru dapat melahirkan keberanian yang benar, karena orang yang paling takut kepada Allah tidak akan mudah diperbudak oleh ketakutan kepada manusia, sedangkan orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah dapat dengan mudah mengorbankan prinsip demi sesuatu yang lebih rendah.

Jika kita ingin membangun militansi dakwah yang sehat, jangan hanya bertanya bagaimana membuat kader lebih berani, tetapi tanyakan pula bagaimana membuat hati mereka semakin mengenal kebesaran Allah. Keberanian yang tidak bersumber dari iman dapat berubah menjadi kekerasan, sedangkan keberanian yang lahir dari wajal akan tetap memiliki adab, batas, dan tanggung jawab.

Militansi bukan ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan menempatkan rasa takut pada tempat yang benar, yaitu takut kepada Allah sehingga kita tidak menjadi hamba bagi selain-Nya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.