Bab el Mandeb dan Laut Merah: Gerbang Strategis bagi Palestina

by -1296 Views

Selat Bab el-Mandeb (Gerbang Ratapan), merupakan salah satu titik strategis yang menghubungkan Teluk Aden dan Samudra Hindia dengan Laut Merah, sebelum jalur pelayaran berlanjut menuju Laut Tengah melalui Terusan Suez. 

Selat ini memisahkan Yaman dari kawasan Tanduk Afrika, terutama Jibuti dan Eritrea. Sejak Terusan Suez dibuka pada 1869, Bab el-Mandeb semakin penting bagi perdagangan internasional, distribusi energi, dan mobilitas militer.

Nilai strategis kawasan ini tidak hanya ditentukan oleh lalu lintas kapal, tetapi juga oleh persaingan kekuatan yang ingin mengendalikan akses menuju Laut Merah. 

Nicholas W. Stephenson Smith dalam Colonial Chaos in the Southern Red Sea menjelaskan bagaimana ekspansi kolonial mengubah hubungan di kawasan tersebut. Kerja sama antar masyarakat dan kekuatan lokal semakin terdesak oleh persaingan imperium, intervensi militer, dan perebutan pengaruh atas pelabuhan serta jalur pelayaran.

Warisan persaingan itu masih terlihat hingga kini. Jibuti menampung fasilitas militer sejumlah kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Tiongkok. Di seberang selat, Yaman mengalami konflik berkepanjangan yang melibatkan aktor lokal dan kekuatan regional. Laut Merah pun menjadi ruang pertemuan kepentingan perdagangan, keamanan, dan persaingan geopolitik.

Bagi Palestina, arti penting Bab el-Mandeb terletak pada keterhubungannya dengan keseluruhan koridor Laut Merah. Palestina berada di sisi utara kawasan strategis ini, dekat Mesir, Terusan Suez, dan jalur menuju Teluk Aqaba. 

Karena itu, dinamika keamanan di selatan Laut Merah dapat berhubungan langsung dengan kepentingan maritim Israel serta perkembangan konflik Palestina.

Palestina dalam Geopolitik Laut Merah

Pendudukan Israel atas tanah Palestina tidak berdiri terpisah dari konfigurasi kekuasaan di Timur Tengah. Sejak berdirinya Israel pada 1948 ditengah pengusiran massal warga Palestina, perebutan wilayah, pengungsian, dan konflik berkepanjangan telah membentuk ulang tatanan politik dan keamanan kawasan. 

Pendudukan Israel atas Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza sejak perang 1967 kemudian memperdalam persoalan tersebut, meskipun status dan kondisi penguasaan wilayah-wilayah itu memiliki perkembangan hukum serta politik yang berbeda.

Dalam peta maritim, Israel memiliki pelabuhan di Laut Tengah dan Pelabuhan Eilat di Teluk Aqaba. Eilat terhubung dengan Samudra Hindia melalui Selat Tiran, Teluk Aqaba, Laut Merah, dan Bab el-Mandeb. 

Jalur ini memberi Israel akses perdagangan menuju sejumlah pasar Asia tanpa harus melewati Terusan Suez dari arah utara. Gangguan di Bab el-Mandeb dengan demikian dapat menekan kegiatan pelayaran Israel yang menuju atau meninggalkan Eilat.

Keterkaitan itu menjadi nyata setelah perang di Gaza pada Oktober 2023. Gerakan Houthi atau Ansharullah di Yaman melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dengan menyatakan tindakan tersebut sebagai dukungan kepada Palestina dan tekanan terhadap Israel. Sejumlah kapal dagang kemudian menghindari kawasan itu dan memilih rute yang lebih panjang mengitari Tanjung Harapan di Afrika. Perubahan rute meningkatkan waktu perjalanan dan biaya logistik, sementara serangan serta operasi militer balasan memperluas ketegangan regional.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana perang di Gaza dapat beresonansi jauh melampaui wilayah Palestina. Pelabuhan Eilat, jalur pelayaran Laut Merah, Terusan Suez, dan rantai pasok internasional berada dalam satu jaringan strategis. 

Ketika konflik meningkat, dampaknya menjalar kepada perdagangan dan keamanan maritim, termasuk kepentingan negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam perang.

Bagi Israel, keamanan jalur laut merupakan bagian dari kepentingan ekonominya. Bagi rakyat Palestina, perkembangan ini berlangsung ditengah kenyataan pendudukan, kehancuran infrastruktur, pengungsian, dan krisis kemanusiaan yang berulang. 

Kedua hal tersebut tidak menghapus perbedaan posisi dan pengalaman mereka dalam konflik: negara Israel dengan dukungan penuh AS dan Eropa, memiliki kemampuan militer yang jauh lebih besar, sedangkan rakyat Palestina terus memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri ditengah penguasaan wilayah dan pembatasan yang mereka alami, serta “diam”nya dunia Arab disekitarnya. 

Laut Merah, Perjuangan Palestina, dan Kesadaran Umat

Hubungan Bab el-Mandeb dengan Palestina juga menunjukkan bahwa perjuangan Palestina telah menjadi bagian dari dinamika politik regional. 

Yaman, negara-negara Teluk, Mesir, Jibuti, dan kekuatan global memiliki kepentingan berbeda terhadap keamanan Laut Merah. Sebagian menempatkan perlindungan pelayaran sebagai prioritas, sementara aktor lain menghubungkan tindakan mereka dengan tekanan terhadap Israel atas perang di Gaza.

 Kepentingan-kepentingan tersebut tidak selalu sejalan dan terkadang justru memperbesar risiko bagi masyarakat sipil serta pelayaran internasional.

Dalam perspektif Islam, Palestina memiliki kedudukan khusus karena keterkaitannya dengan Masjidil Aqsa dan sejarah panjang umat. Namun, perhatian terhadap Palestina juga menuntut pemahaman tentang struktur kekuasaan yang memengaruhi nasibnya. Jalur maritim, pangkalan militer, hubungan antarnegara, dan kepentingan ekonomi merupakan bagian dari lingkungan geopolitik yang membentuk pilihan serta keterbatasan para aktor.

Allah ﷻ berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki.” (QS. Al-Anfal: 60, bagian dari ayat).

Kekuatan dalam kehidupan umat tidak hanya tercermin dalam kemampuan militer, tetapi juga dalam ilmu, penguasaan informasi, solidaritas sosial, diplomasi, dan kemampuan mengorganisasi bantuan. 

Sejarah Laut Merah memperlihatkan betapa keputusan di satu kawasan dapat memengaruhi masyarakat di kawasan lain. Hal yang sama berlaku bagi Palestina, yang nasibnya berkaitan dengan kepentingan regional dan global.

Karena itu, Bab el-Mandeb bukan sekadar selat yang jauh dari tanah Palestina. Ia merupakan bagian dari koridor strategis yang menghubungkan Gaza dengan Mesir, Laut Merah, dan jaringan perdagangan dunia. 

Membaca keterkaitan ini memperluas kesadaran umat: Palestina bukan hanya persoalan iman dan batas wilayah, melainkan juga persoalan keadilan, hak menentukan nasib sendiri, dan tatanan regional yang terus diperebutkan. (im)

Daftar Pustaka

  • Klein, Natalie. Maritime Security and the Law of the Sea. Oxford: Oxford University Press, 2011
  • Mason, Robert, and Simon Mabon, eds. The Gulf States and the Horn of Africa: Interests, Influences and Instability. Manchester: Manchester University Press, 2020.
  • Stephenson Smith, Nicholas W. Colonial Chaos in the Southern Red Sea: A History of Violence from 1830 to the Twentieth Century. Cambridge: Cambridge University Press, 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.