Pertanyaan: Ustadz, saya sudah bertahun-tahun ikut pembinaan, tetapi setiap kali diminta untuk mulai membina kelompok baru (open halaqah), saya selalu merasa takut dan tidak siap. Saya lebih nyaman menjadi peserta daripada pembina. Bagaimana cara mengatasi mentalitas yang selalu ingin menjadi “makmum” seperti ini?
Jawaban : Perasaan takut dan tidak siap ketika diminta membina orang lain adalah sesuatu yang manusiawi. Hampir semua pembina, murabbi, guru, bahkan para pemimpin pernah merasakan hal yang sama pada awal perjalanan mereka.
Namun, yang perlu dipahami adalah bahwa dalam manhaj tarbiyah, seorang muslim tidak disiapkan untuk menjadi pengikut selamanya. Ia dibina agar suatu saat mampu membina orang lain.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ ﴾
“Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
Para ahli tafsir seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam agama diperoleh melalui dua bekal utama: kesabaran dan keyakinan. Ayat ini menunjukkan bahwa menjadi pembimbing umat bukanlah tugas bagi orang yang sempurna, melainkan bagi mereka yang terus belajar, bersabar, dan bertumbuh.
Musthafa Masyhur juga menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk mengemban amanah memimpin manusia menuju jalan Allah sesuai kemampuan yang dimilikinya. Karena itu, rasa takut tidak boleh berubah menjadi alasan untuk terus menunda amanah dakwah.
Jangan Menunggu Sempurna untuk Mulai
Salah satu penyebab utama seseorang enggan membina adalah anggapan bahwa seorang murabbi harus mengetahui segala sesuatu. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Bukankah kita belajar berjalan dengan berjalan? Belajar berbicara dengan berbicara? Belajar mengajar pun demikian: kita menjadi lebih baik karena terus berlatih.
Dalam dunia tarbiyah dikenal prinsip at-tadarruj (bertahap). Mulailah dari yang paling mampu Anda lakukan. Jika diminta membuka halaqah, jangan langsung membayangkan membina orang yang ilmunya jauh diatas Anda. Mulailah dari objek dakwah yang sesuai dengan kapasitas dan pengalaman Anda.
Para pakar tarbiyah menegaskan bahwa proses menjadi naqib atau murabbi adalah proses pembelajaran yang berlangsung terus-menerus. Kesalahan yang terjadi dalam proses latihan jauh lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali.
Karena itu, mintalah pendampingan dari murabbi Anda. Sampaikan materi sederhana terlebih dahulu. Setelah itu evaluasi bersama. Dengan cara ini rasa percaya diri akan tumbuh secara alami.
Mengobati Rasa Takut dengan Tawakal dan Keberanian Iman
Dalam banyak kasus, rasa takut yang berlebihan bukan berasal dari kurangnya ilmu semata, tetapi dari ketakutan terhadap penilaian manusia.
Allah berfirman:
﴿ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴾
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175)
Menurut Imam Ath-Thabari dan para mufassir lainnya, ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan rasa takut kepada manusia menghalanginya dari menjalankan kewajiban yang diridhai Allah.
Dalam perspektif tarbiyah, setiap kader hendaknya mempersiapkan diri menjadi pemimpin ketika amanah itu datang. Bukan karena ambisi jabatan, tetapi karena kesiapan memikul tanggung jawab. Seorang anggota jamaah tidak seharusnya berkata, “Saya hanya cocok menjadi anggota biasa.” Sebaliknya, ia terus memperbaiki diri agar siap ketika Allah membukakan pintu pengabdian yang lebih luas.
Keberanian sejati bukanlah hilangnya rasa takut, melainkan kemampuan melangkah meskipun rasa takut itu masih ada, karena hati bersandar kepada Allah.
Maka jangan tunggu sempurna untuk membina. Mulailah dengan ilmu yang Anda kuasai, terus belajar, minta bimbingan, dan bertawakal kepada Allah. Insya Allah, kemampuan akan tumbuh seiring amanah yang dijalankan. Sebab dalam dakwah, sering kali Allah tidak memilih orang yang sudah siap, tetapi menyiapkan orang yang bersedia menjawab panggilan-Nya. (im)





