Sebelum Membina, Mental Apa yang Harus Disiapkan Agar Tidak Mudah Menyerah?

by -1477 Views

Pertanyaan:  Ustadz, banyak murabbi baru yang langsung burnout atau menyerah pada tahun pertama karena anggota binaannya sulit diatur, kurang disiplin, atau lambat berkembang. Mental seperti apa yang harus disiapkan sebelum kita memutuskan memegang binaan?

Jawaban: Salah satu penyebab utama burnout di kalangan murabbi pemula adalah harapan yang tidak realistis. Banyak yang membayangkan bahwa setelah halaqah berjalan, anggota akan segera berubah, rajin hadir, mudah diarahkan, dan cepat berkembang. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, muncullah rasa kecewa, lelah, bahkan keinginan untuk menyerah.

Padahal para nabi mengajarkan kepada kita bahwa dakwah adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran luar biasa.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam:

﴿ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا ﴾

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di tengah mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan betapa panjang dan beratnya perjuangan dakwah Nabi Nuh, sementara jumlah pengikut yang beriman kepadanya tetap sedikit dibandingkan keseluruhan kaumnya.

Jika para nabi saja menghadapi penolakan bertahun-tahun, maka seorang murabbi tidak semestinya terkejut ketika mendapati anggota yang lambat berubah atau sulit dibina.

Karena itu, sebelum membina, tanamkan dalam hati bahwa tugas kita adalah berusaha dan mendampingi, bukan memaksa hasil. Hidayah adalah hak prerogatif Allah, sedangkan kesungguhan adalah kewajiban kita.

Siapkan Mental Melayani dan Menghadapi Beragam Karakter Manusia

Dalam fiqhud dakwah, seorang murabbi bukan hanya pengajar, tetapi juga pendamping, sahabat, bahkan pelayan bagi orang-orang yang dibinanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ

“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari)

Para ulama hadits menjelaskan bahwa salah satu pelajaran dari hadits ini adalah kerendahan hati seorang pemimpin. Kepemimpinan dalam Islam bukanlah posisi untuk dilayani, tetapi amanah untuk melayani.

Karena itu, jangan memasuki dunia pembinaan dengan mental ingin ditaati. Masuklah dengan mental ingin membantu manusia mendekat kepada Allah.

Seorang murabbi akan bertemu berbagai tipe karakter: ada yang semangat lalu menurun, ada yang sering terlambat, ada yang banyak alasan, dan ada pula yang membutuhkan perhatian lebih besar dibanding yang lain. Semua itu adalah bagian dari medan tarbiyah.

Imam Hasan Al-Banna mengingatkan bahwa jalan dakwah adalah jalan yang panjang dan memerlukan ash-shabr (kesabaran), ats-tsabat (keteguhan), dan al-mudawamah (kesinambungan amal). Orang yang menginginkan hasil cepat biasanya lebih mudah kecewa ketika berhadapan dengan realitas manusia.

Jagalah Ruhiyah, Karena Burnout Sering Berawal dari Kekeringan Hati

Selain faktor ekspektasi, burnout sering muncul karena seorang murabbi terlalu sibuk mengurus orang lain tetapi lalai mengurus dirinya sendiri.

Allah berfirman:

﴿ وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ﴾

“Mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini mengajarkan bahwa kekuatan menghadapi berbagai kesulitan diperoleh melalui kesabaran dan hubungan yang kuat dengan Allah.

Disinilah para ulama tasawuf menekankan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Murabbi yang tidak menjaga dzikir, tilawah, doa, qiyamul lail, dan muhasabah akan lebih cepat kehabisan energi batin ketika menghadapi problem anggota.

Pelajaran besar juga dapat diambil dari kisah Nabi Yunus ‘alaihis salam. Ketika beliau meninggalkan kaumnya sebelum datang izin Allah, beliau justru menghadapi ujian yang lebih berat. Para mufassir menjelaskan bahwa kisah ini mengajarkan pentingnya kesabaran menghadapi medan dakwah dan tidak tergesa-gesa meninggalkan amanah ketika hasil belum terlihat.

Maka sebelum menerima binaan, siapkanlah mental seorang pejuang: sabar dalam proses, lapang dalam menghadapi manusia, dan kuat dalam hubungan dengan Allah. Dengan bekal itu, insya Allah seorang murabbi akan lebih tahan menghadapi berbagai dinamika tarbiyah tanpa mudah menyerah. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.