Setelah menelusuri pesan-pesan agung Surat At-Taubah ayat 122, kita menyadari bahwa Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan pentingnya belajar, tetapi juga membangun sebuah peradaban yang bertumpu pada ilmu, amal, dan dakwah. Sebagaimana firman Allah SWT:
﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
“Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.” (QS. At-Taubah [9]: 122)
Para ahli tafsir seperti Imam Ibnu Katsir, Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir, Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafasir, dan Syaikh Sa’id Hawwa dalam Al-Asas fi al-Tafsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan fondasi pembagian tugas dalam umat: sebagian berjihad di lapangan, sementara sebagian lain berjihad dengan ilmu demi menjaga akidah, syariat, dan arah perjalanan umat.
Muhasabah Seorang Penuntut Ilmu
Sebelum buku ini ditutup, ada baiknya setiap diri mengajukan beberapa pertanyaan yang sederhana, namun sangat mendalam.
Berapa buku yang telah kita baca sepanjang tahun ini? Apakah bacaan kita hanya menambah informasi, atau benar-benar menumbuhkan ketakwaan? Syaikh Abu Bakr al-Jaza’iri menjelaskan bahwa tafaqquh bukan sekadar mengetahui hukum, tetapi memahami hikmah syariat sehingga ilmu membentuk akhlak dan mengarahkan kehidupan.
Berapa majelis ilmu yang telah kita hadiri?
Ditengah kemudahan YouTube, podcast, dan kecerdasan buatan, jangan sampai kita kehilangan keberkahan talaqqi. Syaikh Sa’id Hawwa menjelaskan bahwa ilmu bukan hanya perpindahan informasi, tetapi juga perpindahan adab, keikhlasan, dan cahaya iman melalui kebersamaan dengan para guru yang saleh.
Berapa catatan yang telah kita tulis? Berapa ilmu yang telah kita wariskan? Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ»
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Taqyid al-‘Ilm. Meskipun sanadnya diperselisihkan, para ulama menerima maknanya karena dikuatkan oleh praktik para sahabat dan tradisi ulama sepanjang sejarah yang menjadikan menulis sebagai sarana menjaga ilmu.
Lalu, berapa orang yang telah memperoleh manfaat dari ilmu yang Allah titipkan kepada kita? Sebab ilmu yang tidak melahirkan manfaat bagi orang lain belum mencapai tujuan yang dikehendaki ayat ini, yaitu ﴿وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ﴾.
Menghidupkan Kembali Budaya Ilmu
Peradaban Islam tidak dibangun oleh satu orang alim, tetapi oleh budaya belajar yang hidup di tengah masyarakat. Masjid menjadi pusat ilmu, rumah dipenuhi kitab, halaqah tumbuh di berbagai tempat, perpustakaan berkembang, dan karya-karya ulama lahir silih berganti.
Sayangnya, di zaman digital ini kita sering lebih akrab dengan linimasa media sosial daripada lembaran kitab. Kita lebih banyak membaca potongan informasi daripada menelaah karya yang utuh.
Padahal, sebagaimana diingatkan Wahbah az-Zuhaili, kekuatan gerakan tanpa bimbingan ilmu akan kehilangan arah, sedangkan ilmu yang tidak dihidupkan dalam amal juga tidak akan mampu membimbing masyarakat.
Karena itu, kebangkitan umat harus dimulai dari kebangkitan budaya ilmu. Menghidupkan kembali halaqah, majelis taklim, perpustakaan, tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan membina generasi adalah bagian dari jihad intelektual yang sangat dibutuhkan pada zaman ini.
Menjadikan At-Taubah Ayat 122 sebagai Gerakan
Sesungguhnya, Surat At-Taubah ayat 122 bukan hanya ayat yang dibaca, tetapi sebuah peta jalan kebangkitan umat. Dari ayat ini lahir tiga tahapan yang tidak boleh dipisahkan: tafaqquh, liyundziru, dan la’allahum yahdzarun.
Belajar melahirkan dakwah, dakwah melahirkan masyarakat yang sadar, dan masyarakat yang sadar akan melahirkan peradaban yang diridai Allah SWT.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan Rabbaniyyin, sebagaimana dijelaskan para ulama, yaitu mereka yang terus belajar, mengamalkan ilmunya dengan ikhlas, mengajarkannya dengan hikmah, serta membimbing umat menuju jalan Allah dengan kelembutan dan kasih sayang. (im)





