Antara Wahyu dan Eksperimen: Menempatkan Ilmu pada Kedudukannya

by -1408 Views

Dalam perjalanan mengenal Ilmu Allah, seorang Muslim perlu memiliki kejernihan epistemologis: tidak semua pengetahuan berada pada derajat yang sama. 

Ada ilmu yang bersumber dari wahyu dan membawa kepastian, dan ada ilmu yang lahir dari observasi manusia terhadap alam yang bersifat berkembang. Keduanya penting, tetapi tidak boleh dipertukarkan.

Kekeliruan banyak manusia modern bukan pada semangat mencari ilmu, melainkan pada kegagalan membedakan mana yang menjadi fondasi hidup, dan mana yang sekadar alat untuk mengelola kehidupan.

Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan hanya sedikit.”  (QS. Al-Isra’: 85)

Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan keterbatasan mendasar ilmu manusia. Sebesar apa pun capaian intelektual, manusia tetap berada dalam horizon pengetahuan yang terbatas di hadapan ilmu Allah yang sempurna.

Kebenaran Mutlak: Cahaya Wahyu yang Tidak Berubah

Dalam Islam, Al-Haqiqah al-Muthlaqah (kebenaran mutlak) adalah ilmu yang datang dari Allah melalui wahyu.

Karena bersumber dari Zat Yang Maha Mengetahui, ilmu ini tidak tunduk pada revisi, opini mayoritas, atau perubahan tren intelektual.

Allah berfirman:

لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ
“Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah.”  (QS. Al-An‘am: 34)

Menurut Imam al-Qurthubi, ayat ini menunjukkan ketetapan janji, hukum, dan berita Allah yang tidak tersentuh cacat ataupun koreksi.

Inilah yang menjadikan wahyu sebagai Minhājul Hayāh—pedoman hidup.

Ia mengatur hal-hal prinsipil: tauhid, ibadah, akhlak, keadilan, keluarga, tujuan hidup, serta orientasi akhirat.

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Al-Munqidz min adh-Dhalal bahwa akal sangat mulia, tetapi ia membutuhkan cahaya wahyu sebagaimana mata membutuhkan cahaya matahari. Mata sehat sekalipun tidak berguna di ruang gelap.

Karena itu, wahyu memberi kepastian moral dan arah ontologis: dari mana manusia datang, untuk apa hidup, dan ke mana akan kembali.

Kebenaran Eksperimental: Ilmu yang Bertumbuh dan Berkembang

Berbeda dengan wahyu, ilmu empiris lahir dari pengamatan, analisis, eksperimen, dan verifikasi.

Dalam istilah pembinaan, ia disebut Al-Haqiqah at-Tajrībiyyah (kebenaran eksperimental).

Ilmu jenis ini penting, namun sifatnya tidak final.

Teori ilmiah berkembang sesuai data baru, metode yang lebih akurat, dan penemuan lanjutan.

Apa yang dulu dianggap pasti, bisa direvisi.

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa ini adalah karakter alami ilmu duniawi. Karena objeknya adalah fenomena ciptaan yang terus diteliti manusia terbatas, maka hasilnya bersifat progresif.

Itulah sebabnya ilmu empiris berfungsi sebagai Wasā’ilul Hayāh—sarana kehidupan.

Ia membantu manusia membangun rumah sakit, transportasi, teknologi, sistem komunikasi, dan berbagai instrumen peradaban.

Namun sarana tidak boleh naik derajat menjadi sumber nilai.

Pesawat dapat membawa manusia berhaji atau berbuat maksiat; internet dapat menjadi jalan ilmu atau kerusakan. Yang menentukan arah bukan teknologinya, melainkan nilai yang membimbing penggunaannya.

Waspada terhadap Zhan dan Hawa Nafsu

Masalah muncul ketika dugaan, opini, atau teori yang lemah diperlakukan seolah-olah setara dengan wahyu.

Allah berfirman:

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ
“Mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan dan apa yang diinginkan hawa nafsu.”  (QS. An-Najm: 23)

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa zhan adalah pengetahuan yang belum mencapai keyakinan, namun sering diberi bobot berlebihan oleh manusia karena kesombongan intelektual.

Dalam konteks modern, tidak semua teori populer otomatis netral atau final. Sebagian lahir dari asumsi filosofis tertentu yang bisa bertentangan dengan fitrah dan akidah.

Ibnul Qayyim mengingatkan dalam Miftah Dar as-Sa‘adah bahwa ilmu yang tidak mengantarkan kepada pengenalan terhadap Allah dapat berubah menjadi sebab kesombongan.

Maka seorang Muslim dituntut rendah hati. Ia menghormati sains, tetapi tidak mengultuskannya. Ia mencintai akal, tetapi tidak menuhankannya.Semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin terasa kecil diri di hadapan Allah. Pada titik ini, ilmu tidak lagi menjadi alat dominasi, tetapi jalan menuju khusyuk. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.