Al Mutrofun: Tafakur tentang Jatuh Bangunnya Peradaban

by -1448 Views

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat), tetapi mereka melakukan kefasikan dalam negeri itu; maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
(QS. Al-Isra’: 16)

Ayat ini bukan sekadar kisah tentang umat-umat terdahulu. Ia adalah cermin sunnatullah peradaban yang terus berulang sepanjang sejarah manusia. 

Al-Qur’an mengajarkan bahwa runtuhnya sebuah bangsa sering kali bukan dimulai dari lemahnya bangunan fisik atau kurangnya kekayaan alam, melainkan dari kerusakan moral orang-orang yang memegang pengaruh dan kekuasaan.

Dalam bahasa Al-Qur’an, mereka disebut mutrafin—golongan elite yang hidup dalam kemewahan, memiliki akses kekuasaan, namun kehilangan kesadaran ruhani dan amanah sosial.

Mutrafin dan Awal Keruntuhan Peradaban

Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa makna: أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا adalah Allah memberikan perintah agar mereka taat, bersyukur, dan berjalan di atas kebenaran, namun mereka justru memilih kefasikan dan melampaui batas.

Imam Al-Qurthubi رحمه الله menambahkan bahwa kemewahan yang tidak dibimbing iman sering melahirkan kesombongan, kerakusan, dan penolakan terhadap nasihat. 

Ketika hati terlalu mencintai dunia, manusia mulai memandang kekuasaan sebagai hak milik pribadi, bukan amanah dari Allah.

Di sinilah kerusakan peradaban bermula.

Bukan karena rakyat kecil semata, tetapi ketika para pemimpin, pembesar, dan orang-orang berpengaruh kehilangan kompas moral. Hukum mulai dipermainkan. Keadilan menjadi tumpul. Kemewahan dipertontonkan ditengah penderitaan masyarakat. Amanah berubah menjadi alat memperbesar kepentingan diri.

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an menyebut ayat ini sebagai gambaran sunnatullah sejarah: kehancuran bangsa sering dimulai ketika elite mengalami dekadensi moral. Sebab kerusakan elite bersifat sistemik; dampaknya menjalar kepada budaya, ekonomi, politik, bahkan cara berpikir masyarakat.

Peradaban Tidak Hancur Seketika

Menariknya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa kehancuran tidak turun tiba-tiba. Ada proses panjang berupa pembangkangan moral yang terus dibiarkan.

Allah ﷻ berfirman:

فَفَسَقُوا فِيهَا

“Mereka berbuat kefasikan di negeri itu.”

Kata fisq dalam penjelasan para ulama bukan hanya maksiat individual, tetapi keluarnya manusia dari batas amanah dan keadilan. Ketika kefasikan dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan, dampaknya menjadi luas dan merusak tatanan sosial.

Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya) adalah akar banyak kerusakan manusia. Ketika hati tidak lagi takut kepada Allah, maka kekuasaan berubah menjadi alat pemuas hawa nafsu.

Karena itu, Islam tidak memandang kejayaan peradaban hanya dari gedung tinggi, teknologi, atau kekuatan ekonomi. Peradaban sejati dibangun diatas akhlak, amanah, dan rasa takut kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada orang zalim. Namun ketika Allah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnatullah: kezaliman mungkin tampak kuat untuk sementara, tetapi tidak akan bertahan selamanya.

Muhasabah Peradaban dan Tanggung Jawab Moral

Ayat ini seharusnya dibaca bukan untuk sibuk menghakimi pihak lain, melainkan sebagai bahan muhasabah bersama. Sebab setiap manusia, pada kadar tertentu, memiliki amanah kepemimpinan—baik dalam keluarga, masyarakat, maupun jabatan sosialnya.

Jatuh bangunnya peradaban selalu terkait dengan kualitas moral manusianya. Ketika amanah dijaga, keadilan ditegakkan, dan kemewahan disertai syukur, sebuah bangsa akan kuat. Namun ketika kekuasaan dipisahkan dari iman, maka keruntuhan tinggal menunggu waktu.Karena itu, Islam mengajarkan bahwa memperbaiki peradaban harus dimulai dari memperbaiki hati. Sebab hati yang tunduk kepada Allah akan melahirkan kepemimpinan yang adil, dan kepemimpinan yang adil adalah fondasi tegaknya sebuah negeri. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.