Fase Nubuwwah: Jejak Manhaj, Tarbiyah, dan Ukhuwah dalam Sejarah Umat

by -1387 Views

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، ثُمَّ سَكَتَ

“Akan ada ditengah kalian masa kenabian selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkatnya ketika Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah di atas manhaj kenabian, lalu berlangsung selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkatnya ketika Dia menghendaki. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan ‘āḍḍan), lalu berlangsung selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkatnya ketika Dia menghendaki. Kemudian akan ada kerajaan yang memaksa (mulkan jabbariyah), lalu berlangsung selama Allah menghendakinya, kemudian Allah mengangkatnya ketika Dia menghendaki. Kemudian akan kembali khilafah di atas manhaj kenabian.” (HR. Aḥmad)

Para ahli hadits seperti al-Ḥāfizh al-‘Irāqī menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan yang saling menguatkan (tata‘addud al-ṭuruq), sehingga derajatnya naik menjadi maqbūl (dapat diterima). 

Ini merupakan pendekatan ilmiah dalam ilmu musthalah al-hadits, sebagaimana dijelaskan dalam karya-karya takhrij.

Dari sisi makna, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menegaskan bahwa hadits ini adalah kerangka besar perjalanan umat, bukan legitimasi untuk klaim politis yang tergesa-gesa. 

Syaikh Ramadhan al-Būṭī melihatnya sebagai panduan tarbiyah: setiap fase adalah ujian yang membentuk kualitas umat. 

Sedangkan Sayyid Quthb dalam perspektif haraki menekankan bahwa manhaj kenabian tetap menjadi standar ideal sepanjang zaman.

Al-Qur’an sendiri mengarahkan umat untuk membaca sejarah sebagai pelajaran:

سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا
(QS. Āli ‘Imrān: 137)

Artinya: “Itulah sunnah-sunnah (ketetapan Allah), maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan.”

Imam Ibn Kathīr dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya hukum-hukum tetap dalam sejarah (sunan ilahiyah), yang harus dipahami dengan ilmu dan perenungan.

Fase Nubuwwah: Fondasi Peradaban

Fase nubuwwah (610–632 M) adalah fase paling fundamental dalam sejarah umat. Pada masa ini, kepemimpinan berada langsung di tangan Rasulullah ﷺ, dengan wahyu sebagai sumber utama hukum dan bimbingan. 

Fokus utama fase ini bukan “ekspansi” kekuasaan, melainkan tarbiyah: aqidah, akhlak, dan masyarakat.

Imam Ibn Kathīr dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah menjelaskan bahwa fase ini adalah مرحلة التأسيس (fase peletakan fondasi), di mana tauhid ditanamkan, syariat diturunkan secara bertahap, dan akhlak dibentuk secara sistematis. 

Hal ini juga selaras dengan pendekatan tadarruj (bertahap) dalam dakwah.

Syaikh Muhammad al-Ghazali menegaskan bahwa rahasia keberhasilan fase ini terletak pada tazkiyah sebelum tamkīn (kekuasaan). Artinya, Rasulullah ﷺ tidak membangun negara sebelum membangun manusia. Dalam perspektif tasawuf, ini menunjukkan pentingnya penyucian hati (tazkiyatun nafs) sebagai basis perubahan sosial.

Secara historis, fase ini juga menunjukkan keseimbangan antara dimensi ruhiyah dan sosial. Di Makkah, fokusnya adalah penguatan aqidah dan kesabaran. Di Madinah, mulai dibangun sistem masyarakat dan pemerintahan, namun tetap berakar pada nilai wahyu.

Jalan Tarbiyah dan Ukhuwah

Fase nubuwwah mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri manusia. Dalam ungkapan para ulama tasawuf:

إصلاح القلوب أصل كل إصلاح

“Perbaikan hati adalah asal dari setiap perbaikan.”

Pelajaran ini menegaskan bahwa kebangkitan umat tidak bisa instan atau semata-mata struktural. Ia harus melalui proses tarbiyah yang sabar, berkelanjutan, dan berorientasi pada pembentukan iman dan akhlak.

Lebih dari itu, fase ini juga menanamkan fondasi ukhuwah dan persatuan umat. Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqh as-Sīrah menjelaskan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Yatsrib—yang kemudian menjadi Madinah—langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid dan mempersaudarakan kaum Muslimin (mu’ākhāh). Ini adalah fondasi الأخوة والوحدة (ukhuwah dan wahdah).

Peristiwa persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar bukan sekadar strategi sosial, tetapi manhaj ilahi dalam membangun peradaban. 

Masyarakat Madinah dibangun di atas ikatan iman, bukan sekadar hubungan darah atau kepentingan duniawi. Inilah model persatuan yang melampaui sekat suku dan kepentingan.

Allah ﷻ berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
(QS. Āli ‘Imrān: 103)

“Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.”

Imam al-Qurṭubī menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dasar kewajiban menjaga persatuan umat dalam aqidah dan manhaj.

Dengan demikian, pelajaran terbesar dari fase nubuwwah adalah: membangun iman sebelum sistem, menata hati sebelum kekuasaan, serta merekatkan ukhuwah sebagai fondasi kebangkitan. 

Dari sinilah lahir peradaban yang kokoh—bukan hanya kuat secara struktur, tetapi juga dalam ruh dan nilai. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.