Memasuki abad kedua perjalanannya, ’Aisyiyah menghadapi lanskap dakwah yang berbeda dibanding masa-masa awal kelahirannya.
Jika dahulu para pendahulu berjuang melawan keterbelakangan pendidikan, budaya patriarki feodal, dan penjajahan kolonial, maka Muslimah hari ini berhadapan dengan tantangan yang lebih kompleks: krisis keluarga, disrupsi digital, ketimpangan ekonomi, perdagangan manusia, hingga kerusakan lingkungan hidup.
Sejarah panjang ’Aisyiyah mengajarkan bahwa setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap tantangan selalu membuka ruang bagi lahirnya amal saleh yang baru.
Selama nilai-nilai Islam tetap menjadi fondasi, perubahan zaman bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk memperluas manfaat bagi umat.
Menjawab Persoalan Umat dengan Perspektif Maqashid Syariah
Islam mengajarkan bahwa kehadiran umat terbaik harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:
﴿كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ﴾
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Menurut Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, predikat “umat terbaik” tidak diberikan karena identitas semata, tetapi karena kesungguhan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Atas dasar itulah, ’Aisyiyah memperluas medan pengabdiannya pada isu-isu kontemporer seperti kekerasan dalam rumah tangga, perlindungan perempuan dan anak, kemiskinan, kesehatan reproduksi, serta perdagangan manusia.
Dalam perspektif maqashid syariah yang dirumuskan Imam Asy-Syathibi, upaya menjaga jiwa (hifzh al-nafs), menjaga keturunan (hifzh al-nasl), dan menjaga martabat manusia merupakan tujuan utama syariat.
Karena itu, pendampingan korban kekerasan, edukasi keluarga sakinah, dan pemberdayaan ekonomi perempuan bukanlah agenda tambahan, melainkan bagian dari pelaksanaan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Menjadi Khalifah Ditengah Krisis Lingkungan
Salah satu tantangan besar abad ke-21 adalah kerusakan lingkungan. Perubahan iklim, pencemaran, dan berkurangnya kualitas sumber daya alam kini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak.
Al-Qur’an mengingatkan:
﴿وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا﴾
“Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A‘raf: 56)
Dalam tafsirnya, Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa larangan merusak bumi mencakup segala bentuk tindakan yang menghilangkan kemaslahatan manusia dan makhluk hidup.
Kesadaran inilah yang mendorong ’Aisyiyah menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari gerakan perempuan berkemajuan. Menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, menghemat energi, dan membangun gaya hidup berkelanjutan merupakan bentuk ibadah sosial yang memiliki nilai spiritual sekaligus manfaat kemanusiaan.
Dakwah Digital dan Spirit Tajdid
Di era media sosial, tantangan dakwah tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Informasi bergerak sangat cepat, namun tidak selalu membawa kebenaran. Di tengah maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan pemahaman agama yang ekstrem, Muslimah memerlukan bekal ilmu yang kuat dan sikap yang bijaksana.
Rasulullah SAW bersabda:
«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً»
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Al-Bukhari)
Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kewajiban menyebarkan ilmu sesuai kapasitas dan pengetahuan yang dimiliki.
Dakwah digital bukan sekadar aktivitas bermedia sosial, tetapi amanah untuk menghadirkan narasi Islam yang mencerahkan, santun, dan menyatukan umat. Semangat inilah yang selama ini diwariskan oleh ’Aisyiyah melalui berbagai media komunikasi dan pendidikan.
Memasuki abad kedua, kekuatan terbesar ’Aisyiyah tetap sama seperti saat pertama kali dirintis oleh Nyai Ahmad Dahlan: keberanian melakukan tajdid tanpa kehilangan akar spiritualitas.
Dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan kepedulian yang tulus kepada umat, para Srikandi Berkemajuan akan terus menjadi bagian penting dari ikhtiar membangun Indonesia yang berkeadaban.
Sebagaimana kaidah yang sering dikutip para ulama:
«الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الْأَصْلَحِ»
“Memelihara nilai lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.”Inilah ruh yang akan menuntun ’Aisyiyah melangkah menuju abad kedua: setia pada nilai, terbuka terhadap perubahan, dan senantiasa menghadirkan rahmat bagi semesta.(im)





