Insyā Allah: Adab Tauhid dalam Merencanakan Masa Depan

by -1256 Views

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ۝ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok,’ kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah.’” (QS. Al-Qur’an Al-Kahfi: 23–24)

Menurut tafsir Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, ayat ini turun ketika kaum Quraisy menguji Nabi Muhammad ﷺ dengan beberapa pertanyaan tentang Ashabul Kahfi, ruh, dan Dzulqarnain. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa beliau akan memberikan jawaban keesokan hari, namun tidak mengucapkan إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

Maka wahyu tertunda beberapa hari. Ini menjadi pelajaran besar: bahkan Rasulullah ﷺ diajarkan langsung oleh Allah tentang adab mengaitkan rencana dengan kehendak-Nya.

Insyā Allah adalah Pendidikan Tauhid

Ucapan إِنْ شَاءَ اللَّهُ bukan sekadar budaya lisan atau formalitas. Ia adalah pengakuan spiritual: manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak itu berada di bawah kehendak Allah.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan kalian tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendakinya.” (QS. Al-Qur’an Al-Insan: 30)

Al-Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat ini mendidik manusia agar tidak merasa independen dari kehendak Allah.

Seseorang boleh membuat target, agenda, dan strategi. Namun ia tidak boleh bersikap seolah masa depan sepenuhnya dalam genggamannya.

Disinilah letak dimensi tauhidnya: insya Allah menundukkan ego manusia di hadapan rububiyyah Allah.

Pelajaran dari Nabi Sulaiman

Dalam hadits shahih, Nabi ﷺ menceritakan kisah Solomon in Islam. Beliau bersabda: Nabi Sulaiman berkata, “Malam ini aku akan mendatangi sekian istriku, dan masing-masing akan melahirkan seorang pejuang di jalan Allah.”

Namun beliau tidak mengucapkan insya Allah.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَدْرَكَ لِحَاجَتِهِ

“Seandainya ia mengucapkan ‘insya Allah’, niscaya ia tidak akan gagal dan akan memperoleh apa yang diinginkannya.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya menyandarkan kehendak kepada Allah, bahkan bagi seorang nabi.

Ini bukan semata lafaz, tetapi ekspresi ubudiyah dan tawadhu’.

Berencana dengan Serius, Bertawakal dengan Jujur

Islam bukan agama anti-perencanaan. Sebaliknya, Islam sangat menghargai ikhtiar. Namun setelah ikhtiar dilakukan, seorang mukmin sadar bahwa hasil akhirnya milik Allah.

Karena itu, mengucapkan insya Allah mengandung tiga adab sekaligus. Pertama, adab tauhid — mengakui kekuasaan Allah atas masa depan. Kedua adab akhlak — tidak sombong dengan kemampuan diri. Dan ketiga, adab spiritual — menjaga hati dari ilusi kontrol total.

Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa di antara penyakit hati adalah merasa cukup dengan sebab-sebab lahiriah dan melupakan Musabbib al-Asbab (Allah sebagai penentu segala sebab).

Karena itu, insya Allah adalah terapi harian terhadap kesombongan halus.

Khatimah

Ucapan إِنْ شَاءَ اللَّهُ tampak sederhana, tetapi mengandung kedalaman tauhid yang besar.

Ia mengajarkan bahwa manusia boleh bermimpi besar, menyusun rencana matang, dan bekerja keras. Namun semua itu tetap berada di bawah kalimat yang menenangkan sekaligus merendahkan ego:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Jika Allah menghendaki.”

Dengan demikian, seorang mukmin tidak hidup pasif, tetapi juga tidak arogan. Ia bergerak dengan ikhtiar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.Dan mungkin inilah salah satu bentuk kebijaksanaan spiritual paling sederhana dalam Islam: merencanakan dengan serius, tetapi tidak pernah lupa siapa pemilik masa depan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.