Mengapa Tafaqquh Fiddien?

by -1549 Views

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Umat Islam pada masa kini hidup ditengah kemajuan teknologi yang luar biasa. Informasi mengalir tanpa batas, pengetahuan tersedia dalam hitungan detik, dan berbagai media telah membuka ruang belajar yang sebelumnya sulit dibayangkan. Semua ini merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri sekaligus amanah yang harus dikelola dengan bijaksana.

Dibalik kemudahan tersebut, kita juga menyaksikan sebuah gejala yang patut direnungkan bersama. Arus informasi yang begitu deras tidak selalu diiringi dengan semakin dalamnya pemahaman terhadap agama. 

Pengetahuan hadir dalam bentuk potongan-potongan singkat, sementara kesempatan untuk mengkaji, merenungi, dan mendalami ajaran Islam secara utuh semakin berkurang. Karena itu, buku kecil ini lahir bukan untuk menyalahkan perkembangan zaman, melainkan untuk mengajak kita semua kembali menghidupkan tradisi ilmu yang sejak dahulu menjadi kekuatan utama peradaban Islam.

Krisis Literasi Umat

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kebangkitan umat selalu diawali oleh kebangkitan ilmu. Wahyu pertama yang diterima Rasulullah ﷺ dimulai dengan perintah membaca. Sejak saat itu lahirlah generasi yang menjadikan belajar sebagai ibadah, membaca sebagai kebiasaan, berdiskusi sebagai tradisi, dan menulis sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Hari ini semangat tersebut tetap hidup di banyak tempat, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa budaya literasi menghadapi tantangan yang semakin besar. Kesibukan kehidupan modern sering kali menyita waktu untuk membaca kitab-kitab yang mendalam, menghadiri majelis ilmu secara rutin, atau menelaah karya-karya para ulama. 

Akibatnya, tidak sedikit kaum Muslimin yang memiliki akses kepada banyak informasi, namun belum memiliki kesempatan untuk melakukan tafaqquh fiddin secara memadai.

Padahal para ulama menjelaskan bahwa ilmu yang dikehendaki syariat bukanlah sekadar mengetahui banyak hal. Imam Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri dalam Aysar al-Tafāsīr menerangkan bahwa tafaqquh fiddin adalah memahami agama secara mendalam sehingga seorang mukmin mampu mengenal hukum-hukum Allah beserta hikmah-hikmahnya, lalu mengamalkannya dalam kehidupan.

Ketika Budaya Scrolling Menggeser Budaya Membaca

Teknologi digital pada hakikatnya merupakan sarana yang netral. Ia dapat menjadi jalan menuju ilmu, namun juga dapat membuat seseorang merasa cukup dengan pengetahuan yang sangat dangkal. 

Budaya scrolling yang serba cepat perlahan membentuk kebiasaan menikmati informasi dalam hitungan detik. Sementara itu, proses membaca secara mendalam, menghadiri halaqah, berdialog dengan guru, mencatat pelajaran, dan menulis hasil perenungan membutuhkan kesabaran serta ketekunan.

Para ulama tasawuf sejak dahulu mengingatkan bahwa ilmu bukan sekadar berpindah dari lembaran buku ke dalam pikiran, melainkan cahaya yang Allah tanamkan ke dalam hati yang bersih. 

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan mendorong seseorang semakin dekat kepada-Nya. Oleh karena itu, kemajuan teknologi hendaknya menjadi wasilah untuk memperluas manfaat ilmu, bukan menggantikan proses pembentukan adab dan kedalaman pemahaman.

Dakwah Memerlukan Kedalaman Ilmu

Alhamdulillah, semangat dakwah di tengah umat terus tumbuh. Majelis taklim berkembang, lembaga pendidikan Islam semakin banyak, dan media digital membuka peluang dakwah yang sangat luas. Semua ini merupakan karunia Allah yang patut disyukuri.

Namun, dakwah yang kokoh tidak hanya membutuhkan keluasan jangkauan, tetapi juga kedalaman fondasi. Aktivitas yang padat perlu terus disertai dengan proses belajar yang berkesinambungan. Gerakan dakwah memerlukan para dai, murabbi, guru, penulis, peneliti, dan penuntut ilmu yang senantiasa memperbarui hubungan mereka dengan Al-Qur’an, Sunnah, serta khazanah para ulama. 

Dengan demikian, semangat bergerak selalu berjalan seiring dengan kejernihan ilmu dan keluasan hikmah, sehingga dakwah menjadi perekat ukhuwah dan pembangun peradaban, bukan sekadar respons terhadap dinamika sesaat.

Mengapa Surat At-Taubah Ayat 122?

Diantara sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang ilmu, penulis memilih Surat At-Taubah ayat 122 sebagai poros pembahasan buku ini. 

Para mufasir, seperti Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Tafsīr al-Munīr dan Sa’id Hawwa dalam Al-Asās fi al-Tafsīr, menjelaskan bahwa ayat ini mengandung prinsip agung tentang pentingnya kaderisasi ilmu, pembagian peran dalam umat, serta kesinambungan dakwah melalui proses tafaqquh fiddin

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga menghadirkan prinsip-prinsip yang relevan bagi pembangunan umat di setiap zaman.

Buku ini tidak dimaksudkan sebagai kitab tafsir yang mengulas seluruh rincian ayat tersebut. Sebaliknya, buku ini merupakan sebuah tadabbur yang berusaha menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an ke dalam realitas kehidupan umat Islam masa kini, khususnya bagi para aktivis dakwah, pendidik, mahasiswa, dan seluruh kaum Muslimin yang ingin menjadikan ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mengabdi kepada umat.

Semoga setiap halaman dalam buku kecil ini menjadi ajakan untuk kembali mencintai majelis ilmu, membangun kebiasaan membaca, menghormati para guru, menghidupkan tradisi menulis, serta menjadikan tafaqquh fiddin sebagai ruh dalam dakwah dan kehidupan. 

Hanya dengan ilmu yang benar, hati akan memperoleh cahaya; hanya dengan ilmu yang diamalkan, amal akan memperoleh arah; dan hanya dengan ilmu yang diwariskan, sebuah peradaban akan terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.