Al-Qasam: Sumpah Setia di Hadapan Allah

by -1571 Views

Jika Al-Iqrār adalah pernyataan jujur seorang mukmin tentang apa yang diyakininya, maka Al-Qasam adalah penegasan tentang kesediaannya menanggung segala konsekuensi dari keyakinan tersebut. 

Disinilah syahadat tidak lagi sekadar menjadi ucapan lisan atau pengakuan intelektual, melainkan berubah menjadi sumpah setia yang mengikat hati seorang hamba kepada Rabb-nya.

Banyak orang mampu mengucapkan kalimat tauhid, tetapi tidak semua siap menanggung tuntutan tauhid. 

Para ulama menjelaskan bahwa setiap ucapan Asyhadu sesungguhnya mengandung makna kesaksian yang disertai komitmen, pengorbanan, dan kesetiaan yang tidak boleh berubah oleh keadaan.

Hakikat Sumpah dalam Syahadat

Dr. Irwan Prayitno dalam Kepribadian Muslim menjelaskan bahwa Al-Qasam adalah pernyataan kesediaan menerima segala risiko dalam mengamalkan syahadat. 

Dengan kata lain, seorang Muslim yang bersyahadat sesungguhnya sedang menyatakan kepada Allah bahwa dirinya siap hidup dan mati di bawah tuntunan kalimat tauhid.

Makna ini sejalan dengan firman Allah SWT:

﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ﴾

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)

Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghaib, ayat ini menggambarkan adanya akad agung antara Allah dan hamba-Nya. Seorang mukmin menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan Allah menjanjikan keridhaan dan surga-Nya. Inilah hakikat sumpah yang terkandung dalam syahadat.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Tarbiyatunā ar-Rūḥiyyah menjelaskan bahwa tauhid yang benar akan melahirkan kesiapan berkorban. Sebab orang yang mengenal Allah dengan benar tidak lagi menjadikan kenyamanan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Ia memahami bahwa dirinya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Ujian Kesetiaan dan Kejujuran Ruhani

Dalam perjalanan menuju Allah, setiap sumpah akan diuji. Karena itu Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak bermain-main dengan janji kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ﴾

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 23)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini memuji mereka yang tetap teguh memegang perjanjian iman meskipun harus menghadapi penderitaan dan pengorbanan yang berat.

Dalam dunia tasawuf, kesetiaan terhadap janji kepada Allah disebut sebagai ṣidq (kejujuran spiritual). Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menerangkan bahwa salah satu derajat tertinggi orang-orang yang berjalan menuju Allah adalah mereka yang tidak berubah ketika diuji. Mereka tetap taat saat lapang maupun sempit, tetap bersyukur saat diberi nikmat, dan tetap sabar ketika ditimpa musibah.

Karena itulah para sahabat mampu mempertahankan keimanan mereka dalam kondisi yang sangat berat. Bilal bin Rabah RA disiksa di padang pasir, keluarga Yasir mengalami penderitaan yang luar biasa, dan banyak sahabat kehilangan harta maupun kedudukan. Namun mereka tidak menarik kembali sumpah yang telah mereka ikrarkan kepada Allah.

Sumpah syahadat telah menjadikan hati mereka lebih kuat daripada rasa takut kepada manusia.

Jalan Menuju Al-Mītsāq

Bagi seorang mukmin, Al-Qasam bukanlah beban yang menakutkan, melainkan kehormatan yang memuliakan. Ketika seorang hamba bersumpah setia kepada Allah, sesungguhnya Allah sedang mengangkat derajatnya dari sekadar makhluk menjadi kekasih yang dipercaya untuk memikul amanah risalah.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskan bahwa iman yang hidup selalu melahirkan iltizam (komitmen) dan istiqamah. Sebab cinta kepada Allah yang benar tidak mungkin berhenti pada pengakuan semata.

Oleh karena itu, Al-Qasam merupakan jembatan antara keyakinan dan pengamalan. Namun sumpah setia ini masih memerlukan bentuk yang lebih kokoh dan lebih mengikat. 

Setelah seorang mukmin menyatakan keimanannya melalui Al-Iqrār dan meneguhkannya melalui Al-Qasam, ia akan memasuki dimensi yang lebih dalam lagi, yaitu Al-Mītsāq—perjanjian agung antara hamba dan Rabb-nya yang menjadi landasan seluruh perjalanan menuju ridha Allah SWT. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.