Pelajaran Membedakan Tsawabit yang Tetap dengan Mutaghiyyirat yang Fleksibel

by -1321 Views

Perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu momentum paling menentukan dalam sejarah dakwah Rasulullah ﷺ. Pada tahun ke-6 hijriah, kaum Muslimin datang ke Makkah dengan pakaian ihram dan membawa hewan kurban sebagai tanda bahwa mereka tidak berniat berperang. 

Namun, Quraisy tetap menghalangi mereka memasuki kota. Di tengah situasi tegang itulah berlangsung negosiasi yang tampaknya “merugikan” kaum Muslimin, tetapi justru menjadi pintu kemenangan besar di masa depan.

Jika pada pembahasan sebelumnya kita melihat kecerdasan diplomasi Rasulullah ﷺ dalam membaca karakter lawan, maka pada kajian ini kita akan menyelami sisi lain yang lebih dalam: bagaimana Nabi ﷺ membedakan antara prinsip yang tidak boleh digadaikan dan formalitas yang dapat disesuaikan demi maslahat dakwah yang lebih luas.

Keteguhan Aqidah, Keluwesan dalam Teknis

Ketika proses penulisan perjanjian dimulai, Rasulullah ﷺ memerintahkan Sayyidina Ali ra. menulis kalimat:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Namun Suhail bin Amr, wakil Quraisy, menolak redaksi tersebut dan berkata:

أَمَّا الرَّحْمَنُ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا هُوَ، وَلَكِنِ اكْتُبْ: بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ

“Tentang ar-Rahman, demi Allah aku tidak mengenalnya. Tulislah: Bismikallahumma.”

Dalam Fiqhus Sirah, Muhammad al-Ghazali menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ menerima perubahan redaksi itu demi menjaga jalannya perundingan. Beliau memahami bahwa penyebutan nama Allah dengan redaksi berbeda tidak mengubah hakikat tauhid yang beliau perjuangkan.

Di sinilah tampak kedalaman fiqih dakwah Rasulullah ﷺ. Prinsip keimanan tetap kokoh, tetapi bentuk penyampaiannya memiliki ruang keluwesan.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fushshilat: 34)

Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung prinsip memilih cara yang paling maslahat dalam menghadapi konflik sosial dan dakwah.

Mengalah dalam Simbol, Menang dalam Visi

Ujian berikutnya lebih berat secara emosional. Ketika Rasulullah ﷺ meminta ditulis:

هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

Suhail kembali menolak dan berkata:

لَوْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا صَدَدْنَاكَ عَنِ الْبَيْتِ

“Seandainya kami mengakui engkau Rasul Allah, tentu kami tidak akan menghalangimu dari Baitullah.”

Akhirnya Rasulullah ﷺ meminta agar tulisan itu diganti menjadi:

مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ

Sebagian sahabat merasa sangat berat menerima hal tersebut. Sayyidina Umar bin Khaththab ra. bahkan diliputi kegelisahan. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ menenangkan mereka dengan keyakinan penuh:

إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللَّهُ أَبَدًا

“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah, dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakanku.”

Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menjelaskan dalam Fiqhus Sirah an-Nabawiyah bahwa Rasulullah ﷺ sedang mendidik para sahabat agar tidak terjebak pada simbol formal semata, tetapi memahami tujuan strategis yang lebih besar.

Secara zahir tampak seperti “mengalah”, namun secara hakikat justru merupakan kemenangan visi. Perdamaian Hudaibiyah membuka ruang interaksi luas antara Muslim dan Quraisy. Dalam masa damai itulah dakwah berkembang pesat dan manusia mulai melihat Islam tanpa prasangka peperangan.

Dakwah Memerlukan Hikmah dan Keluasan Jiwa

Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa salah satu penyakit gerakan dakwah adalah ketidakmampuan membedakan antara tsawabit (prinsip tetap) dan mutaghayyirat (hal-hal teknis yang dapat berubah). 

Rasulullah ﷺ di Hudaibiyah mengajarkan bahwa menjaga substansi jauh lebih penting daripada mempertahankan formalitas yang tidak esensial.

Demikian pula Said Hawwa menekankan bahwa hikmah dakwah memerlukan keluasan dada dan kemampuan menahan ego demi maslahat umat yang lebih besar.

Hudaibiyah akhirnya mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan sejati tidak selalu lahir dari sikap keras. Kadang, kemenangan justru datang melalui kesabaran, kelapangan jiwa, dan keberanian menunda kemenangan kecil demi kemenangan peradaban yang jauh lebih besar. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.