At-Tashdīq – Keyakinan Tanpa Syak (Keraguan)

by -1671 Views

Setelah lisan mengucapkan syahadah melalui Al-Qaul, maka perjalanan iman belumlah selesai. Kalimat Lā Ilāha Illallāh yang keluar dari mulut harus turun menembus kedalaman hati hingga berubah menjadi keyakinan yang kokoh. Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai At-Tashdīq, yaitu pembenaran hati yang sempurna terhadap seluruh berita, perintah, dan ketetapan Allah SWT serta Rasul-Nya ﷺ.

At-Tashdīq merupakan inti terdalam dari syahadah. Jika Al-Qaul adalah deklarasi lahiriah, maka At-Tashdīq adalah kesaksian batiniah. Hati menjadi saksi pertama atas keesaan Allah sebelum lisan menyatakannya kepada manusia.

Allah SWT berfirman:

﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurāt: 15)

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb menjelaskan bahwa frasa ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا menunjukkan kesempurnaan iman yang bebas dari keraguan dan kegoncangan. Keimanan yang benar tidak dibangun di atas prasangka, melainkan di atas keyakinan yang mantap (yaqīn).

Karena itu, para ulama menyebut keraguan sebagai penyakit yang dapat menggerogoti akar keimanan. Sebaliknya, tashdīq yang benar akan menghadirkan ketenangan jiwa karena hati telah menemukan sandaran yang tidak mungkin berubah dan tidak mungkin mengecewakan.

Yaqin: Buah Tertinggi dari Tashdīq

Imam al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menerangkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan keyakinan, dan keyakinan akan melahirkan ketenangan hati. Oleh sebab itu, tashdīq bukan sekadar menerima kebenaran secara intelektual, tetapi menghadirkan kebenaran itu sebagai realitas hidup dalam kesadaran seorang hamba.

Allah SWT berfirman:

﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Menurut Imam al-Qurthubi, ketenteraman dalam ayat ini lahir karena hati telah mencapai keyakinan terhadap janji dan kekuasaan Allah. Keraguan melahirkan kegelisahan, sedangkan keyakinan melahirkan ketenangan.

Sayyid Quthb dalam Fī Zhilāl al-Qur’ān menggambarkan iman sebagai pembenaran yang tenang, tidak goncang oleh perubahan zaman dan tidak terombang-ambing oleh tekanan kehidupan. Inilah yang membuat seorang mukmin mampu tetap teguh ketika menghadapi ujian, fitnah, maupun kesulitan dakwah.

Sementara syaikh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa ketika iman memasuki akal, ia memberikan kepuasan intelektual; ketika memasuki hati, ia melahirkan ketenteraman; dan ketika memasuki kehendak, ia menggerakkan manusia menuju amal dan pengorbanan. Dengan demikian, tashdīq yang benar tidak membuat seseorang pasif, melainkan menjadi sumber energi perubahan.

Kepasrahan Hati dan Manisnya Iman

Puncak At-Tashdīq adalah ketika seorang hamba tidak lagi mempertentangkan ketentuan Allah dengan hawa nafsunya. Ia menerima syariat dengan lapang dada karena meyakini bahwa seluruh hukum Allah mengandung hikmah dan rahmat.

Allah SWT berfirman:

﴿ فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap keputusanmu dan mereka menerimanya dengan sepenuh penerimaan.” (QS. An-Nisā’: 65)

Imam an-Nasafi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman menuntut tiga hal: menerima keputusan Rasulullah ﷺ, tidak menyimpan keberatan dalam hati, dan berserah diri secara total kepada kebenaran.

Keadaan ini disebut ar-ridhā (kerelaan) dan at-taslīm (kepasrahan). Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menyebutnya sebagai salah satu maqam tertinggi para pencari jalan menuju Allah. Ketika seorang hamba telah mencapai maqam ini, syahadah tidak lagi sekadar ucapan atau pengetahuan, melainkan menjadi cahaya yang menerangi seluruh kehidupannya.

Dengan demikian, At-Tashdīq mengubah kalimat tauhid dari sekadar suara menjadi keyakinan, dari sekadar pengetahuan menjadi ketenteraman, dan dari sekadar pengakuan menjadi kepasrahan total kepada Allah SWT. 

Keyakinan yang hidup tidak akan tinggal diam di dalam hati. Ia akan menuntut pembuktian dalam kehidupan nyata. Karena itu, pembahasan berikutnya akan mengantarkan kita kepada manifestasi ketiga dari iman, yaitu Al-‘Amal, pembuktian syahadah melalui gerak anggota badan dan kontribusi nyata dalam kehidupan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.