Al-Istiqāmah – Rahasia Keteguhan Pendirian

by -1618 Views

Setelah seorang mukmin mengikrarkan syahadah dengan lisannya, membenarkannya dengan hatinya, dan membuktikannya melalui amal saleh, maka tantangan berikutnya adalah menjaga seluruh komitmen tersebut agar tetap hidup sepanjang hayat. 

Disinilah letak makna agung Al-Istiqāmah, salah satu buah terindah dari Madlūl asy-Syahādah.

Secara bahasa, istiqamah berarti lurus, teguh, dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Dalam istilah para ulama, istiqamah adalah konsistensi seorang hamba dalam meniti jalan Allah tanpa tergoda untuk berpaling ke jalan lain. 

Musthafa Masyhur menjelaskan bahwa istiqamah merupakan komitmen yang terus-menerus untuk menjadikan Allah sebagai rujukan dalam seluruh aktivitas kehidupan.

Allah SWT berfirman:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan hubungan yang tidak terpisahkan antara tauhid dan istiqamah. Ucapan Rabbunallāh adalah deklarasi syahadah, sedangkan istiqamah adalah bukti bahwa deklarasi tersebut benar-benar hidup dalam jiwa seseorang.

Dalam perspektif tasawuf, istiqamah bukan sekadar kemampuan bertahan dalam ibadah, melainkan kemampuan menjaga arah hati agar senantiasa tertuju kepada Allah. 

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn bahwa hati manusia selalu berada dalam pergulatan antara panggilan ruh dan godaan hawa nafsu. Istiqamah adalah kemenangan ruh secara terus-menerus dalam pergulatan tersebut.

Ujian: Madrasah Pembentuk Keteguhan

Tidak ada istiqamah tanpa ujian. Sebagaimana pohon tidak akan memperdalam akarnya kecuali ketika diterpa angin, demikian pula seorang mukmin tidak akan mencapai keteguhan tanpa melewati berbagai bentuk mihnah dan cobaan.

Allah SWT berfirman:

﴿ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴾

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabūt: 2)

Menurut Imam al-Qurthubi, ayat ini menjelaskan bahwa ujian merupakan sunnatullah untuk membedakan antara pengakuan yang jujur dan pengakuan yang sekadar di lisan. Oleh sebab itu, kesulitan bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan sarana pendidikan ruhani bagi orang-orang beriman.

Hasan al-Banna menjadikan ats-tsabāt (keteguhan) sebagai salah satu rukun penting dalam baiat. Beliau berkata:

« أُرِيدُ بِالثَّبَاتِ أَنْ يَبْقَى الْأَخُ مُجَاهِدًا فِي سَبِيلِ غَايَتِهِ مَهْمَا بَعُدَ الْمَدَى وَطَالَ الْأَمَدُ »

“Yang saya maksud dengan keteguhan adalah bahwa seorang akh tetap menjadi mujahid dalam mencapai tujuannya, betapapun panjang perjalanan dan lamanya masa yang harus ditempuh.”

Keteguhan seperti inilah yang lahir dari syahadah yang telah meresap ke dalam hati. Ketika seseorang benar-benar meyakini bahwa Allah adalah tujuan hidupnya, maka perubahan keadaan tidak akan mengubah arah perjalanannya.

Istiqamah: Karamah Terbesar Seorang Hamba

Para ulama tasawuf sering menegaskan bahwa karamah terbesar bukanlah kemampuan melakukan hal-hal luar biasa, melainkan kemampuan tetap taat kepada Allah dalam keadaan biasa. 

Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi berkata:

« الْاِسْتِقَامَةُ فَوْقَ الْكَرَامَةِ »

“Istiqamah lebih tinggi daripada karamah.”

Maksudnya, seseorang mungkin mampu melakukan sesuatu yang mengagumkan, tetapi kemuliaan yang sesungguhnya adalah menjaga keikhlasan, ibadah, akhlak, dan pengabdian kepada Allah secara berkesinambungan.

Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa istiqamah adalah berjalan lurus di atas jalan Allah tanpa berbelok ke kanan karena syahwat dan tanpa menyimpang ke kiri karena syubhat. Inilah keseimbangan yang menjadi ciri Ahlus Sunnah: teguh dalam prinsip namun tetap penuh rahmat dalam bermuamalah.

Istiqamah adalah bukti bahwa janji yang diucapkan dalam kalimat Lā Ilāha Illallāh benar-benar dijaga hingga akhir hayat. Ia merupakan ukuran kejujuran seorang hamba di hadapan Allah. Sebab bukan semangat sesaat yang menentukan nilai perjalanan seorang mukmin, melainkan kemampuan untuk terus berjalan meskipun langkahnya perlahan.

Dari akar istiqamah inilah akan tumbuh karakter-karakter agung lainnya. Ketika hati telah teguh bersama Allah, maka lahirlah keberanian untuk membela kebenaran tanpa rasa takut kepada makhluk. 

Karena itu, pembahasan berikutnya akan mengantarkan kita kepada buah kedua dari syahadah yang hidup, yaitu Ash-Shajā‘ah, keberanian yang lahir dari tauhid dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.